Cari Passion = Mencari Cinta?

written by : Leonita Julian

Gimana sih cara menemukan passion??

Mungkin ini pertanyaan paling sering keluar tentang passion. Gimana mau perjuangin passion, kalau passionnya aja belum ketahuan?

Pernah Jatuh cinta? Pernah naksir? Jadian? Putus? Balikan?

Menurut saya, passion itu seperti cinta. Cari passion ya seperti mencari cinta. Gampang-gampang..suuusaaaah!

 

Cinta itu rela memperjuangkan :3

Ada kalanya saat naksir seseorang, kita usaha cari perhatian, kecewa, tak sesuai harapan, drop, lalu batal naksir. Ada kalanya naksir seseorang,kita  usaha, pas..sesuai harapan, tetapi bertepuk sebelah tangan, lalu mundur.

Ada kalanya, tak peduli meski bertepuk sebelah tangan, tetap sabar memperjuangan, karena sudah jatuh cinta. Saat gagal pun tak menyesali perjuangannya.

Yang terakhir itulah passion.

Memperjuangkan passion itu seperti memperjuangkan cinta.

Kadang kita bertemu seseorang yang bikin nyaman banget, hingga pertengkaran pun bukan halangan untuk selesaikan masalah dan kembali menyatu. Kita hindari seperti apa juga balik lagi karena ngerasa ‘rumah’, tanpa ‘kehilangan diri’. Itulah passion.

Cari passion bisa dimulai dari hobi atau bakat yang membuat kita rela memperjuangkannya tanpa merasa beban. Kalau sudah ngerasa beban dan gak fun ngerjainnya sih perlu dipertanyakan lagi apakah itu benar-benar passion kita.

 

Cinta itu mau bersabar dan belajar!

Kadang harus keliling dunia dan lewati beragam kerjaan serta profesi untuk..akhirnya..menemukan passion! Apalagi kalau kita banyak dipengaruhi lingkungan.

Saya contohnya. Dari SD sampai high school paling suka art, suka melukis, design. Tetapi karena keluarga inti bukan penganut art tapi eksak, otomatis banyak masukan kanan kiri yang bikin mikir seribu kali untuk stay di art. “Biaya hidup dari mana?” Selalu itu yang dipertanyakan. Sudah digagalkan sebelum mencoba. Saya sempat berhenti melukis karena kehilangan semua lukisan. Mati rasa loh saat itu, seperti kehilangan separuh nyawa K

Di keluarga hanya mengenal profesi dokter, arsitek, insinyur, akuntan, bankir, tentara, dan semacamnya, tidak mengenal profesi kreatif. Contoh suksesnya ya kakak saya sendiri yang sejak kecil sudah ingin jadi dokter, dan sekarang menjadi dokter Spesialis Anak. Itu salah satu dari mereka yang beruntung sudah mengenal passionnya dari awal.

Saya, harus mencoba berbagai pekerjaan dulu, di berbagai bidang, sampai akhirnya back to basic. Passion saya adalah apapun yang berhubungan dengan ispirasi dan art. Kalau pekerjaan atau project yang dikerjakan itu tidak menginspirasi orang untuk melakukan hal positif atau perubahan baik, saya jadi tak nyaman mengerjakannya, tersiksa. Ingat, kalau kita terpaksa, kita jadi bukan diri kita. Jadi mudah emosi, berpengaruh ke pekerjaan dan rekan kerja.

Dengan menulis, membuat konsep, mengajar, atau jadi pembicara, tentunya ada jalan untuk terus menginspirasi banyak orang. Saya juga ngerasa gak fun lakukan pekerjaan yang tanpa art. Sekarang mulai membiasakan melukis lagi setelah bertahun-tahun, sambil terus menulis.

Banyak juga yang bingung, pengen berhenti dari kerjaan, ngedumel mulu, tapi merasa gak punya skill di bidang lain. Take breaks. Try new things! Siapa tahu merasa tak punya skill karena belum mencoba?

Trust me, perjalanannya panjang! Dan semua perjalanan itu worth it! Semua bisa jadi pengalaman dan pelajaran, tak ada yang merugikan kok, semua pengalaman dan pelajaran bakal berguna ke depannya.

 

Cinta itu tak bisa dipaksa!

Ponakan perempuan saya saat berusia 4 hingga 7 tahun sering banget menang lomba model/catwalk. Semua orang anggap passionnya di dunia model, karena memang dia suka sekali difoto. Lucunya, saat berusia 8 tahun, dia beda banget, jadi anti difoto! Usut punya usut, ternyata perubahan ini terjadi karena ia merasa dipaksa mengikuti lomba oleh mamanya. Hehe. Jadi gak fun lagi, dan jadi trauma.

Saya pun bakal menghindari semua pekerjaan yang ‘dipaksa’ meski itu bidang saya, karena sudah pernah merasakan tak nyaman bekerja dengan ‘terpaksa’. Jadi tidak fun dan bikin sakit-sakitan. Seperti cinta, yang kalau terpaksa, bukan crush lagi, tapi bakal jadi crash!

O ya, cinta itu tahu batas. Tidak memaksakan hingga kehilangan diri.

Cinta itu tak pernah terlambat!

Tak semua orang menemukan passionnya di usia muda. Banyak orang yang baru menemukannya saat usianya kepala empat atau di atasnya, tentunya setelah melakukan perjalanan karir lainnya. Banyak juga yang sudah menemukan passion dari awal, tetapi baru sukses di usia senja.

Coba tanyakan pada diri sendiri:

Jika ada satu kesuksesan yang ingin dicapai dalam hidup, itu adalah….(?)

Jika ingin berkontribusi dalam pekerjaan, kontribusi itu di bidang….(?)

Jika ingin dikenal oleh banyak orang, maka aku ingin dikenal sebagai… (?)

Sabar. Tak ada kata terlambat untuk menemukan passion. Tak ada kata terlambat untuk mengejar mimpi!

Selamat mencari ^^

 

 

 

 

2 thoughts on “Cari Passion = Mencari Cinta?

  1. Berarti passion itu seperti bakat gitu ya mbak, kadang kita gak menyadarinya tergantung kesempatan utk bisa mengenal bakat itu sendiri,, apa bedanya dengan minat?

    • passion itu hasrat yang bikin kita mau memperjuangkan. Punya bakat belum tentu mau memperjuangkan bakat itu. Bakat kan terlahir. Punya bakat dan mau memperjuangkan, atau bukan bakat, tapi mau memperjuangkan hingga berhasil, nah itu passion. Minat itu awal dari passion ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *