Festival Danau Sentani, Saat Paling Pas Kunjungi Papua

Rasanya masih kurang setiap kali nge-trip ke suatu daerah, tetapi belum memperdalam budayanya atau mengenal adat istiadatnya, meskipun sudah menikmati keindahannya. Budaya itu sesuatu yang wajib dieksplor!

Itulah yang saya alami ketika mengunjungi Papua bulan Mei 2015 lalu untuk pertama kalinya.
Bukan berarti trip ke Papua itu tidak berkesan, justru sebaliknya, mungkin paling berkesan. Keindahan Papua pun tak bisa disanggah, landscape-nya surga banget! Tetapi saat itu rencana ke desa adat digagalkan oleh padatnya jadwal, dan cuaca yang tak mendukung.

Eh, ternyata keberuntungan saya belum habis!

Bulan Juni 2015, saya mendapat kesempatan mengunjungi Papua lagi untuk menikmati Festival Danau Sentani. Bisa dibilang, festival ini adalah event yang tepat untuk menikmati keindahan Sentani, Papua, sekaligus mengenal langsung budaya, adat istiadat, keramahan penduduknya, kulinernya ,dan hasil kerajinannya.

Festival Danau Sentani ini semacam perayaan kebudayaan masyarakat  di sekitar Danau Sentani.  Danau Sentani adalah danau terbesar di Provinsi Papua, dengan luas sekitar 9.360 hektar dan berada pada ketinggian 75 m dpl. Danau yang indah ini terletak di Kabupaten Jayapura, dikelilingi 21 pulau kecil yang indah dan 24 desa.

Tua, muda, anak-anak, pria, wanita, dari warga kampung sekitar Sentani turut memeriahkan event ini, baik terlibat langsung, maupun sebagai penonton. Tak jarang pula tampak wisatawan lokal dan asing.

Setiap tahun, pemerintah Kabupaten Jayapura menyelenggarakan Festival Danau Sentani dengan menampilkan atraksi budaya Papua, seperti tari penyambutan tamu, tari perang,  tari pergaulan, musik tradisional, serta pameran aneka kerajinan dan kuliner khas Papua.

Satu yang paling ditunggu, karena memang sangat menarik, adalah Isosolo atau Isolo, tarian di atas perahu kecil yang diiringi tetabuhan tifa.

Isosolo atau Isolo adalah sebuah upacara yang menyatukan perbedaan budaya dari 24 desa di sekitar danau.Isosolo terbentuk dari dua kata, Iso dan Solo. Iso mempunyai makna bersukacita, mengekspresikan suasana hati. Solo berarti sekelompok orang dari berbagai kalangan.

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xtf1/v/t1.0-9/11403484_10205722871844661_3454155661488353165_n.jpg?oh=14dfec9d98f50547b7d34c61faf02708&oe=565F4C92&__gda__=1450657206_1d2c6cb5bedd9aeefd2f4f6f8e4e55b7

Selain semangatnya, hiasan perahu dan aksesoris penari isosolo lah yang membuatnya menarik untuk dilihat. Mereka dilengkapi dengan pakaian adat masing-masing suku, seperti rok rumbai-rumbai, manik-manik, noken (tas khas Papua yang dislempangkan di kepala), alat musik Tifa, dan beberapa properti perang-perangan seperti busur panah.

Yang menyenangkan lagi, masyarakat di sini ramah-ramah kepada wisatawan. Baik mereka yang dewasa, tetua, maupun anak-anak kecilnya. Sangat mudah untuk mengajak mereka foto bersama. Lokasinya yang dekat dengan ibu kota provinsi, mungkinlah jadi alasan mengapa sebagian besar penduduk sekitar danau terbuka pada pengunjung. Makanya kalau mau foto bersama mereka seperti saya, datanglah ke Festival Danau Sentani :)

Bersama adek kecil penari Isosolo. Dia favorit saya. Umurnya masih 5 tahun saja :)

FDS tahun ini berlangsung pada tanggal 19-23 Juni 2015 di Khalkote, distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, dengan dibuka secara resmi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Arief Yahya, pada tanggal 20 Juni 2015.

Bersama suku Engsel, yang siap menari Senggel, tarian untuk jalin harmoni dengan alam

Menurut Menparekraf, festival ini bukan saja sebagai ajang kebudayaan, tapi juga bisa mensejahterakan rakyat Sentani. FDS ke VIII diharapkan menyadarkan masyarakat untuk menyeimbangkan nilai-nilai kebudayaan dan nilai ekonomi.

Kekuatan Papua nomor satu adalah alamnya. Landscape-nya sangat berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Landscape-nya berupa pegunungan, perbukitan, danau, dan sebagainya, yang memang sangat indah.

Nomor dua adalah kebudayaan di Papua yang sangat unik, sangat natural. Namun kelemahannya adalah media, yang masih kurang mempublikasinya.

Menparekraf berharap dengan pergelaran festival Danau Sentani ke VIII ini, masyarakat dapat memahami dan mengelola serta memelihara kebudayaan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Selain menyaksikan perayaan seremonial, kami juga sempat mengunjungi pulau-pulau di sekitar Danau Sentani dan melihat keunikannya masing-masing.

Desa di sekitar Danau Sentani mempunyai adat yang berbeda, namun berasal dari beberapa budaya yang sama sebagaimana terlihat dari kepercayaan dan ritual mereka. Setiap distrik di Sentani ini pun diberikan keahlian yang berbeda untuk masyarakatnya.

Pulau Asei Besar, misalnya. Pulau ini adalah salah satu rumah seniman di sekitar danau Sentani. Pulau Asei dikenal dengan kerajinan kain kulit kayunya yang bermotif indah dan unik. Kain kulit kayu adalah pakaian tradisional perempuan Sentani yang kebanyakan wanitanya beraktivitas dengan menangkap ikan di danau. Motif kain kulit kayu Asei Besar ini sangat unik dan tidak dapat ditemukan di tempat lain.

Motif spiral pada kain melambangkan kehidupan di Danau Sentani, ada motif buaya, ikan gergaji, serta motif campuran yang juga dimiliki Suku Asmat seperti bipane, sebuah simbol gading babi hutan, dan tokoh-tokoh Asmat.  Motif ikan gergaji melambangkan ikan gergaji (Pristis Microdon)yang merupakan ikan asli danau ini, yang diperkirakan sudah punah. Sementara motif buaya menunjukkan sungai-sungai di Papua. Fyi, tempat terdekat untuk menemukan buaya adalah di Danau Sentani dan Jayapura. Hmm, untung nggak ketemu pas naik perahu nyeberang pulau, yak!

Ance Kaigere, seorang ibu warga setempat, sempat mempraktekkan secara langsung pembuatan Kain Tradisional Papua yg bahan dasarnya dari kulit kayu ini. Ternyata prosesnya panjang. Kayu yang digunakan biasanya kayu Khombouw. Kulit dipotong dan dikupas dari batang pohon dengan membenturkan kayu dan menguliti perlahan-lahan. Setelah itu kulit direndam, ditumbuk dan dikeringkan.

Sementara itu di Kampung Abar, beda pulau lagi, kami diajak menyaksikan pembuatan gerabah yang masih menggunakan cara tradisional. Iya, kampung ini memang dikhususkan untuk kerajinan gerabah.

Selama festival berlangsung di Khalkote, kita bisa juga, loh, mencoba berwisata air dengan menyusuri Danau Sentani menggunakan Perahu Johnson, jenis perahu yang ditempeli motor di bagian belakangnya. Di sekitar dermaga banyak yang menawari kita untuk berkeliling danau atau sekedar mengambil gambar tarian perahu Isosolo dari dekat, dengan harga terjangkau.

Ya, waktu ideal untuk menyambangi danau ini adalah saat digelarnya Festival Danau Sentani (FDS). Semua ada. Kalau kamu menyukai alam dan budaya, festival ini wajib dimasukkan dalam list traveling kamu :)

*Di postingan berikutnya bakal saya bahas sisi lain Danau Sentani yang tak kalah menarik! Ditunggu ya~ :)

4 thoughts on “Festival Danau Sentani, Saat Paling Pas Kunjungi Papua

Leave a Reply to ipah kholipah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *