Desa Sasak Sade, Tentang 3 Desa Wisata Lombok yang Wajib Dikunjungi

Terlalu banyak adat istiadat yang unik yang menarik dipelajari di Indonesia. Dan saya beruntung bisa mendapat kesempatan mengenal dan mempelajari warisan budaya itu dalam perjalanan mengelilingi sebagian propinsi di Indonesia bersama Indonesia Travel, November 2015 lalu.

Kali ini saya akan melanjutkan memperkenalkan salah satu desa, dari 3 desa wisata yang wajib dikunjungi di Lombok, yaitu Desa Sade.


Desa Sasak Sade

Desa Sade terletak di Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Desa ini terkenal masih mempertahankan tradisi Suku Sasak, suku asli yang mendiami Pulau Lombok. Itulah mengapa desa wisata yang satu ini lebih dikenal dengan nama Desa Sasak Sade. Desa Sade memiliki luas kurang lebih 6 ha, dengan 152 kepala keluarga. Pemerintah daerah dan pemangku adat desa sengaja mempertahankan keaslian adat istiadat lokal di desa ini.

 

Begitu masuk ke desa ini, akan tampak jelas keunikannya, di mana bangunan rumah masih sangat tradisional, beratapkan ijuk atau rumbia, berdinding anyaman, dan beralaskan tanah liat tanpa dilengkapi kursi. Tapi yang paling unik… lantainya secara rutin dibersihkan dengan kotoran kerbau, yang katanya bisa menutupi lubang-lubang lantai rumah. Herannya saya tidak mencium bau kerbau di sana. Ajaib!

Ada 3 anak tangga yang harus dilewati ketika memasuki bale dalam rumah, yang ternyata jumlah anak tangga ini memiliki filosofi. Tiga anak tangga atau Wetu Telu, maknanya sebagai 3 tahapan hidup yaitu lahir, berkembang, dan mati. Daun pintu rumah dibuat lebih rendah dibanding tinggi pemiliknya. Filosofinya, agar setiap yang bertamu menghormati pemilik rumah dengan cara menundukkan kepala :)
Selain rumah, ada juga bangunan lumbung padi yang beratapkan ijuk, yang difungsikan untuk menyimpan persediaan padi.

Jika di tempat lain kawin lari itu aib, di desa Sade, kawin lari menjadi kebanggaan. Bukan karena hubungan mereka tak direstui, justru sebaliknya! Menculik atau membawa kabur seorang wanita berarti memberi tanda bahwa ia siap dipinang. Ini adalah adat masyarakat Sade.

Yang unik lagi, adalah bahwa warga Sade menikahi sepupu atau saudara dekatnya sendiri. Jika menikah dengan pihak dari luar daerah, maka harus memenuhi syarat mas kawin 1-2 ekor sapi. Serba unik, kan? Memang keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia.

O ya, begitu kita memasuki desa Sade, di sepanjang jalan kita akan disambut oleh senyuman warga yang ramah sambil menjajakan dagangannya, dari nenek-nenek cantik berusia 85 tahun, hingga gadis kecil.

Dagangan yang dimaksud berupa cindera mata kain songket, gelang, selendang, kipas, dan lainnya. Di sini harganya jauh lebih murah dari harga di desa Sukarare, loh, apalagi kalau pandai menawar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *