Kampung Naga, Kampung Eksotik yang Wajib Dikunjungi di Tasikmalaya

Pernah kebayang ga, di era social media gini, kamu tinggal di kampung yang nggak ada listriknya? Mungkin kalau sesekali bisa lah ya, tapi kalau selamanya, hmmm…. Eh, tapi kampungnya indah, gimana? Hmmm..
Itulah sikon di Kampung Naga, desa Neglasari, Tasikmalaya. Perkampungan yang masyarakatnya masih sangat kuat memegang adat istiadat Sunda, peninggalan leluhurnya. Iya, di sana tidak ada listrik!


Nama kampung ‘Naga’ sendiri berasal dari bahasa Sunda ‘na gawir’ atau ‘sanaga’, yang artinya di bawah tebing. Letaknya yang berada di bawah tebing inilah yang jadi pe-er. Sebelum mencapai lokasi, teman saya dari trip #ExploreWestJava bersama West Java Tourism Board Desember 2015 lalu, sudah memperingatkan ‘Yang agak pe-er naik turun tangganya’. Oke, belum kebayang seperti apa. Licin kah? Susah kah? Sampai sempat dipertanyakan, bisa kah pakai rok, atau harus celana panjang?

Ternyata, bukan soal bajunya, yang penting sopan saja tak masalah, tapi…kami harus menuruni 439 anak tangga dulu, untuk mencapai kampungnya!

Belum lagi saat itu hujan, sehingga licin. Sebagian dari kami mengenakan jas hujan, sebagian lagi membawa payung. Tapi hasrat mengeluh dipastikan kalah dengan ego setelah melihat warga kampung, bapak-bapak dan ibu-ibu tua yang dengan santainya naik turun dengan membawa beban berat atau air di ember. Dengan cepat pula. Hahaha

Begitu kita mencapai setengah perjalanan anak tangga, kita bakal disuguhi pemandangan hijaunya sawah terasiring dan petak-petak sawah di bawah tebing yang indah banget, lengkap dengan jalan setapak dan sungainya. Jalan setapak yang panjang itulah yang harus dilewati setelah menyelesaikan ratusan anak tangga. Suara deru arus sungai dan gemericik air yang mengaliri terasiring berbaur dengan suara gerimis, mengiringi perjalanan kami. Sumber air kampung ini berasal dari gunung Cikuray.

https://multimediafile.files.wordpress.com/2012/04/kampung_naga1.jpg

Sesekali kami berhenti untuk saling mengabadikan foto dengan pemandangan rumah desa lengkap dengan sawah dan bebek-bebeknya. Instagramable banget 🙂


O ya, untuk masuk ke Kampung Naga ini, kita harus ditemani guide lokal, karena ada tempat-tempat terlarang untuk dimasuki, atau untuk difoto. Contohnya, rumah kepala kampung dan Bumi Ageng, tempat berlangsungnya upacara adat.

pic by cumilebay

113 rumah di Kampung Naga yang tidak boleh bertambah jumlahnya ini memiliki arsitektur yang khas dan seragam. Bentuk rumahnya berupa rumah panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag.

Rumah tidak boleh dicat, tetapi boleh dikapur. Rumah tidak boleh menghadap matahari, yaitu, Timur atau Barat, harus menghadap Utara atau Selatan.
Rumah tidak boleh memiliki daun pintu di dua arah berlawanan, harus memiliki 2 pintu yang sejajar dalam satu garis lurus untuk pintu ruang tamu dan pintu dapur, supaya rejeki yang masuk ke dalam rumah melaui pintu depan, tidak akan keluar melalui pintu belakang. Begitu kepercayaannya.

Warga Kampung Naga membangun sendiri rumahnya dengan bahan kayu yang diambil dari pohon di hutan kampung ini.

Di tengah-tengah desa sederhana dan asri dengan rumah-rumah yang seragam ini, kita akan menemukan masjid yang bentuknya berbeda dari bangunan lainnya, lengkap dengan bedug kayunya yang besar.

Di samping masjid depan pelataran yang luas itu tampak rumah yang teras sampingnya digunakan untuk berjualan pernak-pernik hasil kerajinan warga Kampung Naga untuk oleh-oleh wisatawan.

Saat memasuki perkampungan ini, kami sempat ngobrol dengan ibu-ibu yang sedang membuat tempat dodol dari anyaman.
“Tetehnya geulis euy,” begitu pujian yang sempat diarahkan kepada saya dari ibu muda ini dengan lugunya secara tiba-tiba, saat saya sibuk memotret.
“Kenapa bu?” tanya mas Bram.
“Tetehnya geulis,” ulang ibunya, yang saya balas dengan tawa dan ucapan terima kasih.
Hahaha, sebenarnya saya lega. Saya sempat kaget, kirain ditegur tak boleh foto, ternyata memuji.

Kami sempat bertamu ke salah satu rumah guide kami, pak Sariyah. Rumahnya, seperti rumah lainnya di kampung ini, hanya berisi kamar tidur, dapur tradisional yang masih menggunakan tungku dan kayu bakar untuk memasak, ruang keluarga, dan ruang tamu. O ya, ruang tamunya tanpa kursi, apalagi sofa, supaya tidak ada gap duduk di atas dan bawah. Rumah di sini memang tidak boleh dilengkapi dengan perabotan seperti kursi, meja, dan tempat tidur.

Sementara itu kamar mandi terletak di luar, karena mereka percaya, rumah panggung yang disatukan dengan kamar mandi atau MCK itu tidak sehat.


Sebenarnya di kampung ini masih permisif dengan tekhnologi, buktinya di ruang keluarga pak Sariyah terdapat radio, meskipun radio baterai. Tetapi tidak ada televisi di rumah ini. Bukan larangan, karena beberapa rumah memiliki televisi dengan tenaga accu. Listrik yang mudah konslet bisa menyebabkan kebakaran besar karena semua atap rumahnya terbuat dari bahan mudah terbakar.

Rumah pak Sariyah memiliki lumbung di samping dapur, untuk menyimpan padi. Iya, di sini warganya makan dari hasil panennya sendiri. Di ruang keluarga rumah pak Sariyah ini contohnya, tampak tumpukan persediaan gabah berkarung-karung yang cukup untuk 2 tahun.
“Aneh, kan, kalau petani kekurangan makanan,” ujar pak Sariyah.

Memang banyak aturan tabu, pantangan, atau pamali, yang menjadi ketentuan hukum tidak tertulis yang dijunjung tinggi dan dipatuhi oleh warga Kampung Naga. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah, upacara, kesenian, dan sebagainya.

Bagi mereka, segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran nenek moyang di sini, dianggap sesuatu yang tabu. Apabila dilakukan, berarti melanggar adat, dan akan menimbulkan malapetaka. Kepercayaan itulah yang membuat mereka sangat patuh.

O ya, kalau ke Kampung Naga, di pelataran depan parkiran, sebelum menuruni anak tangga, ada sekretariat HIPANA (Himpunan Pramuwisata Kampung Naga). Nah, kita bisa minta tolong cari guide di situ 🙂

pic by cumilebay

Bila pembaca ingin mencoba kehidupan warga Kampung Naga yang sangat sederhana dengan adat istiadatnya, sekaligus menikmati keindahan alamnya, wisatawan diperkenankan menginap di rumah warga, loh, dengan biaya sekitar Rp 200 ribu, sekalian biaya makan. Akan lebih sempurna lagi seandainya ke sana saat perayaan adat, atau perayaan Islam, mungkin?

Tertarik?

10 thoughts on “Kampung Naga, Kampung Eksotik yang Wajib Dikunjungi di Tasikmalaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *