Dilema Orang Tua Millenial dan Generasi Z

carly-rae

pic by yth.org

Saya percaya persoalan terbesar bangsa (Indonesia) itu sebenarnya masih seputar masalah mendasar, seputar karakter, moral, sensitivitas keagamaan kesukuan, pemerataan kesejahteraan, pendidikan, regenerasi, dan semacamnya. Kalau yang paling dasar bisa dibereskan, baru lah persoalan rumit lainnya dapat diminimalisir. Duh..bahasa gue~😄

Tidak biasanya saya speechless mendengar cerita atau curahan hati dari seseorang.

Biasanya pasti punya jawabannya, bahkan soal yang belum terjadi sekalipun (beberapa teman menganggap saya semacam cenayang kayaknya. haha. Padahal lebih ke profiling). Ya..secara…selain tentang generasi…yang juga jadi salah satu concern saya, tetapi ini juga tentang kehidupan menjadi orang tua..yang belum pernah saya jalani..so, saya nggak mau sekedar ngecap juga. 😊

Jadi, saya mendapat cerita atau tepatnya curahan hati, dari kakak perempuan saya yang profesinya dokter Spesialis Anak, Konsultan.
Pengalaman kerjaan bikin dia posesif pada putrinya, keponakan saya.

Ponakan baru masuk SMP dan sudah populer di sekolahnya. Ini juga persoalan lain yang bikin kakak posesif berat, sih. 😄
Dulu saat masih SD, ponakan bebas main hape, justru sekarang saat menginjak SMP, dilarang bawa hape, kecuali saat liburan.
Kata kakak, sudah banyak cowok-cowok yang pdkt (pendekatan) via chat. Ini bikin mamanya senewen. 😄

Daughter looking a phone and ignoring her mother

Pic by Sue Scheff Blog

Tadinya saya pengen kasih nasehat, jangan dikekang nanti malah menjadi-jadi. See what happened to me~ 😉
Tapi begitu dia mulai cerita pengalaman di pekerjaannya, saya speechless.😶

Jadi ada 3 cerita di kerjaannya:
1. Ada pasien perempuan umur 14 th, dibawa ibunya periksa ke Spesialis Anak (kakak saya).
Awalnya dikira sakit perut biasa atau maag. 2 kali dicek tak terdeteksi penyakitnya.
Ke 3x di-usg, baru lah ketahuan kalo dia hamil di luar rahim. 😨😲┬áPantas saja tak terdeteksi di awal.
Orang tua dari pasien ini ketat banget menjaga putrinya. Ke mana pun pasti putrinya dikawal. Nah, ternyata kebobolan juga, kejadiannya (berbuat) cuman sekali dua kali saat LDKS (osis) di luar kota…then jadi. 🙈
Itulah kenapa saat ponakan yang masih kelas 1 SMP dipilih jadi calon pengurus OSIS, kakak takut buat ijinin LDKS. Langsung posesif.😄
Sekarang jadi dilarang bawa hape dan main internetan, kecuali untuk pelajaran sekolah. A.k.a jadi sangat dibatasi menggunakan internet di rumah dan penggunaan hape-nya. 😆

jag185_02_1_

pic by schoolco.com

2. Ada seorang ibu memiliki 2 putri, masih usia sekolah (SMA). Fyi, sampai usia 17 th masih menjadi usia pasien Dokter Anak.
Karena si ibu terlalu khawatir suaminya selingkuh, dia ngikutin ke manapun suaminya bertugas.
Eh tak diduga, 2 putrinya yang ditinggal di rumah ini mengundang pacarnya ke rumah, dan kejadian lah~
Balik-balik, 2 putrinya barengan hamil.🙈
Alih-alih takut kehilangan suami, si ibu malah kehilangan 2 putrinya. 😞😳

mother-comforting-teen-350

Pic by Sue Scheff Blog

3. Ada ibu yang membawa anak balitanya. Dia panik apakah keperawanan putrinya yang usia 3 th ini masih utuh.
Karena dia menyaksikan sendiri, ponakan cowok yang seusia TK/SD/SMP (maaf, lupa tepatnya), memasukkan, maaf, kelaminnya ke kelamin putri balitanya, saat mereka berdua sedang berada di kamar. 😢
Untung segera ketahuan! 🙈

Untuk yang ini, mungkin bisa jadi akibat bebasnya konten di internet di jaman millenial dan generasi Z ini, atau bisa juga akibat melihat secara langsung.

Walaupun, saya termasuk yang tidak setuju menyalahkan generasinya, karena sebenarnya masalah ini sudah ada dari jaman dahulu kala, dan semua berbalik ke individu masing-masing, tetapi tetap saja, tekhnologi memberi peranan kemudahannya.

Ya, ini kejadian sebelum Awkarin ngetrend.
Jadi…memang sudah serem generasinya sebelum ada fenomena Awkarin. 🙈🙈
Awkarin hanya salah satu, hanya lambang, perwakilan.

Itulah kenapa kakak sudah mengajari ponakan cowok yang masih balita, untuk tidak mengijinkan selain mamanya menyentuh kelaminnya. Dan ponakan sudah paham, jadi saat pengasuhnya (seperti) akan menyentuh, dia sudah mencegah “Kata mama, ga boleh ada yang pegang ini”.😊

Kalo dengar cerita langsung dari kakak, sebenarnya semua nasehat (sok) bijak sudah ingin saya sampaikan.
Ya biasanya pasti seperti orang-orang, bakal bilang..jangan dikekang ntar jadi makin bla bla bla.
Atau soal pendidikan agama…bla bla bla. Kalau takut Tuhan, pasti takut berbuat dosa.
Kenyataannya, beberapa dari pelaku, latar belakang agamanya pada lumayan. Dan siapa sih yang bisa membaca apakah dia takut Tuhan atau sekedar bagus beragama doank?
Atau soal pentingnya s3x education…bla bla bla. Kenyataannya..di sekolah ponakan itu s3x education sudah cukup bagus, kok. Yang berarti di sekolah SD umumnya sudah dimulai pendidikan s3x juga.

Ya, itu semua sempat kami obrolkan dalam sesi curhat tadi.

Jadi saat mendengar curhatannya…mau berpendapat apapun…yang ada saya speechless.😶
Suddenly I know how it feels being parents nowadays. Serba salah~😧

Mau posesif salah, dibebasin juga salah. Dikasih kepercayaan, dikhianati.

Kali ini salah siapa? Bukan ahok juga, kan? Eh 👀

So, what do you think, gaes? Bebas untuk berpendapat di kolom komentar ya👇, siapa tahu bisa saling belajar menjadi orang tua yang baik.😊

 

8 thoughts on “Dilema Orang Tua Millenial dan Generasi Z

  1. Pendekatan parenting di era 2000-an ini selalu jadi topik diskusi hangat–kalau nggak bisa dibilang menantang–antara aku dan suami, Leoni. Keadaan saat ini sudah berbeda jauh dengan masa kecil kami berdua; selalu waspada dan (ortu) harus lebih cepat hadir dari konten internet. Tapi, yang namanya anak, kalau dikekang pasti akan cari cara untuk bebaskan diri–dan ini justru kita hindari. Suatu saat (sesuai urgency keadaan di luar sana), kita berusaha untuk lebih dulu memperkenalkan ke mereka apa itu pembuahan, sebelum mereka dengar itu dari teman atau internet. It’s always a tough challenge for every parents, as well as a rewarding experience to watch them grow up into young men :)

    • Iya, teh. Itulah, harus lebih dulu emang. Tapi ya itu juga, dilematis banget sekarang ini. Mau dijaga kayak apa juga bisa kebobolan kalo dari dasar individunya ga kuat. Challenging!
      Makasih teh

  2. Waktu gw lagi hamil anak gw, muncullah dan gempar2nya berita pelecehan anak. Ketakutanlah gw. Sempat panik, gw kayaknya akan melahirkan anak di jaman yg nggak beres.
    Trs bos gw (bapak2 anak satu) saat itu menenangkan gw dg bilang: pasti akan ada aja hal-hal spt itu. Mau skrg atau nanti, hal-hal kayak gtu pasti akan ada terus. Tinggal gimana kita jaga anak kita aja.

    Akhirnya stlh anak gw lahir, gw dan suami(yg merupakan mantan anak bandel hampir kelas kakap)bikin komitmen spy kita harus cari cara gmn spy anak kami nyaman dan senang berada di rumah. Shg dia ga akan cr jati diri dg merasa sendirian lalu gampang diracunin omongan temen-temennya.

    Iya gw tahu, ngomong sih gampang prakteknya susah. Tapi sejauh ini sih cuma itu yang terpikirkan oleh kami. So help me God…

    Eniwey, anak jaman skrg ngeri2 jg ya. Pantesan kakakmu stres T_T

  3. Mau mencoba berpikir heheh.. salam kenal ka, berikut pemikiran seorang Putri (20yo) single wkwkwk
    Saya setuju dengan pendapat kk klo dasar individualnya ga kuat, nah maka harus dikuatkan dasarnya. Bagaimana? Hihih
    Pastinya setiap ortu memberi dasar pada individual anak, nilai itu lah yg harus kuat dalam diri anak tsb, membangun “TRUST” antara anak dan ortu itu basically banget, mulai dari komunikasi, memberi pengertian/penjelasan dan pengetahuan yg harus nya diketahui sesuai umurnya, sikap mandiri dan tdk mudah terpengaruh org lain dalam hal yg negatif, intinya pendidikan karakter terhadap si anak gitu ka.. hhehehe

    • Iya pendidikan karakter itu penting banget emang. Ke depannya pasti anak akan masuk ke lingkungan baru yang bisa mengubah pandangannya, tapi kalo karakternya kuat, ya dia akan selamat dan tau mana baik mana buruk. Makasih pendapatnya, Putri

  4. Sebetulnya dilema itu bisa diberikan sesuatu sehingga pelajaran dalam memahami anak-anak memerlukan energi atau kekuatan memahami dengan berbicara;dimengerti walaupun orang tua aga riskan. Kepercayaan. Lingkungan yang mendominasi dan filter-filternya agar anak bisa bertahan dan sureFI\/e* dalam memahami dimensi keburukan dan kebaikan dengan caranya sendiri. Perkembangan pemudi maupun pemuda sebenarnya sudah “wajib” diberikan pelajaran pada usia – usia kecil, tambah besar maka akan tambah sulit, tapi never too late, selalu ada harapan membentuk karakter. Kita punya Tuhan dan perbaikan itu masih bisa terbuka lebar sepanjang kita yakin. Memelihara jauh lebih sulit daripada membentuk. Stress itu ada penanggulangannya dan depresi merupakan sebuah penyakit yang biasa di zaman ini. Karena saya pengalaman sich , but anyway saya tak mau hal itu terjadi kepada masa depan anak generasi di zaman sulit ini. Khan ada Leoni dan orang-orang yang peduli. Muhah-mudahan ada sebuah titik terang untuk bagaimana supaya parenting tidak ikut stress dlsb. Alhamdulillah terima kasih

    • Hihi. Parenting stress
      Iya, bentukan dari dini itu penting karena jadi dasar. Tapi biasanya di tengah-tengah, masa remaja..si anak akan berubah karakternya, dan di masa young adult dia bakal menemukan dirinya, baik buruknya, dia bisa memilih di masa ini. Never too late to change, karena saya lihat banyak orang berubah setelah menua (karena dewasa tidak bergantung usia).
      Ya semoga banyak teman yang care soal ini. Amin. Makasih mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *