Generasi Labil

Yang salah jadi tampak benar, yang benar jadi berasa salah. Kekuatan massa jadi senjata yang kadang hilangkan essensi dari masalah, hanya karena ikut-ikutan. Pendapat terbanyak menjadi Tuhan. Minoritas pastinya kurang menawan. Hey, tidak semua berita yang tersebar di internet itu telah terbukti kebenarannya. Tidak semua kalimat yang di-tweet oleh teman itu pasti benar atau serius adanya. Cek dan ricek itu perlu!

Bulan November 2011 lalu sempat heboh di twitter, di mana ada akun anonym yang menginfokan beberapa orang di twitter yang dianggap penipu, dengan secara jelas menyebutkan akun twitternya. Beberapa di antaranya saya kenal secara pribadi. Apakah saya percaya? Percaya 100% sih tentu saja tidak, tetapi seperti teman-teman yang lainnya, pasti jadi bertanya-tanya kebenarannya. Bahkan banyak yang menelan mentah-mentah, percaya begitu saja, dan ikut membenci mereka. Jalan tengah yang saya ambil adalah bahwa selama mereka yang saya kenal itu tidak mengganggu saya ya tidak perlu merisaukan berita yang tersebar, yang berteman tetaplah teman. Kalau soal hati-hati berteman, itu berlaku kepada semua yang kita kenal tentunya.

Akun ini hanyalah salah satu contoh mudahnya menyebarkan gossip di social media. Masih banyak cerita lainnya. Sering saya lihat kalimat kasar di status update twitter yang mengkritisi seseorang atau sesuatu. Bagian kritiknya sih tidak masalah. Yang  bermasalah adalah pilihan kata kasarnya.Yang mengerikan lagi adalah bahwa pilihan kata kasar itu karena ikut-ikutan teman-teman yang seru-seruan ngomong kasar atau seru-seruan melecehkan orang, dan akhirnya ikutan menyebarkan info yang mereka sendiri belum terlalu paham. Ga penting ga paham, yang penting ikutan trend, seru-seruan.

Bahkan saya pernah membuat percobaan. Saya menuliskan status updates yang tujuannya adalah main-main. Status ini banyak dituliskan teman yang lain juga. Berita lucu-lucuan ini hanya saya posting selama kurang dari 1  menit untuk lihat reaksi, lalu saya hapus segera karena khawatir dianggap serius. Ternyata dugaan ini terjadi. Status yang memancing bully itu dianggap serius dan di-Retweet banyak follower tanpa cek dan ricek dulu. Jadi merasa bersalah. Haha. Tapi ternyata memang seperti itu kenyataannya. Begitu kita posting sesuatu yang memancing bully dan komentar negatif, ternyata banyak disukai. Ironis, kan? Bukannya budaya bully asalnya dari sekolah menengah di negara Barat sana ya?

Apa jadinya kalau generasi sekarang cuman jadi generasi labil, generasi yang sukanya ikut-ikutan? Tahu yang kita mau, tahu tujuan kita, punya pendapat sendiri..itu keren loh!

Biarkan mereka yang paham yang membahasnya. Kalau kita tidak paham lebih baik tidak ikut-ikutan, untuk menghindari blunder atau fitnah karena salah persepsi. Kalau salah, yang ada kita sendiri yang malu nantinya. Hindari kata kasar saat mengkritik. Jangan sampai melecehkan atau membunuh karakter seseorang. Usahakan kritik disertai solusi, jadi bukan hanya omong kosong.

Jaga jati diri kita sendiri. Jaga jati diri Indonesia yang santun berucap. Jangan sampai kita bertujuan memperbaiki Indonesia melalui kritikan kita, tetapi kita blunder memperburuk nama Indonesia dengan ucapan kasar kita.

Saya sering ditanya, “Enaknya bikin blog tentang apa ya yang cocok buat saya? Yang menjual gitu”. Dan jawaban saya selalu sama. Bikin tulisan atau apapun tentang suatu hal yang paling kamu pahami, bukan karena orang  lain berhasil karenanya. Tulis berdasarkan passion kita, karena passion itulah yang membuat kita bertahan mengerjakannya lagi dan lagi, dan passion itu yang membawa kita kepada keberhasilan karena ada perjuangan tulus dan kenyamanan saat mengerjakannya.

Hindari menulis topik yang kita sendiri tidak paham. Efek internet itu seperti bola salju. Banyak info tidak benar yang di-copy paste dan tersebar untuk di-copy paste oleh pembacalainnya. Ingat, apa yang tertulis di internet itu tersimpan selamanya. Bila yang kita tulis atau buat itu salah, pertanggungjawabannya untuk banyak orang.

O ya, masing-masing dari kita punya follower, bisa jadiadek-adek kita, adek kelas kita, atau mereka yang menjadikan kita panutan, bahkan anak-anakkita (suatu saat). Apakah kita ingin mereka terbiasa berkata kasar karena meniru kita yang terbiasa berucap kasar di social media? Hmmm..Lets think about it!

4 thoughts on “Generasi Labil

  1. yak. saya pernah saat awal2 punya twitter, saat kesal, mengumpat di twitter membicarakan orang lain yang tidak punya twitter, lalu kemudian akhirnya saya di ‘labrak’, karena teman nya follow saya :)) hahaha
    pengalaman berarti, sejak itu saya jarang sekali ngetweet hal-hal negatif seperti itu…

  2. Jadi intinya adalah cek dulu kebenaran suatu berita, ikut – ikutan boleh, kalau positif, ya… misalkan ikut – ikutan rajin, ikut – ikutan nolong orang, dan ikut – ikutan pinter. hehehe….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *