Di Balik Ide Menekan Pernikahan Dini, Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2018

IMG_20181028_131003Seberapa sering kamu mendengar komentar pesimis untuk Indonesia di social media? Saya, sering sekali. Bahkan akhir-akhir ini banyak yang berusaha menyebarkan ketakutan akan masa depan Indonesia, tanpa berbuat positif untuk Indonesia. Segala kekhawatiran tentang masa depan Indonesia mungkin sedikit demi sedikit akan berkurang kalau sering-sering mengikuti info ajang apresiasi untuk anak bangsa yang kreatif semacam 9th SATU Indonesia awards 2018. Banyak generasi muda yang menyebarkan virus-virus positif untuk masa depan bangsa, dari pembudidayaan tanaman buah langka, memberdayakan sarjana lewat aplikasi, sampai menekan pernikahan dini!

27 Oktober 2018 lalu, saya menyaksikan langsung Apresiasi Astra Untuk Anak Bangsa 9th SATU Indonesia Awards 2018 yang berlangsung meriah di Cendrawasih Room, Jakarta Convention Center. Ada yang berbeda pada malam penghargaan 9th SATU Indonesia Awards 2018 ini, yaitu untuk pertama kalinya diadakan pada malam puncak IdeaFest 2018.

IdeaFest adalah festival kreatif tahunan yang mempertemukan profil-profil kreatif muda lintas industri. IdeaFest 2018 sendiri secara resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 26 Oktober 2018.
“Banyak lompatan-lompatan yang dikelola anak-anak muda generasi milenial. Mereka inilah yang menggerakkan Indonesia ke depan,” tutur Presiden Joko Widodo dalam sambutannya.

Sejalan dengan harapan Presiden Joko Widodo tadi, 7 anak muda yang berkontribusi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya menerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards 2018 yang diinisiasi oleh PT Astra International Tbk dalam rangka memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.

Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto dan para penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018 (Dok. Foto: PT Astra International Tbk)

Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto dan para penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018 (Dok. Foto: PT Astra International Tbk)

Ketujuhpenerima 9th SATU Indonesia Awards 2018 ini adalah:

1. Nordianto (Kesehatan– Kalimantan Barat) dengan program edukasi kesehatan terhadap remaja usia sekolah dalam rangka menekan usia pernikahan dini.
IG @nordiantohartoyosanan
2. Surya Dharma (Pendidikan – Sulawesi Tengah) dengan program wajib belajar 12 tahun.
IG @suryamadikaproduction
3. Mohamad Hanif Wicaksono (Lingkungan – Kalimantan Selatan) dengan program konservasi tanaman buah asli Kalimantan.
IG @sano_cy
4. Franly Aprilano Oley (Lingkungan – Kalimantan Timur) dengan program pengelolaan kawasan hutan lindung karst.
IG @franlyoley
5. Narman (Kewirausahaan – Banten) dengan program promosi dan penjualan kerajinan khas Baduy Luar.
IG @baduycraft
6. Azza Aprisaufa (Teknologi – Aceh) dengan program penyediaan kebutuhan masyarakat melalui aplikasi saufacenter.com
IG @azzaaprisaufa
7. Meidy Fitranto & Faris Rahman (Kelompok – DKI Jakarta) dengan program pendirian perusahaan bernama Nodeflux untuk menyediakan teknologi berbasis intelligent video analytics dengan deep learning dan computer vision.
IG @nodeflux

Ketujuh penerima apresiasi ini adalah sosok generasi muda yang nggak cuman inspiratif, tapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selamaaat!👏👏

Utuk info lebih lengkap tentang penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018, klik aja www.satu-indonesia.com/satuindonesiaawards

.
Dewan Juri Versi 2018

Untuk mendapatkan penerima apresiasi terpilih dengan kualitas baik, tentu saja dibutuhkan kualitas juri yang baik juga. SATU Indonesia Awards 2018 melibatkan sejumlah juri panelis dari PT Astra International Tbk dan Tempo Media Group, dan juga 5 orang juri ternama dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman yang kompeten di bidang yang dilombakan.

Bersama Prof. Emil Salim, salah satu juri 9th SATU Indonesia Awards 2018

Bersama Prof. Emil Salim, salah satu juri 9th SATU Indonesia Awards 201

Berikut nama-nama juri yang dimaksud:
* Prof. Emil Salim (Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Indonesia)
* Prof. Nila Moeloek (Menteri Kesehatan Republik Indonesia)
* Prof. Fasli Jalal (Guru Besar Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta)
* Ir. Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan)
* Onno W. Purbo, Ph.D (Pakar Teknologi Informasi)
* Bambang Harymurti (Komisaris PT Tempo Inti Media Tbk)
* Boy Kelana Soebroto (Head of Corporate Communications Division PT Astra International Tbk)
* Riza Deliansyah (Head of Environment & Social Responsibility Division PT Astra International Tbk)
* Nadiem Makariem (Founder & CEO GO-JEK)

Berbeda dari SATU Indonesia Awards beberapa tahun sebelumnya, pada tahun ini dihadirkan satu juri tamu untuk SATU Indonesia Awards 2018 yang kiprahnya sudah terbukti mewakili kreativitas anak muda Indonesia dan berhasil mengubah kehidupan masyarakat luas, yaitu Nadiem Makarim. 

Jumlah Peserta Melonjak

Menurut Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto, Astra menginisiasi program SATU Indonesia Awards karena percaya masa depan bangsa ini terletak di pundak anak muda Indonesia. Mereka inilah penggerak Indonesia ke depan. Tahun ini Astra berkolaborasi dengan IdeaFest 2018 agar lebih banyak lagi dapat menginspirasi anak muda Indonesia, sehingga semakin banyak mereka membuat perubahan positif demi kemajuan bangsa.

Hingga saat ini telah terpilih 53 orang penerima apresiasi SATU Indonesia Awards tingkat nasional dan 192 orang penerima apresiasi tingkat provinsi yang telah berkarya dalam berbagai kategori Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, Teknologi dan Kelompok. Tahun ini Astra memberikan bantuan dana kegiatan masing-masing senilai Rp60 juta dan pembinaan kegiatan kepada para penerima apresiasi tingkat nasional.

Yang menarik, tahun ini jumlah pendaftar program SATU Indonesia Awards 2018 mencapai 5.961 orang, yang berarti melonjak 84,3% dibandingkan jumlah pendaftar tahun 2017 yaitu 3.234 orang. Hebatnya lagi, makin banyak peserta mudanya!

Bintang Tamu

Malam apresiasi itu juga seperti mempertemukan generasi lama dengan generasi baru, karena menghadirkan bintang tamu dari GIGI sampai Gloria Jessica dan Tulus. ❤️

Bahagia bisa nonton GIGI, euy. Saya suka lagu-lagunya, menyenangkan didengar. Juga berasa kembali ke masa muda tanpa dosa. 😂
Gloria Jessica, she’s one of my fave female Indonesian singer! I love her voice! Unik! ❤️

Lalu…Tulus. What can I say…selalu terharu dengar lagu-lagunya karena minim tentang cinta cewek cowok, lebih ke cinta universal, terutama lagu ciptaannya ‘Manusia Kuat’. Inspiring!
Dengar lagu-lagunya saja bisa menguatkan, karena banyak juga dari pengalaman pribadinya yang simple namun menginspirasi.

 

Menekan Pernikahan Dini

Semua penerima apresiasi 9th SATU Indonesia Awards 2018 sangat menginspirasi. Beberapa bahkan mengusahakan dengan modal sendiri yang sangat minim. Narman dengan Baduy Craft-nya, misalnya. Atau Mohamad Hanif dengan program konservasi tanaman buah asli Kalimantan, yang mungkin tidak pernah terpikir oleh kita yang hanya sekadar penikmat buah.

Namun ada satu penerima apresiasi yang idenya menarik perhatian saya, yaitu ide Menekan Pernikahan Dini. Ya, saya sangat mendukung gerakan ini karena saya sendiri juga concern dengan permasalahan tersebut. Sangat-sangat tidak setuju dengan pernikahan dini, termasuk dengan embel-embel agama. Nah, yang membuat saya penasaran, bagaimana cara Nordianto mengubah budayanya?

Screenshot_2018-10-29-17-36-53-690_com.instagram.android

Seperti kebanyakan kita yang suka nonton film superhero, lalu mimpi punya kekuatan super dan jadi superhero, itu pula yang diimpikan Nordianto, pemenang yang berasal dari Kubu Raya, Kalimantan Barat, bisa membantu banyak orang. Ia yakin siapa pun itu bisa mengambil peran untuk menjadi pahlawan di lingkungannya.

Lewat kegiatan GenRengers Educamp, aktivitas camp yang secara rutin digelar sebagai bentuk pendidikan alternatif, ia melahirkan relawan yang peduli dan paham soal isu-isu kesehatan, khususnya pernikahan usia dini dan pola pergaulan remaja. Aktivitas yang ia gagas sejak 2016 tiap dua pekan sekali ini pun menghadirkan jiwa-jiwa kepahlawanan versi mereka.

IMG_20181029_173347

Apa sebenarnya yang mendasari ide Putra Pariwisata 2017 ini tentang pencegahan pernikahan dini?

Tidak bisa dipungkiri, Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan angka perkawinan usia dini yang tinggi, 104 dari 1.000 perempuan menikah di usia 15-19 tahun. Hal ini menjadi salah satu latar belakang mengapa ide GenRengers Educamp tercetus. Fokus utama GenRengers Educamp adalah kemah atau kegiatan outdoor yang mengombinasikan kegiatan fun-learning di daerah-daerah perbatasan Indonesia-Malaysia dan 14 kabupaten/kotamadya di Kalimantan Barat, dengan misi menyampaikan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja dan Kampanye Stop Perwakinan Usia Anak.

Nordianto memiliki pemikiran bahwa remaja mampu menjadi superhero bagi lingkungannya, dan mereka perlu kekuatan super yang mereka bisa dapatkan dari kegiatan ini.
“Saya tidak bermimpi anak-anak ini dapat menolong jutaan remaja lainnya. Mimpi saya, mereka dapat selamat dahulu dan kemudian dapat menjadi role model bagi sebaya mereka dan akhirnya remaja lain akan mengikuti apa yang mereka kerjakan,” kata Nordianto.

Ia melihat perkawinan usia anak ini sangat dekat dengan kehidupannya. Kebetulan ibundanya menikah di usia 16 tahun, dan ia tahu betul apa dampaknya bagi sang ibu, khususnya bagi kesehatan beliau. Menurutnya, perkawinan usia anak memberikan dampak buruk bagi perempuan, tidak hanya bagi masa depannya, tapi juga bagi kualitas hidupnya dan generasi yang akan dilahirkan.

IMG_20181029_173435

Nama GenRengers sendiri bisa bermakna dua hal, GenRe Rangers atau pejuang GenRe (Generasi Berencana), dan Gen Rangers atau bibit alamiah pahlawan super. GenRengers Educamp merupakan kegiatan yang dapat menstimulasi aktivitas yang positif dari remaja yang dilakukan melalui kegiatan Fun Games, pemberian materi terkait kesehatan reproduksi remaja, kampanye stop perkawinan usia anak dengan pembuatan prototype, penggalian informasi atau identifikasi masalah remaja, penggalian ide dan solusi kreatif, GenRepreneurs (Entreprenuers Remaja), Mini Talkshow, dan GenRe Minat Bakat yang dikemas dalam kegiatan outdoor (camp).

Peserta educamp berusia antara 10-24 tahun yang tersebar di 14 kabupaten/kotamadya di Kalimantan Barat, pesertanya beragam, baik pelajar, pekerja remaja, ataupun anak putus sekolah. Konsep utama yang diangkat adalah kegiatan fun-learning di alam. Nordianto dan teman-temannya tidak pernah memaksa remaja untuk terlibat dalam acara ini. Ia ingin mereka dengan kesadarannya yang datang sendiri ke acara ini untuk mengapasitasi diri mereka, dan akhirnya mendapatkan jaminan akan hidup yang lebih baik. Semua kembali pada pilihan mereka sendiri.

Hingga kini ada sekitar 20 tenaga relawan inti yang tergabung dalam tim inti GenRengers Educamp. Harapannya, dari setiap educamp yang dihelat, akan selalu lahir relawan baru untuk mengambil peran menekan tingginya angka perkawinan dini di daerah asal mereka.

IMG_20181029_173322
Hambatan

Hambatan sudah pasti sering dialami Nordianto dan teman-temannya.
* Dukungan dari pihak-pihak luar mungkin belum sepenuhnya, tetapi justru inilah yang menjadikan mereka kuat dan tangguh.
Bagi mereka, ada atau tidak ada bantuan dari pihak luar, hal baik ini akan mereka lakukan karena mereka ada bukan karena ingin membantu institusi-institusi lain, tetapi ingin membantu sahabat mereka sendiri.

* Akses yang jauh dan sulit untuk dijangkau.
Mereka sering menggunakan sepeda motor untuk melakukan kegiatan di daerah-daerah (14 kabupaten/kotamadya) bahkan sampai ke perbatasan. Selain itu, perkawinan usia anak sudah hidup dan berkembang di masyarakat, sehingga hal ini harus pelan-pelan dikikis agar tidak terjadi bentrok antara niat baik mereka dan kesalahpahaman masyarakat tentang perkawinan usia anak yang selalu dianggap solusi untuk menghindarkan zina atau menutupi anak remaja mereka yang hamil di luar nikah.

“Yang saya lakukan bersifat pencegahan. Jadi sejauh ini saya rasa siapapun asalkan memiliki informasi yang memang betul adanya dan berdasarkan teori dan fakta, semua orang bisa bergerak di isu ini,” tambah Nordianto tentang ide Menekan Pernikahan Dini.

Ke depannya, Nordianto akan meluncurkan rumah enggang muda sebagai salah satu tindak lanjut kegiatan ini. Anak-anak yang ia temukan di daerah saat ini, mereka sedang berkuliah dan menjadi relawan aktif, dan ia akan membantu mereka untuk membuat project-project kebaikan mereka. Rumah enggang juga akan menjadi rumah konsultasi remaja yang terintegrasi dengan kegiatan kewirausahaan remaja. Selain juga ternyata ia sendiri memiliki rencana untuk lanjut sekolah S2 Ekonomi atau Public Health di luar negeri.

Wah, good luck, ya! Semoga makin banyak ide brilliant untuk Indonesia.👍

Untuk pembaca, bagaimana? Sudah terinspirasi mendobrak budaya sekitar seberani Nordianto, kah? Semoga ada yang tergerak, jadi bisa ikut jadi peserta SATU Indonesia Awards berikutnya.😉

2 thoughts on “Di Balik Ide Menekan Pernikahan Dini, Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *