Dicari, Pers yang Adaptif dan Berkualitas

Press and me, love and hate relationship :)
Tanggal 9 Februari lalu adalah Hari Pers Nasional.
Saya sendiri berawal sebagai jurnalis. Itu profesi pertama, fyi :)

Kenapa love and hate relationship?

Saya seorang praktisi Public Relations, yang berawal dari seorang jurnalis juga. Tahu, kan, bagaimana hubungan kedua profesi itu? Ya, saling membutuhkan. Tetapi kadang bisa jadi boomerang saat berada di posisi sebagai social media personality.


Nah, awal 2015 nama saya sempat jadi bulan-bulanan berita ngawur akibat pers, media online & cetak, yang terlalu malas konfirmasi berita kepada saya atau malas belajar pahami cara kerja social media, soal apa itu istilah repath, retweet, quoted tweet (tentang kasus restaurant, if you know what I mean).

Saya pernah jadi jurnalis. Bukankah tugas dasar jurnalis itu bertanya untuk menemukan fakta, ya? Bukan sekedar memuat berita yang trendi berdasarkan persepsi semata :(

Saat itu media online-nya sudah parah, memuat tanpa konfirmasi, dan kurang paham socmed, eh media cetaknya, yang memuat sebulan setelah kasus selesai, tanpa update dan konfirmasi pula. Jadilah…sudah terlambat,tidak update, tanpa konfirmasi pula..jadilah…berita salah kaprah!
Bagi media-media itu mungkin sekedar khilaf, bagi saya, itu tercetak seumur hidup dan tak bisa dihapus. Kalau digoogling, berita soal novel saya, atau hasil karya lainnya, tertutup berita sampah :(

Jadi tahu betapa parahnya beberapa (banyak) media di Indonesia. Kurang kredibel. Bukan mencari fakta, hanya mengumpulkan gossip untuk mencari sensasi.

Alhamdulillah yah..sesuatu..kalo kata Syahrini :), pertengahan 2015 – awal 2016 sudah jadi tahun yang menyenangkan banget, banyak media coverage (TV, online, cetak), dari wawancara sebagai blogger, social media personality, sampai (((fotografer))) :)

 Akhirnyaaaa…diakui sebagai fotografer. Hahaha

Ya, Tuhan nggak akan kasih cobaan yang melebihi kemampuan kita, lah ya. Kalau sabar, semua berbalik makin bagus, berlipat ganda :)

So, selamat Hari Pers Nasional :)
Buat pelaku media, khususnya yang senior, nggak perlu bilang blogger itu instan, tidak profesional, atau apalah. Nggak usah takut kalah pamor. Kredibilitas dan profesionalisme media atau blogger balik lagi ke oknum masing-masing. Baiknya saling membantu, bukan bersaing tak sehat.


Pembaca pun sudah bisa memilah mana blogger yang instan dan tak profesional, pun dengan media. Tidak semua jurnalis yang memiliki kartu pers resmi atau medianya itu pasti profesional. Sebaliknya, banyak blogger yang profesional berlatar belakang pendidikan yang bagus atau pengalaman yang tak kalah kerennya dengan pelaku media, bahkan juga pernah ambil pendidikan jurnalistik, seperti..saya :)

Kami, blogger, generasi baru, mungkin kalah pengalaman masa lalu, tetapi kami menawarkan visi yang lebih panjang ke depan :)

Jangan menyalahkan tekhnologi dan citizen journalism. Yang penting siapa luwes, adaptif, dan berkualitas, kan? Karena sekarang jurnalisme tidak cukup hanya paling cepat, komprehensif, dan terpercaya, tetapi juga soal kemampuan menangkap perhatian pembaca (viral) dan membuatnya loyal. Akan selalu ada tantangan mengikatkan diri kepada audience-nya.

Perlu diingat, peristiwa-peristiwa besar yang diliput media massa belakangan ini sering muncul setelah viral di media sosial.

 

Sekali lagi..selamat Hari Pers Nasional, semoga dunia pers di Indonesia makin baik menyajikan fakta di tengah kehidupan berdemokrasi yang makin matang :)

3 thoughts on “Dicari, Pers yang Adaptif dan Berkualitas

  1. Setujuuuuuuuu
    Hadeuh, kagum banget pokoknya. Ini tipe wonder woman yang seharusnya dimiliki setiap perempuan. Berani mencoba, dan optimis.

  2. Pers adalah pilar ke-4 setelah Legislatif,Excutif,Yudikatif. Tiap pilar memiliki tupoksi masing-masing, termasuk Pers yang memberitakan dan mengkonstruksi opini publik terhadapnya.
    Peran ini seharusnya membuat pers mengetahui existensi hakikatnya begitu penting, objective & fakta wajib ‘dihadirkan’ sehingga tidak ada opini purba sangka yang membingungkan publik.
    Menjadi pers yang independen & netral membentuk bangsa yang sehat dan bersih, pers yang bertanggung jawab terhadap kebenaran (jujur) beritanya, membuat pers menjadi ‘andalan’ publik dalam mengambil persepsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *