JFW, Perancang Muda Mengapresiasi Kekayaan Budaya

Para perancang muda Indonesia telah mampu mengapreasi kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai.  Itulah yang tampak pada hasil rancangan 10 finalis Lomba Perancang Mode (LPM) Femina Group 2009.

Berbagai jenis kain Indonesia terbukti sangat luwes mengikuti jaman dan dapat dikreasikan menjadi berbagai busana masa kini yang modern dan berkelas. Dari tangan-tangan kesepuluh finalis yang rata-rata berusia awal 20-an, kain tradisional Indonesia menjelma menjadi karya desain yang kontemporer yang chic & stylish, tanpa mengurangi keindahan kain itu sendiri. Dengan menonjolkan keindahan siluet, desain inovatif ataupun permainan warna, kreativitas tak ada batasnya.

Pada tanggal 19 November 2009, hasil karya 10 finalis dinilai dan diperagakan untuk pengunjung Jakarta Fashion Week 09/10 di Fashion tent, Mall Pacific Place, Jakarta. Dewan juri yang terdiri dari : Sebastian Gunawan (desainer), Taruna K Kusmayadi (desainer), Ninuk Mardiana Pambudy (wartawan senior mode), Timur Anging (fotografer), Agni Pratista (artis & model), dan Petty S Fatimah (Pemimpin Redaksi Femina), akhirnya memilih Vinora Ng (20 tahun) sebagai Juara pertama, Kursien Karzai (29 tahun) sebagai runner up, dan Bethania Agustha Tamsir (19 tahun) sebagai juara ke-3 sekaligus juara favorit. Bethania

Mereka terpilih karena mampu mengapresiasikan kain tradisional menjadi tampak sangat modern. Bethania misalnya, ia menggabungkan kain sarung dengan jeans membentuk busana yang modern dan berjiwa muda. Kursien Karzai mengekplorasi kain lurik bayat, menjadi lebih variatif dengan ornamen aksesoris bernuansa etnis dan terlihat sangat elegan.

Sementara sang Juara, Vinora Ng, mengolah kain tenun bentenan asal Sulawesi Utara menjadi gaun simpel dan chic. Rancangannya yang simple itu justru mengantarkannya menjadi juara dan mendapatkan beasiswa di The Fashion Institute of Design & Merchandising di Los Angeles, Amerika Serikat dan uang tunai US $ 3000. Seperti kata Agni Pratista, mereka terpilih karena rancangan yang enak dipakai dan bisa dijadikan ‘uang’, artinya untuk apa merancang gaun yang rumit bila tidak mudah dikenakan atau tidak sesuai market.

11 thoughts on “JFW, Perancang Muda Mengapresiasi Kekayaan Budaya

  1. Saya kagum dengan kreasi anak bangsa ini. :) Pada banyak dimensi kehidupan, bangsa ini perlu kreatifitas dan percaya diri yang kuat dengan dilandasi nilai kultur bangsa yang luhur. Untuk merancang kembali kebangkitan bangsa ini menjadi bangsa bermarwah di mata dunia. Semoga kreasi anak2 bangsa ini bisa menjadi contoh dan inspirasi banyak orang. :)

    PS: Saya nggak perlu mengucapkan salam kenal lagi Mbak Leonita. Saya salah satu teman anda di Facebook :)

  2. Selamat kepada semua pemenang, Saya salut atas kreatifitasnya yang sungguh menakjubkan dan membanggakan. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kaum muda Indonesia untuk terus berkarya dan berusaha.

  3. Tanya kenapa tidak ada designer muda Indonesia yg mendesign baju pakaian daerah? kebanyakan design modern. Foto yg ditengah, gadis pakai rok model eropa scotlandia ?

    • pakaian daerah ga perlu didesain..karena bentuknya sdh paten, yg bisa didesain mungkin kainnya dibentuk utk baju modern..
      itu maksud dari lombanya..
      itu bkn rok scotland sis..tapi bahannya dari sarung, dan inti dari lombanya, yaitu bagaimana kain Indonesia bisa dibentuk menjadi baju modern yang punya nilai jual. kalau bentuknya baju daerah kan susah dipake sehari2
      thank u Adelin ^__^

  4. wuih hadiahnya beasiswa plus US $ 3000! tapi kalo kata agni pratista, mereka menang karena bajunya enak dipake, gw ragu yah.. baju dan sepatunya sih keren2! tapi dengan sepatu setinggi 10 cm, ga keram ya makenya? hehe :D

Leave a Reply to Adelin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *