Cegah Pelecehan & Cyber Bullying

 

@xxx Karena lebih didengar. kata kata kan kuat tuh maknanya. RT @leonisecret: kenapa suka curhat di twitter?

@xxx Karena sehari-hari, kita tidak memiliki ruang u/ mengekspresikan emosi kita. RT @leonisecret Kenapa suka curhat di twitter?

@xxx Karena enggak punya pacar. RT @leonisecret: kenapa suka curhat di twitter?

@xxx Jadi pusat perhatian. RT @leonisecret: Kenapa suka curhat di twitter/FB?

@xxx @leonisecret gak tau mesti ngomong ke siapa

Itulah beberapa jawaban yang dilontarkan teman-teman, saat saya menanyakan alasan mengapa suka curhat di twitter atau social media lainnya. Banyak yang curhat di social media karena butuh perhatian, ingin didengar.  Social media ‘seakan-akan’ menyediakan tempat untuk berbagi keluh kesah, dibaca, dikomentari, dan.. diperhatikan. Tidak ada teman untuk bicara, tidak ada yang mau mendengar celotehan dan curhatnya di offline, sehingga socmed dijadikan ruang untuk mengekspresikan emosi.

Sumber gambar: greatschool.org

Apakah tidak ada teman di offline? Pasti ada, tetapi tak banyak teman yang mau mendengar curhat. Bahkan terkadang keluarga bukan tempat yang tepat untuk mencurahkan isi hati. Kita butuh seseorang yang mau menyediakan waktu tulus untuk sekedar mendengar atau bahkan memberi masukan, bukan nge-judge atau menggurui. Di socmed, kita menemukan teman-teman yang tanpa kita kenal pun bersedia mendengar, memberi masukan. Itulah kenapa banyak yang mengatakan bahwa curhat di socmed lebih didengar. Banyak pula yang justru menarik perhatian, membumbuinya dengan drama.

Meski sebenarnya banyak pula yang mencemooh curhatan di timeline, tetapi tak sedikit user socmed yang menemukan teman berbagi di dunia itu. Mereka menemukan teman yang setia mendengar dengan tulus, menyetujui curhatannya, mengikuti topiknya, memberi masukan, atau nasehat. Semua bisa terjadi di social media. Kita bisa menciptakan karakter sesuai yang kita mau, yang sangat berbeda dari karakter offline-nya, bisa lebih menarik atau lebih buruk. Kita bisa mempengaruhi massa dengan tulisan, membuat kagum banyak orang dengan rangkaian kata-kata, atau sebaliknya, kita terkagum-kagum olehnya.

Sumber gambar: thetrialwarrior.com

Namun hati-hati, ada oknum-oknum yang memanfaatkan situasi ini untuk menarik perhatian mereka yang galau atau butuh perhatian. Siapa sih yang tak tergugah hatinya saat yang lain men-judge, menggurui, atau bahkan membulli, ada seseorang yang perhatian dan memujinya?  Sayangnya, banyak user yang masih belum dewasa secara mental. Mereka berkenalan dengan orang asing melalui socmed, jatuh hati, tanpa menyadari modus pelecehan oknum tersebut.

Saya sempat kecewa dengan pernyataan salah satu pejabat tentang pengusiran korban pelecehan siswi SMP di Depok dari sekolahnya. Dikatakan bahwa kemungkinan siswi dikembalikan ke orang tua karena ada kemungkinan kejadian pelecehan tersebut terjadi karena kenakalan remaja, suka sama suka tetapi mengaku dilecehkan. Menurut saya, pernyataan seperti itu tidak pantas, karena belum terbukti kebenarannya. Cinta, bukan berarti pasti mau dipaksa melakukan hubungan seksual. Beda. Pelecehan tetaplah pelecehan bila dengan paksaan.

Keselamatan anak atau remaja dari pelecehan seksual di internet sangat bergantung peranan orang tua dan sekolah. Orang tua sangatlah perlu mendampingi dan membimbing anak dalam menggunakan internet.  Perlu ditekankan kepada anak untuk tidak memposting informasi atau gambar yang sifatnya privasi atau yang dapat mengundang pihak lain untuk berbuat hal yang dapat berdampak buruk baginya, keluarga, dan lingkungannya.

Kita tak bisa menyalahkan facebook atau twitter sebagai media yang bisa menyebabkan pelecehan, karena sebenarnya mereka sudah membuat peraturan untuk itu. Facebook melarang user di bawah 13 tahun, sayangnya banyak yang memalsukan umur.

Orang tua dan pendidik harus mendampingi mereka dengan mempelajari aturan dan tools social media. Jangan terlalu melepas anak atau remaja yang dirasa belum dewasa mentalnya. Di luar cara itu, ada cara mudah tetapi tetap harus tulus melakukannya, yaitu mendengar. Mungkin saya belum pernah jadi orang tua, tetapi pernah berada di usia abege. Ijinkanlah saya membagi sedikit pengalaman. Jangan menyepelekan kebutuhan didengar dan didampingi, karena setiap anak atau individu membutuhkannya.

Beri waktu untuk mendengar saat mereka membutuhkan, beri waktu untuk saling berbagi, baik dari orang tua ke anak, keluarga, atau sahabat. Karena jika kebutuhan ini disepelekan, akibatnya akan berbahaya karena bisa saja anak atau teman mencari perlindungan orang asing untuk mendengarnya. Beruntung kalau orang asing itu memang berniat baik, kalau ada modus buruk dan tidak bertanggung jawab bagaimana jadinya?

Selain itu perlu juga pengenalan dini tentang norma-norma sosial, keterampilan komunikasi, membangun persahabatan dan hubungan interpersonal yang sehat, mencari informasi, keterampilan mendapatkan pertolongan, dan keterampilan mengelola emosi.

Keterampilan menolak mungkin juga diperlukan untuk mengajarkan mereka berkata “tidak,” untuk memiliki self-esteem yang tinggi sehingga tak terbutakan oleh apa yang mereka duga sebagai cinta.

Selain pelecehan seksual, akibat lain dari ketidakdewasaan mental di internet adalah cyber bully. Mereka yang masih belum dewasa secara mental, seperti anak-anak, pra remaja, atau remaja, rentan menjadi korban cyberbully. Tahukah kamu, perasaan tidak aman pada korban cyberbully lebih parah dibandingkan dengan bully yang terjadi di offline.Di offline, korban merasa aman ketika sudah sampai di rumah, tapi korban cyberbully akan merasa terancam terus menerus selama mereka masih ada di online.

Sedikit tips, jika menjadi korban bully di internet, maka yang sebaiknya dilakukan adalah tidak terpancing untuk membalas atau menunjukkan sikap yang justru akan memperburuk keadaan.

Jadi, marilah kita saling belajar mendewasakan emosi dan mental, tidak saling membully atau melecehkan, karena trauma dari keduanya bisa berlangsung seumur hidup.

One thought on “Cegah Pelecehan & Cyber Bullying

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *