Dilema Muslim di Indonesia & Kritik Sosial Perda

_20160614_001103

Dilema. Saya bangga bisa ‘memilih’ Islam. Tetapi kadang saya malu jadi muslim (muslimah) di Indonesia, kadang pula saya marah. Tak jarang tersinggung jika ada yang salah memahami Islam, sering juga bingung harus bagaimana menjelaskan.

 

Dipikir-pikir, tiap hari besar atau peringatan atau pengumuman baru yang berhubungan dengan agama, entah Islam entah lainnya, selalu saja diikuti twitwar, perang argumentasi di media sosial twitter. Ada saja yang dikritik. Ada yang lebay, mengada-ada, sekedar cari sensasi, ada juga yang memang perlu dikritik.

Ada beberapa pernyataan dari mereka yang dibilang ‘influencer’ yang bikin adem, tapi banyak juga yang jauh dari bijak. Ya you know the perks of being influencer, and you (should) know how you (should) behave.

Kita tahu banyak pengguna media sosial yang mudah baper (bawa perasaan), mudah emosi, dan tak sedikit pula yang mudah diombang-ambingkan massa, ngikut aja, gitu, tanpa dipikir panjang.

Kembali ke soal Islam di Indonesia. Ada beberapa aturan atau masalah yang memang perlu dikritik, tetapi juga perlu dipahami, contohnya, yang baru saja terjadi, screenshot-nya tersebar di timeline social media. Tampak ibu-ibu penjual nasi yang menangis karena warungnya ditutup paksa oleh petugas, dengan alasan berjualan saat siang hari di bulan Ramadan.

Beberapa netizen mempersepsikan bahwa ini sangat berlawanan dengan tujuan dilakukannya operasi penutupan paksa dari petugas satpol PP kota Serang, yaitu soal toleransi. Katanya penjual harus toleransi saat bulan Ramadan.

Menurut pendapat banyak netizen, hal ini berlawanan dengan istilah ‘toleransi’ sendiri. Kalau memang harus toleransi terhadap muslim yang menjalankan puasa Ramadan, kenapa tidak ada toleransi terhadap yang tidak menjalankan?

images (8)

Apa yang saya tahu tentang toleransi? Mungkin saya sendiri masih mencari jawaban tentang makna toleransi. Tetapi berada di keluarga dengan 4 keyakinan berbeda dan tak ada masalah, tentu sudah menjalani sebagian dari ‘toleransi’. Ya, keluarga saya terdiri dari umat Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Hindu.

Saya muslim(ah). Muslim tidak butuh dimanja dengan menutup warung makan atau menambah korden saat bulan Ramadan. Bukannya makna puasa itu melawan cobaan? Lapar dan haus itu salah satu cobaan. Tetapi lapar dan haus hanya dua cobaan yang tidak sulit sebenarnya, karena cobaan puasa yang sulit itu ya menahan diri dari emosi, nafsu, ego, dan semacamnya.
Kalau cobaan puasa hanya lapar dan haus, ya surga bakalan penuh! Apalagi kalau dimanja begitu. Weww 😒

Kalau ada aturan ketat soal buka warung siang hari seperti itu, saya ikut malu karena sebenarnya tidak butuh dimanja.

Dan ibu-ibu pedagang itu cuma mencari nafkah untuk keluarganya, seperti yang lain. Kalau dirazia dan tutup paksa, gimana mau makan? Apa pemerintah mau nafkahin keluarga mereka?

Tetapi, di sisi lain, saya tahu kota budaya kota Serang itu seperti apa. Keluarga saya tinggal di Cilegon yang bertetangga dengan Serang dan kurang lebih sama. Di sana memang sedikit mirip dengan Aceh, sebagian besar penduduknya muslim, hanya lebih soft aturannya. Dan perda tidak berjualan (kuliner) saat puasa Ramadan memang sudah lama adanya, sekitar 10 tahun, penduduk kota Serang hampir tak ada yang protes, karena memang sebagian besar menjalankan ibadah puasa.

Teman-teman yang tinggal di Serang pun juga mengatakan bahwa aturan ini diterima dan tak ada masalah. Bukan karena terpaksa, tetapi karena budaya, sudah terbiasa dengan suasana Ramadan.

IMG_20160613_181146

So, bisa jadi si ibu dan pedagang lainnya yang tidak menaatinya.
Saya senang, teman-teman netizen masih punya hati nurani, gotong-royong membantu ibunya, tetapi juga perlu berpikir bahwa para penjual itu tidak menaati peraturan.

Di manapun pasti memiliki aturan yang harus dihormati dan wajib kita taati, bukan? Jangan-jangan, kita memberi contoh rebel dengan melawan peraturan yang sudah 10 tahun berjalan.

Tetapi masalah begini kadang memang bikin buruk nama Islam. Nila setitik, rusak susu sebelanga. Kesannya semua muslim egois, butuh dimanja dan merasa mayoritas.
No! Kita tidak butuh dimanja dan tidak ingin memanfaatkan ke-mayoritas-an.

Jadi alih-alih mengajak melawan peraturan yang ada saat masih berjalan, baiknya kita gotong-royong mendorong pemerintah menghapus atau menggugat Perda-nya saja, kalau memang itu menjadi masalah, supaya tak ada lagi korban razia.

Kemudian soal istilah ‘haram’. Seperti sudah saya bahas di artikel sebelumnya. Banyak netizen yang lebay menanggapi. Tersinggung dengan istilah ini.

Baiknya berpikir saja seperti aturan seragam kerja. Tiap kantor memiliki seragam kerja. Bila ada karyawan yang mengenakan seragam kantor lain, tentu bakal aneh, dan melawan peraturan.

Seperti itu juga istilah ‘haram’ yang tak lain untuk umat Islam, bukan untuk keyakinan lainnya. Kalau muslim tidak menaati atau menjalankan aturan agama lain, ya dianggap tidak beriman, tidak berlaku untuk umat agama lain. Jadi yang beragama lain tidak perlu tersinggung.

Saya muslim, saya tidak mendukung perjuangan dengan kekerasan dalam bentuk apapun itu, karena Quran yang saya pelajari tidak mengajarkan itu.

images (12)

Jadi jangan ada lagi yang bilang ke followernya bahwa keyakinannya mengajarkan toleransi dengan kedamaian, dan seakan-akan Islam tidak.

Islam dan Quran yang saya kenal mengajarkan kedamaian (Rebel gini, saya qatam Quran dan terjemahannya, loh. Hihi). Hanya saja banyak yang salah paham saat mempelajarinya. Maybe they lost in translation.

Sebaiknya jangan mudah baper tiap membaca berita di media atau social media. Jangan mudah terprovokasi. Tetapi juga jangan kehilangan hati nurani.

Jangan ada saling nge-judge. Jangan sampai ada ‘The only crime we make is our religion’.

Tuhan kita satu, caranya saja yang beda. Tuhan kita satu, dan Dia tak butuh dibela.

8 thoughts on “Dilema Muslim di Indonesia & Kritik Sosial Perda

  1. Tulisan yang menarik Mba Leoni, saya sepakat dengan opini mba Leoni yang menjelaskan tentang “Muslim tidak butuh dimanja dengan menutup warung makan atau menambah korden saat bulan Ramadan.” kita sebagai seorang Muslim perlu memahami bahwa puasa juga bukan hanya menahan lapar dan haus saja akan tetapi menahan godaan hawa nafsu. Thanks atasinspirasi yang diberikan, Ditunggu tulisan terbarunya Mba ^_^

    Nb:
    Kalimat “Rebel gini, saya qatam Quran dan terjemahannya, loh. Hihi” lebih baik tidak perlu dicantumkan, karena nantinya akan mempersepsikan para pembaca bahwa Mba Leoni memiliki sifat Riya…..

    • terima kasih catatannya.
      Tapi kalau ada yang bilang riya, ya biar saja, berarti suudzon.
      Padahal maksud saya nulis gitu, karena penampilan saya, nama, atau bahkan wajah saya tidak menunjukkan muslimah, i know, bahkan banyak yang mengira non muslim, ya memang nenek moyang bukan. hehe.
      Jadi benernya cuman menjelaskan bahwa…’percaya deh kata gue, gini-gini paham Islam kok, bukan cuman ngomong ngasal, tapi mempelajari juga’.
      Dan saya rasa qatam itu udah bukan kebanggaan sih, udah umum kalau memang muslim.
      Semoga anda bukan yang anda maksud :)

  2. Suwun mbah mencerahkan…
    Tapi itu khan bagi Anda yg dah dewasa soal menahan lapar dan dahaga dak masalah…
    Tapi bayangkan bagi orang tua yg sedang ngajari anak2nya berpuasa yg berarti latihan puasa latigan nahan lapar dan haus trus di depannya ada orang jualan secara terbuka dan bahkan ada orang yg sedang makan dg nikmatnya disiang hari trus tsb nanya kok ada yg makan disiang hari katanya puasa itu wajib bagi orang dewasa. Apa pantas seandainya kita jawab “mereka itu orang2 kafir nak kan gak pantas kenyataannya yg makan itu ada orang yg pakai songkok dsb.”
    Mohon untuk direnungkan juga. Toh dah ada perdanya… laa yg aneh penerintah kok berusaha menggapus perda2 yg gitu , apa gak ada pekerjaan lainnya. Padahal perda itu dah terbit sejak 20 th lalu.
    Kok aneh kalau yg disalahkan perdanya. Mestinya si pelanggar yg harus dihukum sesuai peraturan yv ada.

    • Kayaknya ada jawaban lain selain ‘kafir’ ya. Menjawab sebutan kafir ke semua selain yang nggak puasa juga ga bener.
      Saya juga pernah kanak-kanak dan tahu benar dan salah. Malah mungkin lebih sadar daripada pas dah gede. Haha
      Kalau soal pencabutan, saya juga kurang setuju kalau itu di Serang, karena masyarakat di sana juga tidak masalah, sudah saya jelaskan juga. Kalau tentang pendapat ga perlu ada, memang murni pendapat pribadi. Thank you :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *