Ada Cinta di Ranu Kumbolo, Semeru

FB_IMG_1501985586379

Seandainya Tuhan tidak menggagalkan, mungkin kita tak pernah saling menemukan :)

Saya percaya, Tuhan menggagalkan rencana awal, karena Dia persiapkan rencana yang lebih baik dan lebih indah untuk kita :)

Ya, itu hikmah yang bisa saya ambil saat digagalkan nge-trip ke Bromo & Semeru, tanggal 24 & 25 Mei 2014 lalu, seperti rencana awal. Dua minggu sebelumnya tiba-tiba editor mengabarkan bahwa saya harus talkshow sekaligus soft launch novel pertama saya, ‘Destiny’, pada tanggal 24 Mei 2014. Otomatis saya harus membatalkan perjalanan saya dan kehilangan uang trip yang sudah dibayarkan. Anehnya, saya ikhlas aja, sih…mungkin karena impian terbitkan novel akhirnya tercapai :)

20170806_104353

Tapi bagaimanapun, saya masih penasaran banget sama Ranu Kumbolo! Iya, gara-gara film 5cm itu.😐

Entah, seperti jodoh, saya lihat tweet teman yang mengajak trip ke Ranu Kumbolo. Jadi, donk! Berangkat lah ke Semeru pada tanggal 30 Mei 2014.

Saya rasa, Tuhan sudah menenun jadwal perjalanan hidup saya ini sedemikian rupa, di saat saya sudah siap terbang.

Pertama, saat nge-trip ke Semeru, saya sudah terbitkan novel, sudah mendapat predikat baru, novelis, euy.😉

20170806_104335

Ke-2, saya mendapat kabar dari mas-mas penduduk lokal, bahwa ternyata minggu sebelumnya (24 & 25 Mei 2014), Semeru hujan, sehinga trek-nya susah karena licin, bahkan ada yang pingsan karena kehujanan terus-menerus, dan sikonnya pun kurang bagus untuk menikmati keindahan Ranu Kumbolo.

Ke-3, kalau Tuhan tidak menggagalkan, mungkin saya tidak diperkenalkan dengan saudara-saudara baru saya, mungkin saya tidak dipertemukan dengan kenangan-kenangan pelengkap bahagia saya. Ya, pribadi-pribadi yang tak sengaja saling terikat di tengah perjalanan.😍

What a blessing in disquise. 😉

FB_IMG_1501985538514

Gini ceritanya…
Pagi itu saya berangkat dari Surabaya, bukan Jakarta, dari rumah Ibu. Ceritanya cari restu dari ortu, gituu, biar selamat, biar perjalanannya berkah, kan belum pernah mendaki gunung. Makanya dibela-belain dari Jakarta mampir ke Surabaya dulu, baru naik kereta api ke Malang.😊
Dari stasiun Malang, saya menuju Tumpang bersama teman-teman, di sana istirahat cukup lama untuk menunggu jeep sewaan. Karena ada demo dari angkot lokal soal trayek, sehingga jeep baru dapat giliran siang menuju Ranu Pani atau Ranu Pane, pintu menuju kaki gunung Semeru. Di sana kami makan siang sejenak sebelum mulai trekking sekitar jam 3 sore.
Ada 4 pos yang harus dilewati pendaki menuju Ranu Kumbolo.
FB_IMG_1501985551397
Menuju pos 1 (gambar di atas) perjalanannya cukup paaanjang. Mungkin trek terpanjang dibanding pos lainnya, walau tidak terlalu menanjak sih. Meski demikian, trek 1 ini jauhnya dan tanjakan di awalnya bisa bikin drop pendaki pemula, loh. Contohnya rombongan bule yang sempat putus asa untuk melanjutkan karena sudah ngos-ngosan duluan, padahal trek mereka saat itu masih jauuuh dari pos 1.
20170806_092924
But trust me, view sunsetnya indah bangeet!
Rasanya menjelang Maghrib barulah kita sampai di pos 1 untuk beristirahat sejenak. Karena hawa dingin sudah mulai terasa, sarung tangan dan tutup kepala pun harus terpasang.

10461429_10204292467565448_8783626316548038798_n

Perjalanan ke pos 2 lebih pendek dari pos 1, dan kita sudah mulai terbiasa dengan treknya. tapi karena sudah gelap, maka trekkingnya sudah harus mulai pakai senter.

Perjalanan ke pos 3 itu pendek, tapiii…trek-nya lebih berat dari 3 pos lainnya! Ada tanjakan dan turunan tajam! Jadinya agak pelan perjalanannya.

Sementara menuju pos 4, treknya lebih mudah meski lebih panjang dari pos 3. Tapi semangatnya bertambah karena ini pos terakhir sebelum sampai ke Ranu Kumbolo :)

10245590_10203754241470132_6248365438795409391_nDengan trek sepanjang lebih dari 10 km lengkap tanjakan dan turunan tajam selama lebih dari 5 jam, melihat danau Ranu Kumbolo, meskipun gelap, tuh rasanya indaaaaah banget. Lega! Sambil melepas lelah sebelum melanjutkan ke perkemahan, kita duduk-duduk sejenak di lapangan di tepian danaunya.

FB_IMG_1501984134568

 And you know what…begitu melihat ke atas, nyadar deh…memang ciptaan Tuhan itu indah banget. Yes, bintang-bintang di langit terlihat dekat dan jelas dari situ. Terang dan romantis banget! Apalagi buat warga Jakarta yang jarang lihat bintang terang :))

yes, there I said…romantic 😉

Malam itu kami berkemah bersama pendaki-pendaki lainnya dan harus patuhi semua aturan di sana. Di antaranya, tidak boleh mengotori air danau. Yeah, nggak boleh mandi, minum, atau main air danau. Kalau terpaksa mau ambil airnya ya berarti menggunakan botol dan penggunaannya harus jauh-jauh dari danau.

FB_IMG_1501984121855

Intinya danau tidak boleh kotor oleh tangan manusia. Kalau mau buang air, ya di semak-semak yang jauh dari danau. Mau buang air besar ya harus mengeduk tanah semak-semak, dan menimbunnya. Membersihkannya ya harus siap botol air dan tissue basah. Di sana ada toilet darurat untuk buang air besar, sih. Tapi ya siap-siap saja terlihat oleh pendaki yang jauh di atas bukit sana.😅

Sampah harus dikumpulkan di kantung masing-masing. Semua bertanggung jawab jaga kebersihan.

FB_IMG_1501984117686

Yang seru malam itu, kami berkumpul depan tenda sambil ngobrol dan bercanda, menunggu makanan masak, meski dinginnya kebangetan. Sesuatu yang jarang dilakukan orang kota, kan?

FB_IMG_1501984106072

Tantangannya adalah….dinginnya nggak nahan, euy! Entah berapa suhu saat itu. Saya rasa sih minus. Bikin susah tidur. Membeku! Belum lagi karena kedinginan, akhirnya kita tidur berlima dempet-dempetan dalam satu tenda. Hasilnya, saya nggak bisa tiduuur. Haha. Lengkap sudah 2 hari 2 malam tidak tidur dan tidak mandi. Hihi. Ngaruhnya, sih, lumayan lemes pas turun gunung. Hehe.

20170806_141616

Subhanallah, paginya bisa lihat sunrise Ranu Kumbolo yang indah. Bener deh, di sini foto-fotonya nggak perlu editan, pemandangannya udah baguuuus!

20170806_103007

Kalau mau usaha, selain foto di tepi danau, di depan perkemahan, berlatar bukit-bukit khas Ranu Kumbolo,

20170806_161011

kita juga bisa foto dengan view pohon tumbang yang iconic, meski lokasinya agak pe-er.

20170806_102936

Keren banget di situ! Saya sempat jadi manekin model dadakan di pohon tumbang itu, gara-gara cowok-cowok tak dikenal yang minta foto bareng. Hahaa

20170806_103023

Ada savana lavender juga \o/ Cocok buat prewed #eh

Sungguh, perjalanan panjang, lama, dan melelahkan, terutama karena beban bawaan, benar-benar terbayar oleh keindahan alam di Ranu Kumbolo!

20170806_092838

O ya, saat itu sering hujan abu, loh, jadi para pendaki diminta tidak ke puncak. Ada pendaki yang kena jatuhan batu saat mendaki ke puncak Mahameru. Bahkan sempat ada pendaki yang hilang jejak beberapa hari. Ada yang terbakar kakinya juga. Huhu

Risikonya besar, tapi worth to try!

20170806_092544

Ada budaya keren selama pendakian Semeru. Begini, setiap rombongan pendaki bertemu rombongan pendaki yang lain, kami selalu saling memberi semangat. “Semangat! Posnya udah deket, kok!” Begitu kalimat pemberi semangat yang sering kami dengar, dan juga kalimat yang sering kami sampaikan kepada pendaki yang baru naik.

20170806_092743

“Permisii..”, “Monggo..”, begitu sapaan yang sering kami dengar juga, bahkan dari seorang pendaki bule. Ya, kalimat dan sapaannya sudah membudaya. Secara otomatis kami yang tidak saling kenal, sudah seperti saudara yang saling menghargai, saling memberi semangat :)

Ya, ada cinta di Semeru~ 😍

 

Tanjakan Cinta

FB_IMG_1501985586379

Ini Tanjakan Cinta, Ranu Kumbolo.
Konon, kalau bisa mendaki ke puncaknya tanpa menoleh ke belakang, pendaki bakal dapet ‘cinta’nya. Entah benar atau salah karena semacam takhayul yang dihubung-hubungkan dengan kisah sepasang kekasih (pendaki) jauh sebelumnya, di sini saya ingin jelaskan secara logika saja.

Pengalaman yang saya rasakan:
Tanjakan ini dari bawah keliatan pendek dan nggak gitu sulit. Tapi begitu didaki, awalnya sih mudah, makin ke atas makin suuusah! Sempat berhenti-berhenti karena ngos-ngosan. Sempat digoda, dipanggil teman supaya terpengaruh menoleh. Dan memang, rasa lelah tuh otomatis bikin pengen nyerah noleh ke belakang, ke bawah! Untung fokus!

Mendekati puncaknya makin ngos-ngosan, sampai saya sempat merangkak, sambil berpegangan pada rumput-rumputnya untuk mengangkat tubuh. Ternyata lumayan nanjak..banget! Padahal sudah pengalaman kemarennya mendaki 10 km lebih dengan tanjakan tajam juga.

20170806_231524

So, IMHO, di luar ‘legenda’ tadi, perjuangan mendaki Tanjakan Cinta itu bisa diaplikasikan ke ‘cinta’ yang sebenarnya.

Cinta, kadang di awal tampak mudah, makin lama makin susah dipertahankan. Hanya dia yang fokus yang bertahan. Nggak terganggu saat ada yang menggoda. Tidak terganggu untuk menoleh ke masa lalu.
Kadang memang ada ‘perhentian’ karena masalah, kebosanan, atau tergoda surga dunia. Saat itu terjadi, ada yang menyerah, ada yang kuat bertahan, atau justru memperjuangkan.
So, yang berhasil sampai puncak pun, dia yang tak mudah menyerah pertahankan cintanya! Cinta itu untuk masa depan, bukan membalik masa, menoleh ke belakang :)

Jieee…

20170806_102952

Dan seperti di cinta yang berhasil dipertahankan, begitu kita sampai ke puncak Tanjakan Cinta, kita bakal disuguhi pemandangan yang surprising banget. Indah!  Termasuk di antaranya melihat keindahan danau Ranu Kumbolo dan hamparan savana dari atas, tak ketinggalan pula pemandangan puncak Mahameru.

O, ya, saya sempat ditanya seorang teman, apakah legenda Tanjakan Cinta sukses pada saya?

Hmmm…jujur aja, saat mendaki Tanjakan Cinta, saya nggak bayangkan wajah siapapun…yang ada, saya penasaran aja sama ‘godaan’ Tanjakan Cinta. So, tidak ada wajah atau nama seseorang di otak saya saat itu, saya hanya melihat ke depan…ya ke depan aja, nggak noleh-noleh. Kata orang, kalau berhasil sampai puncak tanpa menoleh ke belakang, bakal dapetin orang yang dibayangkan, kan?

Masalahnya…siapa yang saya lihat di depan? Hmm..that’s another question. 😉

Saya rasa, dapet nggak-nya itu tergantung kuatnya feeling dan pandai ambil peluangnya. Haha😅

Terima kasih Tuhan sudah menggagalkan rencana awal saya, because I feel like I’m in heaven there.😍

MAKEUP_20170806095928_save

 Nggak mandi dan nggak tidur 2 hari.😆

Oke, itu kisah saya yang bikin saya tertantang buat mendaki lagi.😊

Semoga kisah pembaca seindah perjalanan saya sekarang dan bisa menginspirasi yang lain, bahwa Indonesia itu indah, unik, dan magic!

Dan bahwa cinta itu ada…di situasi apapun…di mana pun…dan tak disangka-sangka hadirnya.😊

17 thoughts on “Ada Cinta di Ranu Kumbolo, Semeru

  1. Ini salah satu gunung yang pengen banget aku daki,
    tapi sampe sekarang belum kesampean,
    aku mau kelarin gunung gunung di jawa barat or jawa tengah dulu, tapi kalo ada kesempatan ke Semeru aku mau banget sih wk.

    Btw kayaknya teh Leoni mulai kena penyakit kecanduan naik gunung nih.
    ayok kapan kapan kita mendaki bareng :)

    • Haha. Iya. Aku suka motret pantai, tapi hiking itu tantangannya besar. Jadi..sebagai adrenaline junkies..tentu sukaaa~
      Duh, semeru tuh yang wajib kalo di Jawa. Indah!
      Didoakan terlaksana ya. Amin :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *