Cegah Tayangan Sampah Atau Membunuh Kreatifitas?

Sesekali, amatilah tayangan hiburan yang demikian marak di layar televisi. Sebagian besar tayangan hiburan yang nyaris tak lagi mengindahkan nilai-nilai kesantunan dan kelayakan buat publik. Tayangan televisi yang makin tidak membumi, bertentangan dengan akal sehat, jauh dari nilai-nilai edukatif, bahkan sangat bias gender. Tayangan iklan pun tak sedikit yang lebih mengutamakan kreatifitas dan jauh dari etika.

Tampaknya dunia TV telah masuk dalam perangkap kaum kapitalis. Mereka hanya menyisakan sekian persen dari seluruh tayangan yang masih setia pada nurani. Selebihnya, tayangan “sampah” yang lebih berorientasi pada keuntungan finansial semata. Tidak dapat dipungkiri memang, bahwa tayangan sampah ini selalu jadi top ranking dalam perolehan iklan, perlu diakui karena kemasannya lebih menarik.

Issue yang sempat menghangat adalah tayangan kontroversial Empat Mata. Berdasarkan pemantauan KPI Pusat pada program Empat Mata yang tayang 29 Oktober 2008 episode Sumanto – Mantan Pemakan Mayat, ditemukan adanya pelanggaran. Maka sesuai dengan Undang-undang Penyiaran, KPI memutuskan untuk menghentikan sementara program Empat Mata.

Dalam program Empat Mata pada episode tersebut, salah satu adegan menampilkan seorang bintang tamu, Ibu Lina, yang memakan hewan hidup-hidup. Sehingga program ini dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) karena mengandung adegan di luar perikemanusiaan atau sadistis, mengagung-agungkan kekerasan atau menjustifikasi kekerasan sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari, dan mendorong atau mengajarkan tindakan kekerasan atau penyiksaan terhadap binatang.

Empat Mata sebenarnya merupakan acara talkshow, yang kreatif, orisinal, dan membuka. Setidaknya garapan yang tidak menjiplak seperti banyak variety show lainnya di TV Indonesia. Artinya, warna lokal lebih kental, juga dalam pilihan bintang tamu ataupun materi yang dibahas. Dengan ratusan episode yang ditayangkan, tenaga-tenaga kreatif menjadi terlatih, bahkan tidak mungkin telah terjadi beberapa generasi yang menangani. Terjadi proses pembelajaran yang berkelanjutan.

Saya termasuk yang setuju bila sanksi yang diberikan KPI itu cukup edukatif dan memberi kesempatan. Sebab, misalnya saja dilarang sama sekali, acara itu bisa berganti judul begitu saja. Atau dimirip-miripkan, atau diasosiasikan.

Sanksi satu bulan tidak boleh bersiaran adalah kesempatan yang bagus untuk berbenah diri. Yah, bisa menjadi peringatan buat mas Tukul dan crew Empat Mata untuk lebih berhati-hati dalam setiap tindak-tanduk yang akan ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia. Maklum masyarakat kita masih mudah meniru apa yang ditayangkan televisi.

Bukan hanya tayangan acara TV saja, namun tayangan iklan pun dapat dikategorikan sampah. Contohnya pada bulan April 2008, KPI Pusat meminta seluruh stasiun TV untuk menghentikan tayangan iklan layanan supranatural Ki joko Bodo serta iklan operator seluler XL yang menggambarkan adanya pernikahan manusia dengan binatang (kera dan kambing). Iklan Ki Joko Bodo dinilai mengabaikan nilai agama karena menjanjikan dapat mengubah nasib orang. Sedangkan iklan operator seluler XL dinilai memperolokkan serta merendahkan martabat manusia.

Menurut saya sih, iklan ini lucu dan kreatif. Paling tidak membuat kita tersenyum simpul saat menontonnya. Dan mungkin tujuannya bukan ke arah pelecehan tetapi lebih kepada ’tidak mungkin ada yang lebih murah dari harga pulsa XL’. Kalo menurut saya yang tidak patut di sini adalah bahwa banyak operator selular yang berlebihan dengan menjanjikan promosi perhitungan pulsa yang menjebak konsumen.

Bagaimana menurut kalian dengan iklan agen Sunlight? Iklan ini menggambarkan kreatifitas ibu-ibu untuk mengumpulkan 1000 orang sebagai agen sunlight. Namun caranya ada yang mencuri timbangan posyandu hingga percobaan bunuh diri. Patutkah iklan ini berdasarkan etika? I mean mungkin ada yang berpendapat bahwa iklan ini tidak punya etika karena memberi contoh ’ancaman bunuh diri’ untuk mengajak orang menjadi agen.

Haruskah etika juga wajib dimasukkan ke dalam iklan? Ataukah hal ini akan membunuh kreatifitas?

Bagaimana dengan tayangan sinetron dakwah yang pernah menjadi trend di televisi kita? Benarkah tayangan semacam itu mendidik?

Kenyataannya, sinetron-sinetron yang katanya bertema dakwah itu sebenarnya adalah sebuah pembodohan. Secara psikologis, tayangan semacam ini bisa mempengaruhi pola pikir penontonnya. Pemirsa diajak berpikir secara simple, bahwa apa yang kita lakukan selama hidup akan mendapat balasan secara instan (padahal Islam tidak mengenal hukum karma).

How about trend film layar lebar yang lagi in saat ini, a.k.a horor? Bagaimana menurut kalian?

Sebenarnya sudah ada beberapa tayangan televisi yang sudah mencakup unsur edukasi, sosial, dan hiburan dalam satu paket. Contohnya, sinetron ‘Para Pencari Tuhan’ (SCTV), reality show ‘Andai Aku Menjadi’ (Trans TV), dan talkshow ‘Kick Andy’ (Metro TV). Tayangan-tayangan itu tidak hanya bermanfaat tetapi juga dikemas dengan sangat menarik, bukan?

Jika televisi cenderung menayangkan acara kekerasan, horor mistik, dan semacam itu, maka sesungguhnya televisi menjadi media transformasi pemberitaan kontra budaya yang memiliki makna kehewanan. Acara-acara semacam ini tidak pantas dipertahankan menjadi yang paling dominan dalam tayangan televisi. Namun kekaguman dan selera pemirsalah yang menjadi pertimbangan tayangan-tayangan macam ini terus dipertahankan. Jadi, tayangan media televisi adalah refleksi atau replikasi dari kekaguman dan selera masyarakat itu sendiri (Burhan Bungin, 2003).

Orang media televisi sebagai anggota masyarakat yang diberi kesempatan mengendalikan tekhnologi media televisi, adalah komunitas yang melayani kepentingan publik pada umumnya, tentu mereka mempunyai kata hati, nurani, yang dapat membedakan baik-buruknya suatu tayangan. Jadi, tentu menjadi pengendali arah lain atau ideologi tandingan si kapitalisme. Karena bisa jadi tayangan sampah itu diminati juga oleh keluarga kita, termasuk keluarga orang-orang media itu sendiri.

One thought on “Cegah Tayangan Sampah Atau Membunuh Kreatifitas?

  1. Hei, sy lg cari artikel ttg kreativitas iklan dan etika dan muncul page ini, tapi sy jamin cm buat dibaca aja kok, bkn bwt copy paste paper :)

    Ngomong2 sy mau nanggapin artikel ini,, tentang pertanyaan anda “hrskah etika dimasukkan ke iklan?”
    Well, semua profesi punya kode etik, termsk iklan di indonesia.
    Cek aja website badan pengawas periklanan PPPI (pppi.or.id).
    Tp iklan yg melanggar kode etik tdk bisa disensor (yg berhak nyensor atau melarang tayang itu KPI).

    Trus untuk pertanyaan “atau ini akan bnuh kreativitas?”
    Sy prcaya kreativitas tidak akan terbnuh meski dibatasi kode etik atau norma atau hukum dst.
    Org jenius kreatif yg ssungguhnya itu justru bs menemukan cara utk nyampain pesan yg tepat tnpa melanggar ketentuan apapun ;D

    Sori pjg, nice post anyway

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *