Fakta-fakta Mencengangkan Tentang Kekerasan Perempuan & Anak di Indonesia

images-18

Saat The Silence Breaker di USA yang menolak bungkam atas kasus pelecehan seksual, dipilih menjadi Person of The Year majalah Time, karena perubahan sosial yang diusungnya bergerak paling cepat dalam dekade ini, lalu bagaimana posisi kasus kekerasan & pelecehan seksual di Indonesia? Masihkah pelaku terbebas dari hukuman karena tak ada dukungan masyarakat? Masihkah Indonesia menduduki rating tertinggi kasus perempuan dan anak? Masihkah perempuan korban perempuan merebak?
Akankah Indonesia selalu jadi tujuan utama wisata pedofil? Masih adakah harapan Indonesia Layak Anak?
Ya, itulah fakta-fakta mengerikan yang sekaligus menimbulkan banyak pertanyaan, yang saya dapatkan di acara Serempak Gathering 2017. Mau tahu fakta mencengangkan lainnya? Pada artikel ini, saya akan mencoba menjelaskannya dalam bahasa sederhana sehingga mudah dipahami dan tidak terlalu berat.

images-29

 

Ketimpangan Isu Perempuan & Perempuan Korban Perempuan

“Kurangi mengidolakan atau mendewakan orang”.
Terlalu mengidolakan seseorang bisa memudahkan timbulnya pelecehan seksual, karena korban cenderung susah menolak ajakannya.
Itulah pesan yang disampaikan oleh Ina Rachman, advokat & aktivis
Perempuan, dalam acara Netizen Gathering 2017, dengan tema, “Menciptakan Konten Kreatif Berbasis Kesetaraan Gender, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak”, di Hotel Century Atlet, Senayan, 30 November 2017 lalu.

20171209_111054

Ya, sudah jadi rahasia umum bila ada band besar Indonesia dengan vokalis yang banyak dielu-elukan oleh para perempuan yang rela lakukan apapun demi bisa berinteraksi intim dengan sang vokalis, hingga mungkin di dalamnya terjadi pelecehan seksual terselubung. Korban sendiri mungkin tak sadar telah dilecehkan karena bangga bisa bersama idolanya, atau sadar, tetapi tak bisa menolak karena faktor kagum.

Kalau kita ingat, ada pula kasus tuduhan dosen sastrawan yang melecehkan mahasiswinya. Seperti kebanyakan kasus serupa, kharisma kadang membutakan. Saat kasusnya membesar, dukungan di social media terbelah. Banyak yang meragukan kesaksian korban. Ironisnya, tak sedikit sesama perempuan yang mem-bully-nya.

images-33

Ya, banyak perempuan yang justru mempermalukan sesama perempuan yang menjadi korban. Ini juga alasan banyaknya korban pelecehan seksual memilih diam, karena malu. Ada kecenderungan korban pelecehan seksual dianggap genit.

”Dalam pelecehan seksual dan kekerasan pada perempuan dan anak, banyak korban tidak bisa
mengatakan hal yang terjadi pada dirinya dan lebih memilih merahasiakannya,” ujar Ina
Rachman.

Bahkan keluarga korban umumnya tidak tahu apa yang terjadi dengan anaknya. Kemungkinan karena tidak adanya kenyamanan bercerita/kurang keterbukaan dalam keluarga, atau alasan bahwa korban takut justru akan disalahkan.

images-24

Atau kasus lainnya, di mana perempuan banyak jadi korban blow up berita buruk perselingkuhan, sementara pihak laki-laki seakan selamat dan dimaklumi tindakannya.

Banyak perempuan korban perempuan. Menurut Ina Rachman, kasus perempuan, kebanyakan ratingnya makin tinggi karena sesama perempuan. Bisa jadi itu karena yang mem-blow up atau yang mem-bully sesama perempuan sendiri.

Pada kasus rumah tangga atau isu pelecehan, semua individu yang terlibat mungkin salah, tetapi lebih salah lagi yang menyebarluaskan/mem-bully di socmed, karena akan memperbesar trauma pada korban.

Isu semacam yang membutuhkan perhatian besar, adalah adanya ancaman persekusi, di mana ada penyerbuan pelaku oleh warga & diadili secara sosial, main hakim sendiri.
Korbannya kebanyakan perempuan & anak.
Dihukum massal, dipersekusi, disebarkan, dan lebih parah lagi..diviralkan melalui socmed.
Perlakuan tersebut makin menciptakan trauma yang lebih besar, padahal tertuduh belum tentu salah.

Menurut Ratna Susianawati, Asisten Deputi Bidang Infrastruktur dan Lingkungan KPPPA (Kementeriaan Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak), isu persekusi terselubung juga terjadi dalam pemeriksaan keperawanan untuk tes kerja yang sedang heboh akhir-akhir ini. Para perempuan sudah diadili sebelum membuktikan kemampuan bekerjanya.

20171209_110440
Indonesia Surga Para Pedofil

“Tahun 2012, Indonesia menjadi tujuan wisata seks Pedofil Australia nomor satu”
Kang Maman Suherman, penulis, mengawali pemaparannya dengan fakta mencengangkan.

Indonesia menduduki posisi pertama yang mendownload situs pedofil di asia, dan menduduki no 2 untuk aktivitas upload.😱

Kaget, kan?! Saya sangka Indonesia masih lingkungan yang asyik untuk bermain. Ternyata…😱

Yang memudahkan hal ini terjadi, adalah pemanfaatan kondisi keluarga. Anak dengan isu kemiskinan dijadikan alat. Orang tua-nya dikirimi uang, kemudian diminta mengirimkan foto anaknya yang telanjang dan disebar. Mengapa Indonesia menduduki posisi tertinggi? Kemungkinan karena kondisi kemiskinan tadi, di mana orang tua atau anak bisa dibayar murah.

These-Stories-Of-Childhood-Sexual-Abuse-Prove-That-India-Is-Full-Of-Paedophiles7-696x473

Bahkan pedofil (& prostitusi) ini banyak ditemui di daerah wisata, untuk itulah KPPPA (Kementeriaan Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak) bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata untuk menangani isu ini.

Di balik tempat yang indah seperti surga, ada neraka yang mengancam!🙈

Sikap cuek sudah tak bisa lagi dimaklumi. Indonesia butuh IDOLA baru! Indonesia Layak Anak!

20171209_232834

Namun Indonesia Layak Anak agaknya masih sulit diwujudkan, karena masih banyak tantangan, seperti isu:
– Kekerasan seksual terhadap anak
– Anak korban pornografi
– Anak korban radikalisme, yaitu menangkal anak-anak terhadap isu radikalisme, di mana mereka menjadi korban atau sebagai pelaku terror karena ketidaktahuan.
– Perkawinan anak (Anak yang punya anak, selama usianya 0-18th, masih disebut anak-anak).
Propinsi di pulau Jawa yang paling banyak tersentuh modernisasi pun ternyata rating perkawinan anak-nya masih paling tinggi. Please, stop perkawinan anak!

aid165292-v4-728px-Deal-With-Sexual-Harassment-in-School-Step-2-Version-2

Banyak kasus pelecehan anak, di mana hukum terhenti karena pelakunya adalah orang terdekat.
Harus ada awareness dari masyarakat sekitar. Selama masyarakat tidak proaktif atau bahkan permisif, akan susah penyelesaiannya.

20171209_232818

Mengingat angka pedofilia dan pornogafi anak ternyata masih tinggi, dengan prosentase pelaku kejahatan adalah orang terdekat (teman, paman, tetangga), maka KPPPA menggalakkan perlindungan anak berbasis masyarakat, dengan program “PUSPA”, Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Ibu dan Anak.

These-Stories-Of-Childhood-Sexual-Abuse-Prove-That-India-Is-Full-Of-Paedophiles3-696x522

KPPPA menekankan pentingnya memperhatikan pola pengasuhan, di mana pengasuhan terbaik adalah dimulai dari keluarga.

Ada juga isu restorative justice, yaitu anak yang berhadapan dengan hukum. Seharusnya penyelesaiannya bukan penjara, melainkan dikembalikan kepada keluarga, serta dibina oleh masyarakat & pemerintah. Jadi tidak ada stigma anak nakal.

 

Kesetaraan Gender

20171209_111317

Sesuai dengan tema acara, Ratna Susianawati banyak menjelaskan tentang isu kesetaraan gender. Yang penting dari isu ini ialah pemahaman yang tepat bahwa gender bukanlah sekedar ‘perempuan’. Ini persoalan terminologi, bagaimana membangun partnership, berbagi peran, antara laki-laki dan perempuan, atau dengan kelompok lain.

Sebenarnya kodrat perempuan itu hanya 4: menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui. Yang lainnya hanya persoalan gender yang merupakan konstruksi budaya/konstruksi sosial.

KPPPA (Kementeriaan Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak) adalah Kementerian yang diberi mandat spesifik. Mengapa kesetaraan gender fokus pada perempuan? Karena di Indonesia masih banyak perempuan yang tertinggal.

KPPPA membutuhkan saluran untuk menyampaikan programnya ke masyarakat. Melihat perkembangan era digital, media sosial menjadi saluran strategis untuk menyebarkan, dan perlu menggunakan bahasa kids zaman now supaya mudah dipahami. Nah, netizen atau blogger inilah para penggiat di belakangnya. Itulah kenapa KPPPA bekerjasama dengan IWITA melangsungkan netizen gathering ini. Gathering ini tidak hanya dihadiri oleh blogger perempuan, tetapi juga laki-laki, lho! Dan serunya lagi, kami mengenakan busana daerah. Saya sendiri mengenakan kebaya Bali, favorit saya.😍

IMG_20171130_180151_034

“Netizen harus dapat menyajikan konten yang berkesetaraan gender. Media sosial sebagai wadah mensosialisasikan pencegahan
kekerasan pada perempuan dan anak,” kata Sri Danti, Plt Deputi Bidang Kesetaraan Gender KPPPA.

20171209_110506

Lalu bagaimana menciptakan konten kreatif berbasis kesetaraan gender yang tetap bisa melindungi anak dari efek negatif internet?

Kang Maman Suherman menyampaikan, sebelum posting, pastikan sudah 3B: benar, baik, dan bermanfaat. Sayangnya, masih banyak netizen yang tidak mempedulikan 3B. Asal posting, asal ngomong, yang penting terlihat paling update.
Juga perlu edukasi pada orang tua dan fotografer yang mengambil foto anak-anak, agar tidak sembarangan posting.

KPPPA sendiri memiliki isu prioritas yang disebut 3END’s, yaitu:
1. Akhiri kekerasan terhadap perempuan & anak
2. Akhiri perdagangan manusia/human trafficking (terutama pada perempuan & anak)
3. Akhiri kesenjangan ekonomi terhadap perempuan dan anak, yang tentunya penyelesaiannya harus multi stakeholder (bersama).

Indikator kesetaraan gender adalah akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat.

20171209_111305

Ratna menyampaikan bahwa Indonesia masih menduduki rating tinggi dalam kasus perempuan dan anak(!).

Berdasarkan catatan tahunan komnas perempuan 2017, kekerasan terhadap perempuan berada di angka 259.150 kasus, dengan kasus pelaporan terbanyak selama ini berkutat pada:
– kekerasan terhadap istri
– kekerasan dalam pacaran
– kekerasan anak perempuan
– kekerasan oleh mantan suami/pacar

images-35

Kabar baiknya, kesadaran hukum masyarakat semakin meningkat akhir-akhir ini. Laporan seputar KDRT oleh korban maupun masyarakat sekitar semakin meningkat.

“Perempuan itu harus diberdayakan, bukan diperdayakan,” tutur Maman Suherman.

20171209_110053

 

Serempak, Literasi Digital Perempuan & Anak

Dari tadi disebut nama Serempak & IWITA? Siapa atau apa sih peranannya?

Serempak.id merupakan website seputar perempuan dan anak, salah satu inovasi yang dikemas dan dikembangkan oleh KPPPA Bidang Kesetaraan Gender, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bagian Infrastruktur Teknologi dan Lingkungan. Tujuannya untuk meningkatkan akses perempuan di bidang-bidang strategis, seperti pemerintah, jasa, pendidikan, pengetahuan, dan berbagai informasi lainnya, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup perempuan.

IWITA (Indonesia Women IT Awareness), adalah Organisasi Perempuan Indonesia Tanggap Teknologi yang diberi kehormatan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) untuk menjadi mitra pengelola website Serempak.

Serempak.id hadir sebagai literasi digital bagi perempuan dan anak.

20171209_111140

Martha Simanjuntak selaku founder IWITA mengajak semua pihak, baik swasta, akademisi, dan komunitas lainnya untuk mendukung kegiatan ini. Salah satu tujuan serempak.id adalah sebagai wadah kerjasama untuk pencapaian program 3 End’s.

Ini tugas bersama yang mana hasilnya diharapkan Serempak.id menjadi jalan dalam mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di berbagai bidang, serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkontribusi dalam pembangunan melalui Serempak.id. Ya, kamu-kamu bisa ikutan kegiatan offline-nya dan juga bisa kontribusi tulisan di portal ini. 😉

IMG_xg7o1v

Yuk, lebih bijak ber-socmed. Jangan lagi tak peduli! Jangan pula jadi perempuan yang mengorbankan perempuan lain. Jangan jadi provokator untuk memuaskan ego. Mari kita jadikan social media sebagai wadah sosialisasi pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak! 👌

 

9 thoughts on “Fakta-fakta Mencengangkan Tentang Kekerasan Perempuan & Anak di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *