Kain Khas Banjarmasin, Melampaui Batas Sakral

20170714_101858

Uniknya Indonesia, salah satunya, nyaris tiap daerah memiliki kain khasnya sendiri. Perbedaannya terletak pada jenis kain, corak, motif, warna, atau cara pembuatannya. Seperti batik yang saya temui di Banjarmasin. Batiknya sangat beda dengan batik di Jawa. Batik ini batik yang disakralkan.

Seperti yang sudah saya sebutkan di artikel sebelumnya, saya dan teman-teman sempat berkunjung ke butik Irma Sasirangan di Sentra industri Sasirangan, pusat pengrajin batik Sasirangan. Sentra industri kerajinan sasirangan ini tidak jauh dari kantor Gubernur, persis berseberangan dengan Pasar Lama.

IMG_ad6gg5

Butik ini memang sudah terkenal di Banjarmasin.

Selain menjual bahan, di sini juga tersedia macam-macam pakaian jadi, untuk pria dan wanita, untuk anak dan dewasa, dengan model up to date. Tersedia juga tas, dompet, sandal, tempat tissue, bantalan kursi, bedcover, taplak meja, mukena, dan masih banyak jenis produk lain.

Jenis bahan kain yang tersedia, antara lain, Prima, Katun, Sating, Dorbi, Fiscos, Sutra super/grand, Sutra organdi, Sutra Shiffon, dan ATBM.

IMG_-2igxyu

Kualitas Irma Sasirangan ini cukup bagus, awet, warna cerah, motif variatif, dan juga banyak macam\item barang.

Yang menarik perhatian saya lagi, pemiliknya seperti sadar betul kebutuhan wisatawan.
Ruangan butiknya cukup luas, nyaman, dingin, dan bisa duduk santai sambil menonton TV atau mendengarkan alunan musik. Fasilitas ini penting untuk para pria yang menunggu istri atau rombongannya berbelanja tanpa merasa bosan.😅
Bahkan tersedia juga minuman dan makanan ringan, koran/majalah, plus tempat parkir yang cukup luas.

IMG_-yus2fz

Sudah tahu tentang batik Sasirangan?

Sasirangan ini merupakan kain adat khas suku Banjar.

Nama “Sasirangan” mengadopsi dari proses pembuatannya. “Sa” yang berarti “satu” dan “sirang” berarti “jelujur”.

Mengapa diberi nama manyirang atau menjelujur? Karena proses pengerjaan kain ini dilakukan dengan cara menjelujur yang kemudian diikat dengan tali lalu dicelup ke dalam pewarna. Hingga sekarang, kain sasirangan masih dikerjakan secara manual dan tradisional.

20170619_161954

Dahulu warna utama pada sasirangan dibuat dari zat pewarna alami, yaitu:
1. Kuning: dari temulawak atau kunyit
2. Hijau: dari jahe atau daun pudak
3. Ungu: dari biji buah ramania (gandaria)
4. Merah: dari buah mengkudu, lombok merah, gambir, atau kesumba (sonokeling).
5. Hitam: dari uar atau kabuau
6. Coklat: dari kulit buah rambutan atau uar.

Supaya warna kain sasirangan tampak lebih tua atau lebih muda serta tak mudah pudar, maka biasanya bahan tersebut dicampur dengan rempah-rempah seperti: lada, jintan, garam, jeruk nipis, cengkeh, cuka, tawas, kapur atau terusi.

Sejak 1982, dikenalkan warna sintetis yang membuat proses produksi bisa dipercepat, sehingga para perajin bisa memproduksi kain lebih banyak.

20170713_094741

Namun, sejak gencarnya kampanye go green dan back to nature, pengrajin dan konsumen mulai kembali tertarik untuk menggunakan pewarna alam. Mereka mulai sadar akan dampak negatif menggunakan pewarna buatan terhadap lingkungan.

Memang, proses produksi dengan pewarna alam lebih rumit dan lama dibandingkan menggunakan pewarna sintetis. Selain itu, warna yang dihasilkan juga tidak cerah. Tapi, kesadaran masyarakat yang tinggi pada kelestarian lingkungan membuat pawarna alami kembali diminati.

20170619_161931

Proses pembuatan kain sasirangan cukup rumit. Tahapan dimulai dari mendesign motif, merajut, mencelup, membuka rajutan, mencuci dan menyetrika. Semua ini murni kerajinan tangan (handmade).

Corak khas pada kain sasirangan diperoleh dari teknik-teknik khusus yang dipengaruhi oleh beberapa hal yakni, teknik jahitan serta ikatan, komposisi warna, dan jenis bahan pengikat/jenis benang.

20170713_094814

Motif pada kain sasirangan pada umumnya dapat digolongkan menjadi 3 kelompok yakni:

Motif lajur, yakni bentuk motif yang dirangkai secara memanjang.

Motif ceplok, yaitu bentuk motif yang tampil secara sendiri tanpa ada motif lain yang mendampingi.

Motif variasi, yaitu motif penghias sebagai tambahan dalam motif dalam lain yang sudah ada.

IMG_l9vncw

Ini contohnya. Yang biru ini kain Sasirangan sutra ATBM. Harganya Rp 1.250.000,-. Yang pink itu sutra grand, harganya Rp 650 rb.

Dahulu kain ini sangat disakralkan. Namun kini peruntukan kain sasirangan tidak hanya sebagai bagian dari ritual adat suku Banjar saja, tapi sudah meluas melampaui batas-batas sakral sebagaimana fungsi awalnya. Sekarang, di tangan pejuang-pejuang kreatif, tanpa berusaha mengubah fungsi utamanya, telah menjelma menjadi produk seni yang menakjubkan, bahkan sudah siap untuk go internasional!

2 thoughts on “Kain Khas Banjarmasin, Melampaui Batas Sakral

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *