Desa Sukarare, Tentang 3 Desa Wisata Lombok yang Wajib Dikunjungi

Bhinneka Tunggal Ika itu memang kekuatan Indonesia. Semakin saya pergi ke suatu daerah untuk mengenal adatnya, semakin saya mengenal Indonesia, sekaligus semakin merasa kecil karena ternyata banyak yang tidak saya ketahui sebelumnya.


Contohnya saat berkunjung ke Lombok bersama Indonesia Travel November 2015 lalu. Umumnya ke Lombok itu hanya untuk menikmati keindahan alamnya, namun kali ini kami diajak mengenal 3 desa adat yang unik banget! Ini salah satunya…

Desa Sukarare

Desa ini terletak di Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat. Menuju Desa Sukarare ini sekitar 25 Km dari kota Mataram.

Yang menarik dari desa ini adalah para perempuannya bermata pencaharian sebagai penenun songket untuk menjaga kelestarian budaya tenun tradisional. Umumnya keahlian menenun ini diperoleh dari ibu yang diwariskan ke anak gadisnya. Begitu seterusnya, sehingga motif dan warna kain songket Lombok tetap terjaga. Songket dari Desa Sukarare terkenal dengan ciri khas kain songket yang berpola cerah, bermotif tradisional timur, dengan pemakaian benang emas dan perak.

Kain tenun songket Lombok ini pembuatannya masih memakai alat tenun tradisional yang sederhana dan terbuat dari kayu, jumlahnya pun terbatas. Karenanya proses produksi kain songket Sukarare membutuhkan waktu lama. Bahan pewarna yang digunakan pun sangat alami, antara lain, pohon mahoni, batang jati, biji asam, batang pisang busuk, kulit manggis, dan kulit anggur.
Nah, sekarang bagian uniknya.

Bisa menenun kain songket ini wajib hukumnya bagi perempuan dewasa Sukarare, karena dalam pesta perkawinan, calon mempelai wanita wajib memberikan kain tenun buatannya sendiri untuk calon pasangannya. Perempuan yang tidak dapat menenun dianggap akan kesulitan memperoleh jodohnya. Bahkan di desa ini ada peraturan bahwa perempuan yang tidak bisa menenun tidak boleh menikah! Memang keunikan keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia.

Saya sempat mencoba menenun songket menggunakan alat tenun sederhana dengan panduan dari seorang perempuan desa Sukarare. Awalnya bingung, lama-lama seru keterusan. Hehe. Yay, saya lulus tes menenun!
Menenun dengan alat tenun tradisional ini tekniknya berupa penambahan benang, motifnya dibuat melalui penyisipan benang emas, perak, atau benang yang berwarna di atas benang lungsi.

 

Ternyata prosesnya lama, maklum manual. Sehari menenun hanya menghasilkan 15 cm kain songket, jadi memerlukan waktu 1 bulan untuk membuat 1 lembar kain, sepanjang kira-kira 1 meter! Bagaimana harganya tidak lebih mahal dari kain tenun modern?! Cara pembuatannya saja sangat istimewa.

Hasil tenun tradisional ini selain menjadi sehelai kain songket khas Sukarare yang indah atau selendang, bisa juga menjadi cindera mata seperti taplak meja, selimut, sajadah, dan slayer, dengan berbagai motif yang indah dan cerah, sehingga menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan domestik maupun mancanegara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *