Aku Tidak Normal, atau Istimewa?

 

Banyak ‘healer’ dipilih dari orang yang berpendidikan supaya mudah menjelaskan bantuan sixthsense-nya secara logika, dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan buruk, tetapi meluruskan masalah yang bengkok.

Namaku Melody Jasmine Poetry. Puisi bunga melati yang bermelodi, begitu kata ayah. Bunga melati bisa tumbuh di antara belukar, kadang tanpa perlu perawatan, tetapi dia bisa tumbuh subur, dengan warna yang putih murni, bersih, indah. Bunga melati yang wangi ini juga selalu dicari dan bermanfaat bagi  kehidupan, dari sejak mengiringi pernikahan hingga kematian. Tanpa perawatan, tidak menjadi benalu tetapi justru menebar harum. Berguna dari awal hingga akhir. Begitulah makna yang diharapkan ayah.

Aku ditakdirkan tidak normal. Kata orang itu istimewa. Bagiku ini beban, karena selalu tahu apa yang dirahasiakan seseorang. Kadang mengetahui kejadian di depan atau masa depan seseorang yang baru kukenal. Setidaknya saat ini aku menolak keistimewaan itu karena beban. Memang akhirnya sedikit demi sedikit kembali normal, meski tidak sepenuhnya.

Apa itu yang tak normal? Begini ceritanya…

sumber: adyshieru.deviantart.com

Suatu siang, Surabaya 2005…

 

“Maaf, saya tadi agak kaget pas mbak masuk ke ruangan saya. Mata mbak ada pancarannya”

‘uwopo’ begitu kataku dalam hati mendengar kalimat nara sumber yang hendak aku wawancara untuk majalah mingguan di tempatku magang kerja. Tetapi pembicaraan selanjutnya cukup membuatku terbengong-bengong campur lega karena menjelaskan sesuatu yang selama ini jadi pertanyaan.

“Sadar gak kalau selama ini kamu dijaga?”

“Iya. Sadar,” jawabku sambil senyum. Aku tidak tahu detailnya, tapi entah kenapa aku bisa menjawabnya dengan mantap berdasar yang aku rasa.

“Mau dipertemukan gak? Tapi nanti kamu takut lihat wujudnya..”

“Hehe. Enggak, makasih, pak,” jawabku

“Tapi kamu sadar gak kalau kamu punya sixthsense?”

“Iya. Saya sering tiba-tiba lihat bayangan kejadian yang belum terjadi, kadang lewat mimpi, kadang tiba-tiba muncul beberapa detik di otak saya,” jawabku. “Tapi saya takut, saya lelah, beban. Tanpa sengaja, minta Tuhan buat nutup”

“Mau dibukakan? Coba dipikirkan lagi, karena kekuatan yang mbak punya itu bisa bantu banyak orang loh. Mbak bisa sembuhkan banyak orang”

“Nggak dulu deh, pak. Saya mau jadi orang normal saja”

…….

 

Suatu sore, Surabaya 2005…

 

“Eyang, kenapa seringkali aku sekilas lihat kejadian yang belum terjadi? Kenapa aku bisa rasakan apa yang dirasakan orang lain? Dari mana asalnya?”

“Dari turunan Diponegoro,” jawab Eyang.

Jawaban eyang membuatku tersentak. Tetapi pernyataannya tak terlalu kuhiraukan karena cuek dengan silsilah keluarga, meski berpikir, kemampuan ini ada kemungkinan karena turunan melihat beberapa keluarga memilikinya.

Dengan kata lain, aku tak berani melanjutkan pembicaraan seputar sixthsense dan silsilah…tak mau pula terbebani kasta dan syirik.

…….

Suatu malam di Klungkung, Bali, Desember 2012

 

“Banyak orang yang usaha dengan cara apapun bertemu Kanjeng Ratu, kamu kok malah takut!”

Tante menertawakan ketakutanku setelah bermimpi bertemu Kanjeng Ratu Pantai Selatan. Haduh, masih ingat ngos-ngosannya begitu bangun dari mimpi didatangi Kanjeng Ratu dan keretanya itu.

“Takdir itu harus diterima. Kamu dapat keistimewaan Tuhan itu untuk bantu banyak orang. Kamu menolak keistimewaan kamu, berarti menolak tugasmu sebagai healer bagi makhluk Tuhanmu”

“Tapi aku mau jadi normal, tante, seperti yang lain. Tidak ingin terbebani melihat banyak makhluk yang bukan di alamku, tak ingin pula terbebani masalah banyak orang. Bisa lihat sekilas-sekilas kejadian esok saja sudah bikin aku lelah. Aku tolak keistimean itu, dan pilih bantu sesama lewat tulisanku dan pekerjaanku sebagai pembicara aja deh. Wait, kenapa eyang bilang keistimewaan ini dari Diponegoro? Apa hubungannya?”

“Karena nenek moyang kita di Mataram,” jawab tante.

“Kok Diponegoro?”

Tante setengah melotot denger pertanyaanku. “Pelajaran sejarahmu itu gimanaaa??”

“Ooo iya sih,” sambil senyum-senyum, sejenak aku merasa jadi orang paling bego di pelajaran sejarah. Tante pun menjelaskan sedikit hubungan kami dengan eyang dari kerajaan Mataram turunan pahlawan idolaku, yang mendirikan perguruan kyai-kyai di Ngawi. Lieur euy…

“Jangan menolak takdirmu, jangan membuatnya beban. Kenyataannya tak seberat yang kamu sangka..kalau ditolak jadi boomerang karena gak mau dibersihkan. Dulu aku juga nolak karena heran, aku dokter, orang berpendidikan, kok dijadikan begini. Ternyata ya memang dipilih orang berpendidikan supaya bisa menjelaskan secara logika, ” kalimat tante selanjutnya beneran bikin mikir.

Ya, semalaman itu aku sedikit shock dengan kenyataan yang tertulis..

Healer? Sementara aku sendiri terluka. Siapa yang menyembuhkan aku?

Tak bisakah aku menjadi orang normal saja?

……..

Kembali buka gadget…Tulis status twitter…

‘I wanna be normal people! Bisakah?’

………

 

Jakarta, Desember 2012

 

Mulai mengetik text di BBM…

‘Tante, aku siap ketemu. Kapan bisa?’

3 thoughts on “Aku Tidak Normal, atau Istimewa?

  1. Istimewa lah, beberapa orang dapet warisan harta, ada yang dapet warisan ilmu dari nenek moyang dan garis keturunan tanpa perlu belajar, mungkin nanti kalo teknologi dah canggih peta darah atau DNA bisa cek manusia sampai ke nabi adam. Manusia itu unik btw ceritanya lumayan bagus.

  2. ah that’s why kemaren nanya ttg pangeran diponegoro. ada sebuah versi, kalau pangeran diponegoro itu dari sumedang. namanya yang bener Dipanegara. dstdst…

    terus udah ketemu belum dengan tantenya?

    FYI, jaman sekarang, setelah “kiamat” mulai bermunculan tuh orang2 istimewa… yang kalau sebelumnya mereka merahasiakannya untuk dirinya sendiri.

    ada baiknya kamu ketemu dgn sesama istimewa, buat share dll…

    ditunggu lanjutan ceritanya setelah ketemu dgn tantenya yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *