Dampak Negatif Kurangnya Kesadaran Fashion Ramah Lingkungan

 

Tahukah kamu bahwa  fungsi dan dampak dari fashion dalam kehidupan sehari-hari sangatlah besar? Sayangnya dampak besarnya bukan hanya positif sebagai penutup tubuh dan lifestyle, tetapi juga berdampak negative, loh.

Peringatan ini bukan hanya untuk pemerhati fashion saja. Terlepas dari peduli trend fashion atau tidak, mau tak mau kita harus peduli dengan dampak yang diakibatkan oleh kita sendiri sebagai penggunanya. Kenapa harus peduli? Ikuti fakta yang mengejutkannya di artikel ini.

Banyak baju yang berbahan  nilon dan polyester, keduanya terbuat dari petrokimia yang rentan menyebabkan global warming dan  sulit didaur ulang, loh. Nitro oksida diproduksi sebagai bagian dari proses untuk memproduksi nylon. Nitro oksida ini salah satu gas yang berbahaya dalam greenhouse effect yang kekuatannya 310 kali lebih kuat dari  karbon dioksida dalam menyebabkan global warming! Oh my!

Isu  pemanasan global ini mendorong kesadaran para desainer kelas dunia untuk mulai bersahabat dengan lingkungan. Dengan harapan untuk lingkungan yang lebih nyaman,  serta fair trade bagi semua, sebagian dari komunitas fashion dunia berusaha mengubah dunia melalui prduk fashion yang #100persenMentalalam, organic and eco-fashion.

Organic fashion adalah produk fashion yang di produksi dengan meminimalkan penggunaan bahan kimia, termasuk minimalisasi bahan kimia pada setiap langkah pemrosesan, mulai dari proses penanaman dan pemeliharaan bahan baku, pengupasan, pemintalan, sampai hingga ke finishing, sehingga meminimalkan dampak kerusakan pada lingkungan.

Eco-fashion ditujukan produk fashion yang diproduksi menggunakan produk ramah lingkungan. misalnya menggunakan bahan-bahan pakaian lama yang di-recycle atau menggunakan material recycle.

Di Amerika Serikat sudah banyak perusahaan yang mengkhususkan diri dalam merancang, membuat dan menjual pakaian organik dan ramah lingkungan. Beberapa bahan yang digunakan untuk membuat pakaian adalah 100% organik kapas, bambu, rami, wol. kapas daur ulang, plastik daur ulang, dan pewarna berbasis air dampak rendah. Perusahaan tersebut mematuhi prinsip-prinsip Fair Trade, yang berarti  sumber barang-barang mereka berasal dari petani dan pengrajin yang terlibat dalam metode produksi yang berkelanjutan dan mendapat upah yang layak.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Sejumlah daerah, sudah mengembangkan pewarnaan alami. Di Sumatera Utara, perancang busana Merdi Sihombing menggunakan warna indigo yang sangat khas dari tanaman di sekitar Danau Toba. Warna indigonya beda dari indigo di Yogya. Di Alor, Nusa Tenggara Timur, ada perajin yang menemukan 100 warna dari tanaman di sana.

Hanya saja, produsen tekstil dan fashion mengkhawatirkan perwarnaan alami akan meningkatkan biaya produksi, sehingga harga barang akan menjadi lebih mahal. Tak hanya itu, banyak perajin yang hanya mengambil tanaman pewarna alami tanpa mau menanam kembali.

http://www.kidungasmara.com/wp-content/uploads/2012/08/pewarna-batik.jpg

Jadi  gimana, sih, fashion yang ramah lingkungan, yang #100persenMentalAlam ?

Ini kriteria fashion ramah lingkungan berdasarkan Eco Nic (fashion exhibition yang pernah berlangsung di Jakarta):

1. Lokal. Dengan menggunakan produk dalam negeri, emisi yang berakibat polusi udara dari transportasi barang impor bisa dikurangi.
2. Daur ulang. Diciptakan dari bahan baku atau material yang sudah ada sebelumnya. Fashion ini bisa didesain dan diciptakan kembali dengan berbagai ide bahkan bentuk baru.
3. Sustainable fashion.  Pakaian yang terbuat dari katun organik aman bagi petani dan pekerja garmen, karena terbebas dari pestisida dan pupuk kimia.
4. Animal free. Tidak melibatkan pengujian hewan. Bahan organik yang bisa digunakan adalah kain organik yang terbuat dari sumber alami seperti bambu, rami, jelatang, wol, sutra kedelai, kayu, karet, serat pisang.
5. Bebas bahan kimia. Jika menggunakan pewarna, sebaiknya gunakan pewarna yang diekstrak dari bahan vegetatif seperti buah, biji, sayur, daun, batang, atau tanaman lain.
6. Fair traded. Eco fashion tak melulu hanya meminimalisasi dampak negatif pada lingkungan, tetapi juga pada proses pembuatannya, dan  tidak mengganggu manusia dalam bentuk apapun, misalnya uap, gas, debu, kebisingan, suhu, dan lainnya.
7. Modifikasi kreatif. Dibuat dengan menggabungkan berbagai keterampilan pengrajin seperti sulaman, batik dan lainnya, untuk melestarikan budaya indonesia.
8. Vintage. Istilah untuk pakaian baru atau tangan kedua ataupun pakaian bekas yang bisa diubah atau dimodifikasi kembali menjadi pakaian baru yang unik.
9. Efisien. Meminimalisasi penggunaan sumber daya alam, seperti hemat air dan hemat listrik dalam proses produksinya.

Ingin mengubah dunia? Pertimbangkan #100persenMentalAlam, memilih produk ramah lingkungan dan organik untuk pakaian yang paling dekat dengan kulitmu ^,*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *