Dari yang Bersejarah hingga Kulineran di Pontianak

 

Akhirnya, keinginan nonton panjat pinang terpenuhi! Lebih sempurnanya lagi, nonton lomba panjat pinangnya di sungai terpanjang di Indonesia, sungai Kapuas. Serunya, peserta panjat pinang  jatuhnya bukan lagi ke tanah, tapi tentu saja..jatuh ke sungai. Penontonnya pun ramai-ramai memberi semangat dari tepian sungai Kapuas, atau dari atas perahu yang melintas, salah satunya..saya :)

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya mendapat kesempatan jalan-jalan ke kota Khatulistiwa, Pontianak, untuk menyaksikan Karnaval Khatulistiwa yang berlangsung tanggal 22 Agustus 2015. Event nasional ini merupakan puncak dari perayaan hari Kemerdekaan #RI70. Untuk lebih lengkapnya tentang jalannya karnaval, simak saja postingan saya yang berjudul ‘Serunya Karnaval Budaya di Kota Khatulistiwa’.

Nah, mumpung di Pontianak, saya dan teman-teman pun semangat jalan-jalan ke lokasi-lokasi ikon Pontianak. Apalagi kita semua baru pertama kali mengunjungi kota ‘bersinar’ ini. Beberapa orang menyebutnya kota bersinar karena memang panas banget. Hehe.

 

Kafe Perahu Serasan

Salah satu yang ‘surprising’ adalah saat kami diajak ke sebuah restoran perahu yang bertingkat. Kafe Serasan, namanya.  Kafe ini adalah kafe yang terapung diatas Sungai Kapuas. Awalnya kami tertarik dengan suasananya, karena bisa melihat pemandangan di sekitar sungai Kapuas, apalagi di beranda atas. Ya, perahunya bertingkat.

Saat itu menjelang sore. Kami memesan beberapa jenis minuman sambil menunggu senja, berharap bisa ambil foto sunset dengan latar belakang Jembatan Kapuas, dari atas beranda perahu ini. Tentunya akan jadi kenang-kenangan indah bagi kami, para pemburu sunset yang pertama kali ke Pontianak. Dari jauh, kami melihat keramaian warga tepian sungai Kapuas yang sedang seru dengan lomba panjat pinang. Sesekali terlihat peserta yang sudah menaiki batang pinang hingga nyaris ke puncak, tiba-tiba melorot karena licinnya batang pinang yang diolesi oli. Bukan hanya warga yang meneriakkan kekecewaan, kami pun juga, meski dari kejauhan.

Untuk yang belum tahu, panjat pinang ini lomba tradisional yang mungkin paling ditunggu dalam kemeriahan kegiatan HUT RI. Rasanya belum lengkap kalau tidak ada lomba panjat pinang.

Sebuah batang pinang yang tinggi dilumuri pelumas oleh panitia perlombaan. Di mana bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik. Untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut, para peserta harus memanjat batang pinangnya yang licin.

Panjat pinang kini tidak hanya mengandalkan individu yang berebut hadiah, tetapi permainan team work karena untuk menaklukkan licinnya batang pinang tidak bisa dilakukan sendirian, tetapi harus saling bahu-membahu untuk menuju puncak. Saling menaiki bahu teman setimnya supaya ada yang sampai puncak. Ya, untuk mencapai segala sesuatu itu harus bekerja sama.

“Nanti perahunya jalan,” kata guide tiba-tiba.

“Serius?? Bohong ya?” sahut saya yang terkejut mendengarnya.

Teman-teman pun juga terkejut dibuatnya.

Saya pernah naik kapal wisata yang berkeliling sungai kota di Bangkok, tetapi kapal yang mewah, yang besar. Belum pernah melihat atau merasakan keliling sungai dengan perahu kayu bertingkat seperti ini.

Eh, beneran, tak lama kemudian, mesin motor perahu pun mulai dinyalakan, dan perahu pun mulai berjalan! Kami pun makin semangat, karena bakal keliling melihat kota Pontianak dari atas kafe perahu dan mendekati lomba panjat pinang tadi untuk mengabadikan fotonya!

Ya, cukup membayar Rp 15.000,- di luar harga makanan dan minuman, untuk dapat menyusuri sungai Kapuas ini.

Kafe perahu ini cocok untuk wisata bersama teman, kolega, atau keluarga yang baru pertama kali ke Pontianak, atau buat pacaran? Karena kafe ini memang menjual suasana yang tidak akan dapat diperoleh di kota lain, apalagi di saat sore, di mana banyak warga setempat yang mandi atau mencuci di tepiannya. Haha. Kalau beruntung, ya seperti kami, bisa menyaksikan panjat pinang di sungai :)

 

Keraton Kadriah

https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpt1/v/t1.0-9/11866212_10206086500775157_8437758863066474006_n.jpg?oh=9efdcdae1f19345e69c8827a72711b82&oe=5664892B&__gda__=1451077410_8669513bc8e91338e8b6da99d5ec92e8

Salah satu peninggalan bersejarah di kota Pontianak adalah Keraton Kadriah yang berdiri pada tahun 1781. Pendirinya adalah Sultan Sy. Abdurrahman Al Kadri. Lokasinya tepat di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Bangunannya terbuat dari Kayu Belian (kayu besi) yang tetap kokoh, walau umurnya sudah lebih dari 300 tahun. Silsilah sultan Kadriah inilah yang merupakan cikal bakal dari kota Pontianak.

Keraton ini desainnya penggabungan arsitektur pada jaman Belanda, yang memadukan unsur melayu dan Islam. Di depan dan samping kanan-kiri terdapat halaman yang dihiasi oleh meriam peninggalan Potugis dan Perancis, jumlah meriam ada 13.

Keraton ini berwarna kuning, karena dalam tradisi Melayu, kuning melambangkan kewibawaan dan ketinggian budi pekerti. Ukiran pada kusen jendela keraton berupa kaligrafi, sementara di atas pintu, ada hiasan mahkota dengan tiga ornamen bulan bintang yang melambangkan kesultanan Islam. Dindingnya dua lapis, loh, dengan rongga diantaranya, jadi kedap suara.

Bersama salah satu ahli waris keraton Kadriah

Di Keraton ini ada banyak sekali peninggalan, seperti kursi singgasana, tempayan, keris pusaka, tombak penobatan, pedang, cermin seribu, baju kesultanan dan Al-qur’an yang ditulis sendiri oleh Sultan Sy. Abdurrahman. Tahukah kamu bahwa Sultan Sy. Abdurrahman ini yang merancang lambang Negara, Garuda Pancasila? Ada fotonya juga di situ.

“Lihat itu cerminnya, namanya cermin seribu,” ujar seorang Ibu yang tiba-tiba menyolek saya sambil menunjuk cermin di sebelah saya.

Saya pun mengamati cermin besar itu, dan benar,  pantulannya bisa memantulkan bayangan kita hingga ribuan kali! Di dalam cermin ada banyak cermin! Kaca seribu ini berasal dari orang Perancis pada tahun 1823.

Tidak jauh dari Keraton Kadriah ini berdiri masjid Jami yang indah dan menghadap kiblat. Masjid ini juga salah satu bangunan pertama di Pontianak.

Masjid Jami

Kagum dengan arsitektur Gereja Santo Yosef di jalan Pattimura ini

 

Tugu Khatulistiwa

Kota Pontianak merupakan salah satu daerah yang dilalui oleh garis khatulistiwa sehingga untuk menandainya, dibangunlah sebuah tugu yang diberi nama Tugu Khatulistiwa (Equator Monument). Lokasinya di Jalan Khatulistiwa, sekitar 5 Km dari pusat Kota Pontianak. Monumen ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak.

Tugu pertama dibangun pada tahun 1928 bersamaan dengan sebuah ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan garis imajiner Khatulistiwa. Saat itu, bangunannya masih sederhana, yakni berbentuk tonggak dengan anak panah. Tahun 1930, Tugu disempurnakan dengan menambahkan lingkaran pada anak panah. Penyempurnaan selanjutnya dilakukan pada tahun 1938 oleh arsitek Silaban. Baru pada tahun 1990, dengan niat untuk melindungi tugunya yang asli, Pemerintah Daerah Kota Pontianak berinisiatif membangun sebuah kubah. Tugu asli dapat dilihat pada ruang bagian dalam Kubah.

Tugu Khatulistiwa diresmikan pada tanggal 21 September 1991. Namun, pada bulan Maret tahun 2005, sebuah tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengoreksi lokasi titik nol garis Khatulistiwa. Setelah melalui serangkaian pengkajian yang mendalam, tim dari BPPT menyimpulkan bahwa posisi 0 derajat, 0 menit, dan 0 detiknya ternyata berada sekitar 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari lokasi tugu yang sekarang ini.

O ya, bagi para wisatawan yang telah berkunjung disediakan Piagam Perlintasan Khatulistiwa (Certificate of Equator Crossing) sebagai tanda telah melintasi Khatulistiwa di Kota Pontianak di atas garis 109 derajat 20’00” Bujur Timur.

 

Aloe vera Center

Kami juga sempat mengunjungi aloe vera center di jalan Budi Utomo, Pontianak. Di tempat ini kita bisa melihat tanaman Aloe vera dari yang masih mungil hingga yang lebih tinggi dari saya!

Aloe vera ini diolah secara higienis menjadi tepung dan bermacam-macam jenis makanan khas, seperti: dodol, jelly, minuman sari lidah buaya, teh, dan berbagai macam jenis kuliner khas lainnya, atau untuk berbagai produk kecantikan. Kita juga bisa mencicipi makanan hasil olahannya atau sebagai oleh-oleh khas Pontianak. Produk dari industri ini katanya telah diekspor ke beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam, loh.

 

Kuliner

Berbicara soal kuliner….

Kamu belum ke Pontianak kalau belum nongkrong di jalan Gajahmada.  Wajib nongkrong malam hari di cafe atau warkop di Jalan Gajah Mada, karena memiliki keasyikan tersendiri.

Di sepanjang jalan pecinan ini bisa ditemui beragam warung jajanan atau tempat tongkrongan dengan harga terjangkau yang sering dikunjungi masyarakat kota khatulistiwa dari beragam lapisan sosial dan usia. Di sana berjejer dari cafe yang khusus menyajikan minuman sari buah, liang teh, warkop dengan beragam cemilan, jajanan seperti goreng pisang Pontianak, hingga buah. Kami sendiri pesta durian di situ.

Yang menarik adalah suasananya, karena konsepnya terbuka, pinggir jalan raya, tetapi luas. Tidak seperti kulineran di kota lain seperti Jakarta, misalnya, jika kulinerannya di tepi jalan raya ramai begitu, pasti sudah bau asap kendaraan bermotor, kecuali agak menjorok ke dalam.

Bagi pencinta bola, ada beberapa cafe di sepanjang jalan ini yang menyediakan layar lebar untuk acara nonton bareng, dengan konsep terbuka tanpa dinding juga. Di sepanjang jalan sentral di Pontianak ini dapat ditemui sejumlah hotel dan penginapan, seperti hotel Harris atau Aston, tempat kami menginap.

Ada tempat kulineran yang juga wajib didatangi kalau sedang ke Pontianak. Kuliner ini terkenal di antara mereka penikmat dimsum, yaitu Chai Kue A Hin yang terletak di Jalan Siam, makanya tak jarang orang mengenalnya Chai A Hin Siam.

Kuliner satu ini banyak direkomendasikan. Begitu tahu saya ke Pontianak, teman-teman merekomendasikan untuk , mencobanya, katanya enak.  Kue chai ini berupa sayuran macam kucai, kacang hijau, talas, dan bengkoang atau isian lainnya, yang dibungkus kulit tipis dari tepung beras. Dimakannya bersama kecap, sambal, atau saos. Rasanya? Beberapa teman suka, tetapi entah kenapa, saya mati rasa, haha, lidah saya tidak cocok dengan rasanya. Mungkin waktunya yang salah, kekenyangan sehabis makan besar, sehingga sudah tak nafsu lagi.

Hehe

Selain kue chai atau banyak juga yang menyebutnya choi pan, masih ada menu lainnya yang bisa dipesan di sini salah satunya siomay dengan banyak varian isian. Kalau tidak cocok dengan rasa kue chai, mungkin rasa siomay-nya lebih umum, walaupun tetap beda dengan yang lain.

Penasaran? Ayo coba donk, dan ceritakan, lidah kamu pas dengan rasanya atau tidak? :)

Pasar oleh-oleh aksesoris khas Kalimantan Barat di jalan Pattimura

Pasar oleh-oleh aksesoris khas Kalimantan Barat di jalan Pattimura

4 thoughts on “Dari yang Bersejarah hingga Kulineran di Pontianak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *