Hadiah untuk Ayah

images-4

Hadiah itu harapan dan doa dari pemberinya. Secara tak sadar itu pula yang saya lakukan.


Keluarga kami bukanlah keluarga religius, terutama orang tua kami. Keluarga kami sebagian Muslim, sebagian Hindu, sebagian Kristen Katolik, dan Protestan.

Sejak SD, saya dan kakak perempuan saya belajar mengaji di masjid depan rumah, dengan inisiatif sendiri. Jadi tidak ada yang meminta, apalagi memaksa, terutama dari pihak orang tua. Bahkan awalnya, kakak saya mengenakan jilbab secara sembunyi-sembunyi karena tidak disetujui ortu saat itu.

Saya sendiri pertama kali membaca Al Qur’an dituntun oleh almarhum kakek. Tetapi saat SD saya pun juga mempelajari Kristen. Setelah Maghrib belajar mengaji di masjid, sementara di hari Minggu mempelajari agama Kristen di Sekolah Minggu. Saat itu tak ada beban, fun-fun saja mempelajarinya, pun membaca kisah dari dua sisi yang berbeda.

Tetapi saya masih ingat, bagaimana Leoni kecil, dari balik kaca ruang tamu, selalu mengintip bapak-bapak yang pergi atau pulang dari masjid usai Jum’atan. Jauh di lubuk hati saya menginginkan memiliki ayah seperti mereka, rajin sholat.

Singkat cerita…
Saat tinggal di Jakarta, dan menjenguk ayah yang tinggal di Cilegon, saya membawa bingkisan/hadiah yang mungkin waktu itu tidak diinginkan oleh beliau.
Saya sering membelikan peralatan sholat, seperti baju koko atau sarung. Yang terpikir saat membawanya, siapa tahu nanti akan berguna. Pasti berguna.

ohislam-solat

Saat kami berkumpul di Surabaya, ada perubahan besar yang saya lihat pada ayah. Beliau jadi rajin sholat 5 waktu. Bahkan diusahakan selalu sholat di masjid.😊

Dan ada yang mengejutkan. Saat ke Surabaya, ayah tak membawa banyak baju. Hanya baju-baju penting yang dibawa. Padahal akhirnya diputuskan stay di Surabaya.
“Untung bawa baju koko sama sarung-sarung dari kamu,” kata beliau.
Mungkin raut wajah saya saat itu tidak menunjukkan kegembiraan. Biasa saja. Tetapi sungguh…dalam hati saya sangat gembira dan bersyukur! Ini adalah hadiah terindah tahun ini.😍😊

Benar ya, hadiah itu seperti sebuah harapan kepada penerimanya. Harapan saya, hadiah itu suatu saat jadi sesuatu yang berharga untuk ayah, menemani beliau sholat, dan itulah doa yang dikabulkan. 😊🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *