Belajar dari Robert De Niro di Mola Living live by Mola TV

Tahun 1972, Marlon Brando memenangkan penghargaan Oscar untuk kategori aktor terbaik karena memerankan Vito Corleone. Dua tahun kemudian, Robert De Niro memenangkan Oscar untuk kategori aktor pendukung terbaik karena memerankan Don Corleone versi muda. Meski memerankan peran yang sama, ternyata Robert de Niro tak pernah berbincang dengan Marlon Brando secara langsung soal karakternya. Mereka hanya berbincang di luar film.

Ia melakukan pendekatan secara teknis mempelajari karakter bos mafia Victor Corleone tetapi tidak menirunya. Ada karakternya yang disesuaikan untuk tokoh yang dimainkannya. Ia pun berlatih aksen Sisilia dari orang Sisilia langsung dan juga membaca dialog dengan bahasa Sisilia.

Begitulah pengakuan aktor yang akrab disapa ‘Bob’ ini saat menjawab pertanyaan aktor Indonesia Reza Rahardian yang memandu acara Mola Living Live di Mola TV pada Rabu malam, 16 Desember 2020. Selain Reza, episode tanya jawab dengan legenda Hollywood berusia 77 tahun ini juga dipandu oleh oleh mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal.

Robert De Niro ini salah satu click bait actor bagi saya. Jadi kalau ada beberapa pilihan film, lalu salah satu di antaranya ada nama Robert De Niro di situ, maka film itulah yang akan saya tonton lebih dahulu. Tentu saja karena kehebatan aktingnya. Aktingnya itu effortlessly amazing. All out tetapi tidak lebay dan membuat penonton menyukai atau membenci karakter yang dimainkannya karena begitu pas dimainkan olehnya. Dan memang dalam pengakuannya, saat berakting, Robert De Niro tidak memaksakan simpati, perasaan karakter, atau emosi yang dimainkannya kepada penonton, tetapi membiarkan penonton untuk menentukan emosi mereka sendiri saat menonton aktingnya.

Dalam acara tanya jawab lewat video conference yang berlangsung sekitar 58 menit ini, Bob banyak membagikan kisah dan pengalaman tentang seluk beluk dunia film dan acting yang tentunya bisa menginspirasi aktor-aktor muda, karena ia legenda yang memiliki segudang pengalaman membintangi film dengan berbagai genre. Dari film bertema drama, aksi, biografi, thriller, hingga komedi.

Menurut Bob, tuntutan saat menjalani pendidikan akting kadang permintaannya berbeda dengan saat terjun langsung di dunia film professional, jadi para aktor dituntut untuk mengambil pelajaran dari mana pun.

“Jalan terbaik adalah lakukan yang terbaik, dan ikuti nalurimu,” tutur Bob.

Meski legenda, Robert De Niro ternyata sangat terbuka terhadap kritik. Baginya, kritik adalah cara pandang dari sisi lain yang dapat membantu untuk melihat kenyataan. Saat bekerja dengan orang-orang yang selalu berkata positif dan tak mau mengatakan keburukan, maka kenyataan bisa didapat dari kritik tadi, bahkan meski opininya subyektif. Tetapi pastikan pendapatnya disampaikan secara konstruktif.

Bahkan Robert De Niro suka menonton aktingnya sendiri di film yang dibintanginya, lalu melakukan penilaian dan kritik terhadap aktingnya tadi untuk perbaikan ke depannya.

Selain Robert De Niro, Mola Living Live juga mengundang tokoh-tokoh inspiring lainnya pada 5 episode sebelumnya. Penggemar film pasti kenal nama Spike Lee, donk. Yes, sutradara, produser, penulis naskah, aktor, dan professor itu. Nah, kamu bisa belajar produksi perfilman dari Spike Lee. Ada pula Luc Besson dan Darren Aronofsky.

Yang keren lagi, acara ini dipandu oleh tokoh-tokoh yang juga inspiring, baik di bidangnya masing-masing, maupun secara general dalam kehidupan. Misalnya: Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Reza Rahardian, salah satu aktor terbaik Indonesia, dan Dino Patti Djalal, eks Duta Besar Indonesia untuk AS. Jadi idola mewawancarai idola.

Kalau saya, selain dari Robert De Niro, juga belajar banyak dari interview bersama Sharon Stone dan Mike Tyson.

Tak disangka-sangka, ternyata Mike Tyson sebegitu filosofisnya. Hampir semua jawabannya quotable! Lebih menariknya lagi, karena yang mewawancarai adalah Susi Pudjiastuti, yang saya yakin bu Susi pun sempat terkejut dengan jawaban-jawaban Tyson yang serba tegas, simple, filosofis, dan humanis. Susi tidak hanya mengulik kisah kesuksesan Tyson saja, tetapi juga perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku, termasuk keterpurukan yang pernah dialami.

Jiwa kompetitif memang mendorong mantan juara dunia kelas berat ini untuk menjadi yang terbaik sepanjang masa. Menurutnya, menjadi yang terbaik sangat sepadan dengan kadar sakit yang didapat.

Saat bu Susi menanyakan musuh terberat Tyson selama berkarir (tinju), dengan tegas ia menjawab “Me!”.

Diri sendiri lah lawan tersulit yang pernah dihadapi seumur hidupnya.

“I always have to fight me,” ucap Tyson.

Oleh media massa luar, Tyson memang dijuluki “The Baddest Man on Earth”, karena perangainya yang dianggap buruk, baik di dalam maupun di luar ring. Ia bahkan sempat mendekam di penjara selama tiga tahun dari 1992-1995 karena tuduhan atas perangai buruknya itu.

Namun menurut pengakuan Tyson, secara psikologis ia merasa bebas meski di dalam penjara, tidak pernah merasa sedang dipenjara. Justru pengalaman ini menjadi berkah baginya, karena hal-hal baik terjadi kepadanya dan membuatnya lebih mengenal dirinya sendiri juga masyarakat sekitar. Pelajaran berharga ini membuatnya bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

“Saat ini, sukses bagi saya adalah menjaga diri tetap bersih,” tambahnya.

Dalam wawancara ini, Tyson menepis berita bahwa ia memeluk agama Islam saat di dalam penjara. Ia menuturkan bahwa sebelum dipenjara ia telah menjadi muslim.

Satu lagi jawaban Tyson yang cukup bikin terhenyak adalah saat ditanya tentang kehilangan. Sepertinya bu Susi mengarah pada kehilangannya akan karir dan kesuksesan. Menurut Tyson, kehilangan adalah pulang ke rumah. Manusia tidak perlu kehilangan karena terlahir telanjang, sementara sudah banyak sekali yang kita dapat dari kehidupan.

Sungguh, karakter Tyson dalam Mola Living Live sangat-sangat jauh dari kesan “The Baddest Man on Earth”! Mungkin karena pengalaman membuat Tyson sukses mengalahkan dirinya sendiri ya.

Nah, ada lagi inspiring idol yang karakter aslinya jauh dari kesan yang digambarkan oleh masyarakat selama ini, yaitu Sharon Stone. Dalam episode Mola Living Live yang dipandu oleh Reza Rahardian dan Rayya Makarim, Sharon Stone membagikan pengalaman hidupnya yang bisa jadi bertolak belakang dengan sangkaan banyak orang.

Banyak yang mengatakan ia perempuan yang beruntung sejak lahir, dengan fisiknya, dengan kesuksesannya, atau bahkan dengan kejeniusannya. Faktanya, ia lahir dari keluarga pekerja yang tidak kaya, bahkan pernah sangat kesulitan secara ekonomi. Karenanya, Stone meninggalkan bangku sekolah dan berkarier sebagai model di New York. Sebelum menjadi aktris, ia sering tampil sebagai model iklan produk kecantikan di media cetak maupun televisi, sampai akhirnya memutuskan pindah ke Los Angeles untuk berkarir sebagai aktris. Berawal dari peran kecil dalam film berbudget rendah, hingga akhirnya dikenal secara global setelah membintangi film Basic Instinct (1992). Film inilah yang yang membuatnya menjadi simbol seks. Film ini juga yang berpengaruh sangat besar pada karirnya. Bagaimana tidak. Berawal dari model, bekerja di TV, film berbudget kecil, kemudian tiba-tiba bermain untuk film berbudget besar dengan bintang besar, Michael Douglas, dan sukses menjadi box office.

“On Friday no body knew me, on Tuesday I was international fame,” kelakarnya.

Sayangnya label simbol seks ini melekat padanya..selamanya, hingga menutupi karakter aslinya. Di balik label tersebut, Sharon Stone yang apa adanya, realistik, tegas, aktivis kemanusiaan, aids, air bersih, veteran, dan LGBT Q+. Yang pasti, dia superwoman dan pekerja keras.

Buat kamu yang pengen diet, coba pakai cara jitunya Sharon Stone saat mempersiapkan diri untuk audisi Basic Instict, deh. Jadi selama 8 hingga 9 bulan itu ia membaca naskah ratusan kali dan menyimpannya di atas lemari es. Jadi tiap mau buka lemari es, yang pertama kali dilihat adalah naskah yang seakan-akan bilang “No no no, kalau kamu dapat perannya, kamu harus buka baju, jadi badan harus bagus!”

Jadi batal ambil makanan di lemari es, tutup pintunya, ambil naskah, dan menuju treadmill. Haha

Nah, kalau kamu mau menyimak kisah inspiratif tokoh-tokoh inspiring ini secara full sekaligus belajar dari mereka atau bahkan bertanya langsung via Whatsapp, kamu bisa nonton Mola Living Live di Mola TV. Siapa tahu pertanyaan kamu bisa dijawab langsung oleh idola kamu. Bahkan di episode Bersama Robert De Niro, ada aktor Jefri Nichol yang mengirimkan pertanyaannya, loh.

Belum langganan Mola TV? Gampang! Cuman Rp 12.500 saja kamu sudah bisa subscribe, loh. Caranya juga simple banget ga pake ribet! Cuman Rp 12500 berlangganan Mola TV, kamu bukan hanya dapat hiburan, tetapi juga banyak ilmu, wawasan baru, atau life inspiration. Nggak mau ketinggalan episode Mola Living Live selanjutnya, kan? So, buruan download aplikasi  www.mola.tv dan subscribe. Selamat nonton!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *