Fashion Indonesia Jadi Kiblat Asia Bila Didukung Market
// November 20th, 2009 // brand
Modal, itu yang selalu menjadi permasalahan bagi industri kreatif ‘fashion’ di Indonesia. Bank tidak berani meminjamkan modal untuk industri kreatif. Ironis sebenarnya, karena tahun ini adalah tahunnya industri kreatif. Padahal hasil dari industri fashion ini tidak kalah dengan industri lainnya.
Berbeda dengan Singapura, media di Indonesia sudah sangat mendukung industri fashion.
Terimakasih- pun terucap dari para pengurus IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia), dalam konferensi pers mereka di Pacific Place Jakarta, masih dalam rangka Jakarta Fashion Week 09/10, yang diselenggarakan oleh Femina Group dan BRI.
Industri kreatif di Indonesia sudah sangat besar porsinya, yang paling mapan adalah musik dan fashion. Kalau dulu orang tua tidak setuju bila putra-putrinya memasuki atau concern di dua dunia ini, maka sudah saatnya sekarang mulai berpikir ulang. Kreatif industri bukan hanya hura-hura, berkhayal, tetapi memberikan pendidikan bisnis dan wiraswasta juga. Apalagi sekarang pemerintah telah menyediakan blue print ‘kreatif industri’, di mana perancang sudah ikut berbicara. Bahkan kemungkinan dalambeberapa tahun ke depan, Indonesia bisa jadi kiblat Fashion Asia. Tetapi harus ada kerjasama dan dukungan dari pemerintah serta market, karena perancang tidak bisa berdiri sendiri. Market-pun harus siap!
Menurut Kanaya Tabitha, salah satu perancang anggota IPMI, bagian tersulit dari sebuah pencapaian adalah memulai sesuatu. Dibutuhkan usaha yang jauh lebih keras untuk mengahsilkan pencapaian berikutnya. JWF adalah pencapaian masyarakat fashion Indonesia. Bagian terindahnya, pencapaian itu memberi jalan bagi fashion Indonesia diakui oleh fashion dunia.
Pada show tanggal 18 Nopember 2009 ini, giliran 10 perancang kondang
IPMI yang tampil. Mereka adalah Carmanita dengan tema Evolution, Denny Wirawan dengan line ready to wear Neo Etnico, Era Soekamto dengan Urban Crew, Kanaya Tabitha dengan tema Kata, Ghea dengan Spirit of Java, Hutama Adhi dengan easy Feminity, Stephanus Hamy dengan Etnik Ekletik, Syahreza Muslim dengan Euphoria, dan Tuty Cholid dengan Ingenious Avrodite.
Penghargaan UNESCO yang diperolehnya, memperkihatkan komitmen Carmanita untuk mengeksplorasi batik sebagai tekstil khas Indonesia. Kain batik tradisional berevolusi menjadi tekstil modern diaplikasikan ke bentuk material viscose, eco green katun lycra & satin. Hasil eksplorasi menciptakan koleksi yang fun and playfull.
Era Soekamto dengan tema Urban Crew-nya, brand yang menginspirasi anak
muda untuk mengekspresikan kebebasan menciptakan gaya ’semau gue’ sebagai suatu cara mengaktualisasikan diri. Dalam shownya ini Era memberikan kejutan berupa tampilnya aktor dan gitaris band ‘Garasi’, Fedi nuril, sebagai salah satu modelnya.
Tak beda pula dengan Kanaya Tabitha. Perancang kondang yang tidak dapat hadir karena sedang mengikuti pameran di Rusia ini terilhami oleh musik-musik rock yang ultrafeminin. Kanaya Tabitha berkolaborasi dengan VJ marissa mengangkat line terbaru mereka yaitu Kata, dipertegas dengan koleksi sepatu terbaru dari VJ Marissa yang diakhir show tampil bersama Ayu Sitha, anggota BBB.
Sementara koleksi Denny Wirawan seluruhnya menggunakan kain tenun Sulawesi Tenggara, dari Kabupaten buton Muna, dengan motif garis dan kotak-kotak. Gaya etnik diubah secara dramatis menjadi paduan busana-busana yang artistik.








Go… go… go… Industri Kreatif Indonesia !
thank u Arif ^__^
bagian tersulit dari sebuah pencapaian adalah memulai sesuatu. suka denga kata2 itu. btw nama perancangnya itu lho kok bikin aku ingst sebuah film bridge to the terabithia haha
memang begitu..paling susah memulainya..
hehe.. makasih ya dah mampir ^__^