5 Rekomendasi Wisata Bandar Lampung

Jujur, sebelumnya tidak pernah terpikir akan mempromosikan Lampung. Buta pengetahuan tentang daerah ini. Sekarang, saya bisa bilang, pantai di Lampung bagus-bagus, pun banyak lokasi wisata atau tempat nongkrong yang bisa direkomendasikan.

Berikut adalah rekomendasi saya untuk wisata Bandar Lampung, setelah sempat jalan-jalan ke sana selama 2 hari, tanggal 9-11 November 2015 lalu atas undangan Kemenpar & Indonesia Travel, bersama teman-teman media, blogger, videografer, fotografer, dan instagrammer.

Monumen Taman Dipangga
Salah satu peristiwa bersejarah yang bukan hanya berpengaruh di Indonesia, tetapi juga dunia, adalah letusan gunung Krakatau. Letusan gunung Krakatau bisa dibilang bencana terbesar dalam sejarah manusia modern. Selain menewaskan 36.000 jiwa, bunyi letusan terdengar hingga 4.600 km, bahkan katanya efek abu terasa hingga Eropa dan Amerika.

Nah, Lampung memiliki monumen peringatan sejarah kelamnya. Monumen yang menyatu dengan sebuah taman yang disebut taman Dipangga dan terletak di Jalan WR. Supratman ini ditandai dengan sebuah rambu laut seberat 250 kilogram dengan tinggi 40 meter. Dari bentuk monumen dan tamannya memang sederhana banget hingga kita tak menyangka cerita bersejarah di baliknya.

Ya, monumen ini merupakan peringatan bencana tsunami sebagai imbas meletusnya gunung krakatau pada 1883. Letusan Krakatau menyebabkan gelombang tsunami setinggi 30 meter. Lokasi monumen inilah tempat terseretnya rambu laut oleh ombak tsunami akibat dahsyatnya letusan tadi. Relief di badan monumen menggambarkan aktivitas masyarakat sebelum dan setelah letusan gunung Krakatau.


Vihara Thai Hin Bio

Vihara Thai Hin Bio adalah vihara saksi sejarah peradaban bangsa Tionghoa di Teluk Betung, karena vihara ini merupakan yang tertua di Lampung. Vihara Thay Hin Bio dibuat pada tahun 1850. Vihara ini awalnya diberi nama Kuan Im Thing atau persinggahan Dewi Kuan Im.

Halaman depan vihara ditandai dengan keberadaan gapura, tiang pagoda untuk membakar kertas, dan sepasang patung singa. Gapura didominasi warna kuning dan merah.

Kanan kiri pintu gapura bagian dalam, terdapat kaligrafi cina dan swastika di dalam bunga teratai. Kaligrafi dimaksudkan untuk mendatangkan energi positif. Sementara itu, swastika dan bunga teratai melambangkan agama Buddha yang suci. Tepat di kiri dan kanan pintu masuk vihara terdapat sepasang patung singa, lambang kewibawaan.


Saat memasuki gapura, kami sempat ragu apakah boleh masuk ke dalamnya untuk mengabadikan foto, karena bagaimanapun juga vihara adalah tempat ibadah, tetapi ternyata penjaga memperbolehkan kami. Ternyata vihara ini menerima dengan tangan terbuka, bebas dikunjungi wisatawan asal tidak mengganggu ibadah tentu :)


Tidak jauh dari vihara yang berlokasi di Jalan Ikan Kakap, Teluk Betung, Bandar Lampung, ini terdapat masjid Al Anwar, masjid yang diklaim sebagai masjid tertua di Lampung. Letak vihara yang berdekatan dengan masjid tentunya menunjukkan adanya toleransi beragama. Di sekitar vihara juga terdapat banyak toko oleh-oleh khas Lampung, sehingga bisa menjadi alternatif wisata.

Ada rumah tawon di gerbangnya :)

Kulineran khas Lampung, RM Cik Wo


Kalau mau kulineran khas Lampung, datang saja ke Cik wo Resto di Jalan Sekala Brak, Pakis Kawat, Bandar Lampung. Rumah makan sederhana, yang cukup nyaman buat nongkrong, bisa memilih di dalam ruangan atau bersantai di pekarangannya. Bu Isna Adianti membuka Cikwo Februari 2015 lalu, dengan misi memudahkan wisatawan mencari kuliner khas Lampung yang mulai terpinggirkan.
Berikut beberapa makanan dan minuman khas yang sempat saya cicip di Cik Wo…


Ini namanya Pandap, ikan yang dibungkus daun talas muda dan dikukus, seperti buntil tapi lebih padat, enak, jadi bisa dimakan layaknya cemilan.


Taboh Iwa Tapa Semalam, Ikan yang diasapi semalaman dan digulai.


Cubik Kemas, ikan mas yang dibakar dan makannya disiram sambal. Enak, tapi hati-hati durinya. Aluus..tau-tau jleb!


Untuk menemani makan makanan khas Lampung, tambahkan aneka lalapan di RM Cik Wo. Isinya daun-daunan, petai, jengkol, adas pulowaras. Nah yang hitam itu namanya julang-jaling, aromanya lebih kuat dari jengkol, dan rasa asamnya lama di mulut.
Tertantang? :)

Kopi Jeli merupakan salah satu minuman khas Lampung. Bedanya, sebelum disajikan, kopi yang menggunakan biji asli robusta ini diproses menjadi jeli terlebih dahulu dan dipotong dadu, dicampur dengan susu. Penyajiannya lengkap dengan es batu.

Kopi Jeli sangat spesial karena jarang ditemukan, kecuali bila ada pesta keluarga.


Kain Tapis Lampung

Kurang afdol rasanya kalau trip ke daerah yang memiliki kain khas, tetapi kita hanya kulineran. Apalagi buat cewek. Nah, Lampung memiliki kain tapis.
Kain tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam.

Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin.
Kalau mau beli oleh-oleh kain tradisional, bisa mampir ke “Putra Indonesia”, di Jalan S. Parman, toko ini termasuk yang paling lengkap koleksi kain tapis-nya, baik motif siger atau gajah, mulai dari harga Rp 150.000,- hingga jutaan rupiah, bergantung pada bahan kain, benang, dan proses pembuatannya.


El’s Coffee Café


Ada tongkrongan ngopi keren yang sempat kami kunjungi, namanya El’s Coffee Café, Jl. MS Batubara 134A, Teluk Betung, Lampung. Selain interior yang cozy dan bikin nyaman, begitu kita masuk, kita sudah disuguhi aroma biji kopi yang segar.


Pic by Griska

Ternyata ada mesin roaster berukuran besar di sebelah kiri pintu masuk. Menurut pemilik El’s Coffee Café, Elkana Arlen Riswal, konsep ini memang bertujuan supaya pengunjung bisa melihat langsung dari pengolahan biji kopi, hingga peracikan dan penyajiannya :)


Sementara di sebelah kanan pintu masuk, berjejer toples-toples besar berisi biji kopi Robusta dan Arabica dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Jawa, Flores, Toraja, Aceh Gayo, Kintamani, Wamena Papua, atau Lampung sendiri. Biji kopi ini bisa dibeli dengan harga variatif tetapi tetap terjangkau. Dari Rp 12.000,- per 100gr untuk kopi Lampung, contohnya.


O ya, barista di sini bisa melukis wajah kamu atau nama kamu di atas krim kopi, loh, sesuai pesanan. Anyway, kalau ke sana, salam buat bang David ya. Hehe :)

Cafe ini benar-benar memperhatikan kenyamanan pelanggan. Bukan hanya cozy interior yang berbeda di setiap ruangan yang lengkap dengan sofa, tetapi di sini juga dilengkapi permainan, seperti electronic dart machines.


Bukan hanya kopi saja yang disuguhkan di sini, loh, ada juga pilihan hidangan seperti Spaghetti Ikan Asin dan Italian Marinated BBQ Chicken.

Racikan dari chef Tia ini memang juara! Selain ayamnya yang empuk, bumbunya juga pas banget! Bikin nagih. Recommended!

Sayang perjalanan ke Lampung hanya 2 hari saja, jadi belum banyak eksplore. Tapi dari perjalanan ke 7 propinsi di Indonesia ini memberi pelajaran, bahwa keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia.
O ya, tentang pantai-pantai indah di Lampung, ikuti artikel berikutnya ya :)
Untuk melihat foto-foto lainnya, bisa track hashtag #PesonaIndonesia #SaptaNusantara di twitter, Instagram, atau facebook :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *