Apa Maksud dari Trauma Seumur Hidup pada Korban Pelecehan Seksual?

Tahun 2018 bisa jadi tahun terburuk bagi kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan. Banyak kasus yang menjadi viral di mana korban pelecehan seksual dikriminalisasi. Sayangnya, tetap saja tidak ada ketegasan hukum yang bisa menyelamatkan korban dan memberikan hukuman setimpal bagi pelaku. Padahal korban pelecehan seksual itu traumanya seumur hidup, lho! Dan bukan hanya tentang fisik atau sekadar trauma mengingat momennya!

Jadi korban pelecehan seksual itu paling dilematis. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Melaporkan malah seperti buka aib, orang mencibir, mengatakan dia penyebabnya karena genit. Padahal dia korban kejahatan seksual.

Banyak kasus kejahatan seksual di Indonesia yang menjadi viral pada 2018:

* Kasus WA (15) yang diperkosa hingga hamil oleh kakak kandungnya, AA (18). Korban divonis enam bulan penjara dengan tuduhan melakukan aborsi, dan pelaku hanya divonis dua tahun penjara!

* Kasus Baiq Nuril (40), guru honorer SMAN 7 Mataram yang dikriminalisasi oleh Muslim, kepala sekolah SMAN 7 Mataram. Nuril dikriminalisasi karena merekam percakapan telepon mereka berdua yang bermuatan pelecehan verbal. Namun justru korban pelecehan digugat Muslim dengan sangkaan melanggar pasal 27 ayat (1) UU ITE, karena dianggap menyebar rekaman, padahal yang menyebarkan adalah rekan Nuril yang dicurhati. Setelah dibebaskan dari tuduhan oleh Pengadilan Negeri, jaksa penuntut umum mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dan Nuril diganjar enam bulan kurungan serta denda Rp500 juta!

* Kasus Agni, mahasiswi Universitas Gajah Mada (UGM) yang alami kekerasan seksual dari teman kampusnya saat jalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Seram, Maluku.

2017 lalu, pihak kampus menyikapi kasusnya sebagai pelanggaran ringan. Pelaku hanya diberi sanksi berupa penundaan kelulusan dan pengulangan KKN.

Kampus tidak melindungi karena pertimbangan ‘kucing kalau dikasih pindang ya pasti tergoda’ dan takut nama kampusnya tercoreng.

Look…sekarang nama kampus tercoreng lebih besar lagi karena gagal melindungi korban dan melenggangkan pelaku dengan kompensasi sangat kecil, jauuuhhh dibanding trauma seumur hidup sang korban.

Celana Pendek

Celana pendek sempat jadi topik hits di twitter akhir 2018 lalu. Kenapa?

Berawal dari adanya petisi menolak iklan OL shop & blackpink karena dianggap terlalu sexy & pengaruh buruk untuk anak-anak.

Lalu ada aktivis di twitter yang protes dengan maksud membela hak perempuan supaya tidak ada kelanjutan petisi semacam, dilengkapi dengan twitpic/foto pake celana pendek, yang biasa ia kenakan saat ke mall. Menjelaskan bahwa itu seharusnya hak tiap perempuan atas tubuhnya.

Saya mikir.. seandainya saya yang protes, twitpic foto pake celana pendek, bukannya diritwit banyak, tapi yang ada saya dinyinyirin ibu-ibu muda di twitter!
No way!
It’s gonna be different, the opposite result! Petisi bakal sukses!

Dan ternyata juga ada ibu guru yang menyuruh si mbak aktivis jadi pelacur saja, daripada telanjang tapi tidak dibayar.
Sungguh, tidak seharusnya seorang guru dan sesama perempuan menasehati tetapi dengan kalimat yang jahat begitu. Tidak patut digugu dan ditiru. 

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Ngomong-ngomong soal pelecehan seksual, pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sudah sangat mendesak. Darurat!

Dalam KUHP, perkosaan masuk dalam bab tentang kesusilaan, bukan tindakan terhadap kejahatan kemanusiaan, sehingga tidak memberikan keadilan pada korban. Justru pelaku mudah membalik keadaan dengan kriminalisasi korban, contoh kasus bu Nuril & Agni UGM.

Korban sering dianggap centil/asusila.
Banyak dari pelaku adalah orang terdekat korban. Trust. Seharusnya bukan tentang cara berpakaian lagi alasannya, tapi otak & hati!

Bentuk kekerasan seksual di ranah pribadi bahkan paling banyak dilakukan oleh orang terdekat yang masih memiliki hubungan darah (incest)!

Trauma Seumur Hidup

Apa yang dimaksud ‘trauma seumur hidup’ pada korban pelecehan seksual (khususnya perkosaan)?

Ini bukan soal cacat fisik setelah diperkosa. Bukan soal hamil atau keperawanan, atau cacat fisik lain, yang tentu sudah jelas jadi korbannya. Tapi soal psikis, baik perempuan maupun lelaki.

1. Sejak awal, korban akan merasa kotor dengan dirinya sendiri. Tidak sedikit yang enggan menerima mereka yang baik, karena merasa kotor, sehingga tidak pantas menerima kekasih yang baik.
Atau karena takut ke depannya si baik ini tidak mau menerimanya/jijik/banyak tuntutan/butuh keperawanan. Akibatnya, terbiasa dengan pilihan yang salah. So..you know the rest~
.
2. Takut melapor? Karena korban pelecehan seksual adalah korban paling dilematis. Kebanyakan justru disalahkan karena dianggap genit (ikan bagi kucing kelaparan). Social judgement itu lebih seram dari…apapun.

3. Lack of trust. Kebanyakan pelaku adalah orang yang paling dipercaya, yang memanfaatkan kerapuhannya. Itu membuatnya kehilangan kepercayaan pada manusia lain.

4. Behave yang kontras. Survivor memiliki kelebihan cenderung berani. “Apa lagi yang harus ditakutkan, jika yang paling ditakutkan sudah dialami?”
Yes, kebanyakan perempuan paling takut pelecehan seksual, bukan?
Mereka berubah jadi super woman.
Bukan berarti hilang trauma. Trauma secara psikis timbul lagi bila terbentur perlakuan yang membuatnya merasa tidak dihargai/dihormati sebagai manusia, merasa dibuang untuk seseorang lainnya yang dianggap lebih baik, like..’you’re nothing, she’s my everything’.

Tidak semua pasangan mampu memahami traumanya, jadi beruntunglah dia yang menemukan seseorang luar biasa yang paham.

So, bukan soal dia picky/pilih-pilih, tetapi setiap trauma itu muncul, dan pasangannya tidak paham, bisa berakibat perpisahan karena saling sensi. Padahal seandainya paham, itu mudah diatasi.

Intinya, trauma bisa muncul kapan saja, bahkan yang sudah bertahun-tahun normal. Jika itu muncul, kepercayaan dirinya bisa tiba-tiba hancur, kembali ke titik 0..atau minus.
Kadang dia hanya butuh diterima.

O ya, in case masih mempertanyakan kenapa korban Agni dari UGM tadi mau menginap di tempat pelaku?
Trust. I’ve told you, kebanyakan pelaku adalah orang yang dipercaya untuk melindungi. Dan kenapa tidak melawan? You know what, pelaku..khususnya cowok..Kalo sudah nafsu, mereka punya kekuatan berlipat ganda dari normalnya, jadi melawan secara fisik itu sulit, seperti melawan setan raksasa.

So, buat kamu yang masih bisa tertawa setelah tidak menghormati seseorang, atau menertawakan korban setelah membaca peristiwanya, think again, you ruin somebody’s life.

Please spread the news tentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Jangan berhenti di kamu!
Pake otak, bukan insecurities.

 

Pic by:

www.lovepanky.com
www.worklawyers.com
www.theguardian.com
Tirto.id
Indualegallive.com
Seattletimes.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *