Bung Tomo, di Mataku

written by : Leonita Julian

“Saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka”
”Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI”

Banyak pejuang dan pahlawan nasional yang menjadi idola saya, tetapi ada satu Nasionalis yang selalu menjadi inspirasi saya, Bung Tomo! Mengapa?

Dalam tulisan ini saya tidak menceritakan biodata atau cerita perjuangan Bung Tomo, karena sudah banyak artikel mengenai hal ini. Artikel soal pribadi dan perjuangan Bung Tomo dapat dilihat di link Wikipedia (klik di sini).

Meski saat ini saya berjuang di Jakarta, namun Surabaya tetap ada di hati. Ya, kita memiliki kota kelahiran yang sama, Surabaya. Entah hanya saya atau juga teman-teman yang lain merasakan, tiap cerita tentang peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya ditayangkan TV. Saya begitu terharu, karena perlawanan yang tidak seimbang antara sekutu/NICA yang bersenjata lengkap dengan tekhnologi yang mutakhir, sementara rakyat Indonesia, khususnya Surabaya dan sekitarnya, hanya bersenjatakan parang, celurit, bambu runcing, dan bedil.

Sekutu tentu tidak akan pernah menyangka bahwa dua Jenderal Inggris, salah satunya Mallaby, tewas di tangan arek-arek Suroboyo yang minim senjata. Sementara selama berperang di Eropa dan Negara Asia lain, tak satupun Jenderalnya yang tumbang!

Kumandang ‘Takbir’ dan semboyan ‘Merdeka atau Mati’ yang selalu didengungkan oleh Bung Tomo melalui corong michrophone Radio komunitasnya itulah yang membakar semangat arek-arek Suroboyo dan rakyat Indonesia saat itu. Saya yakin siapapun akan kagum dengan pidatonya yang berapi-api. Rasanya sih, belum ada yang menandingi kehebatan orasi Bung Karno dan Bung Tomo.

Bagi saya, nilai terindah dari pejuang yang lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920, ini adalah ketulusan, kekonsistenan, dan kesederhaanannya.

Bung Tomo adalah pejuang bangsa yang konsisten memegang teguh kesucian dalam perkataan atau pun perbuatan. Kekonsistenan dan ketulusan inilah yang membuat pekik takbir, Allahu Akbar, yang mengiringi tiap orasinya menjadi kekuatan sangat besar dan tak tertandingi.

Nah, karakter dan cara Bung Tomo berjuang inilah yang perlu kita garis bawah. Sadar atau tidak, mikrofon adalah medianya! Artinya, beliau berjuang dengan keahliannya, yaitu sebagai jurnalis yang mampu mengobarkan semangat perjuangan melalui kata-katanya.

Bagaimana kata-kata kita mampu menggerakkan massa untuk berbuat kebaikan, itulah yang mestinya menjadi tanggung jawab jurnalis, bukan membuat gossip atau memperumit masalah. Ini adalah tanggung jawab moral seorang jurnalis. Dan bila kita bukan jurnalis, maka pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa apapun profesi kita, keahlian kita bisa dimanfaatkan untuk membantu sesama, untuk menegakkan kebenaran.

Saya pun kagum dengan kekonsistenannya, di mana beliau tidak takut beradu pendapat dengan Bung Karno, ataupun mengkritik pemerintahan Soeharto bila dianggapnya salah atau melenceng dari tujuan perjuangan semula. Ya, Bung Tomo sempat dipenjara selama setahun pada masa pemerintahan Soeharto karena kritik-kritik pedasnya.

Perlu diketahui, Sutomo baru mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada 9 Nopember 2008 lalu, 27 tahun setelah beliau meninggal dunia dalam ibadah sucinya di Mekkah tahun 1981. Sementara namanya selalu didengung-dengungkan tiap perayaan Hari Pahlawan 10 Nopember. Tetapi karena ketulusannya, Bung Tomo dan keluarganya tidak pernah mengemis gelar tersebut pada Negara. Tanpa tanda jasa pun, beliau tetap Pahlawan di hati rakyat Indonesia, bukan?

Justru itulah Pahlawan yang sejati, tidak mengharap tanda jasa. Bung Tomo hanya mengharapkan jiwa patriotisme tetap terpatri di hati para penerus bangsa. Ah, semoga almarhum tidak menangis di ‘atas sana’ karena banyak penerus bangsa yang lebih bangga menjadi koruptor daripada berjuang dengan jalan yang suci.

Berikut transkrip Pidato Bung Tomo yang menjadi pemersatu dan pengobar semangat rakyat Indonesia menghadapi Sekutu:

Bismillahirrahmanirrahim…
Merdeka!!!
Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja
Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea.

Kita diwadjibkan oentoek dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.

Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.

Saoedara-saoedara,
didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa
ra’jat Indonesia di Soerabaja
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali,
pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan,
pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera,
pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli & seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini,
didalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng-kampoeng,
telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol,
telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana
Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara
Dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran.

Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.
Saoedara-saoedara, kita semuanja, kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini.
Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia,
ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini
Dengarkanlah ini hai tentara Inggris,
ini djawaban ra’jat Soerabaja
ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian

Hai tentara Inggris!,
kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe,
menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe,
kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada,

Tetapi inilah djawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah & putih,
maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!
Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
siaplah keadaan genting
tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.

Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
pertjajalah saoedara-saoedara,
Toehan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!
MERDEKA!!!

26 thoughts on “Bung Tomo, di Mataku

  1. selalu merinding saya baca transkrip pidato itu…
    fiyuh…
    mari pelan-pelan kita bersihkan negeri ini dari parasit-parasit pemangsa darah anak bangsa.

  2. Banyak huruf “u” yang lupa diganti “oe”

    baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu. (ITOE)

    Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
    Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka” (HANTJOER)

    ”Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI” (ATAOE)

  3. perlunya kembali menggugah rasa cinta tanah air, patriotisme serta nasionalisme ditengah badai perkembangan jaman, hedonisme, konsumtif, glamor yang dapat menggerus budaya kita, kebangsaan kita.
    mari kita merefleksikan kembali apa arti dari sebuah perjuangan dan hikamh yang terkandung di dalamnya.

  4. …………… pahlawan kita pasti menangis seandainya melihat Indonesia sekarang……. KKN……ketidak adilan……….penindasan……menjadi kegiatan sehari hari…..

  5. kendala yang dihadapi oleh jiwa pejuang kita adalah melihat musuh yang sebenarnya, dengan senyata-nyatanya..

    agar arah perjuangan tidak salah..

    termasuk bila diri kita sendiri yang jadi musuh kita :D

  6. Bung Tomo sempat diperlakukan sebagai dissident bahkan oposan dan ditahan. Foto pembebasan dia dan bertemu keluarga ada di buku foto Kompas. Dulu Bung Tomo sempat ke mana-mana, kalau diskuisi, bawa tape recorder. Supaya ucapannya gak dipelintir aparat keamanan.

  7. Semoga beliau menjadi contoh teladan bagi pemuda-pemuda di Indonesia agar kita tidak mudah dibodohi bangsa-bangsa asing yang hanya ingin meraup keuntungan di tanah Nusantara. Sudah semestinya pemuda mengidolakan sosok seperti beliau, bukan artis-artis yang hanya bisa hidup hedonis,

Leave a Reply to syahid Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *