Karakter Fiktif Social Media, Pemberi Harapan Palsu

“Dari tweet seseorang bisa dilihat karakter seseorang tanpa harus menemuinya,” begitu yang ditulis oleh salah satu teman di status twitternya. Pernyataan yang saya sangat tidak setuju!

Banyak teman yang saya kenal, aktif, lucu, ramai di twitter, tetapi aslinya pendiam. Ada pula yang di twitter biasa saja, tidak lucu, tetapi karakter aslinya benar-benar lucu. Di twitter itu banyak karakter yang sengaja dibikin baru, banyak juga karakter yang keluar karena kekuatan text. Iya, banyak orang yang emosinya justru keluar dengan bantuan text.

Saya sendiri pun bisa bermain karakter dengan kekuatan 140 karakter di twitter. Dalam waktu 2 bulan, karakter bisa berubah total karena efek snowball. Begini ceritanya…

 

Minggu pertama bulan November 2012 lalu, dini hari, seperti biasa, di mana banyak kaum kalong di twitter masih ramai saling bully, dan saat itu giliran saya kena bully. Entah bagaimana mulainya, tahu-tahu ada teman yang men-tweet “Siapa lagi korban PHP #leonivora ?”. Fyi, #leonivora itu sebutan fanbase iseng untuk @leonisecret akun twitter saya, ide namanya datang dari follower, berdasarkan ‘lovenivora’, kata yang sempat saya sebut untuk mereka yang haus cinta.

Satu tweet tentang PHP (Pemberi Harapan Palsu)  #leonivora pun diikuti tweet-tweet dari teman-teman terdekat saya. Waktu itu saya protes berat karena merasa dipermainkan, mereka teman-teman saya yang PDKT pun tidak pernah, sudah mengaku korban PHP saja, bahkan kenal dengan mereka pun baru 2 bulanan ini. Waduh, reputasi berubah total! Dari Leoni sebagai speaker, public relations, banyak membicarakan #personalbranding, tetehnya atau kakaknya anak-anak, tiba-tiba menjadi seorang cewek PHP-ers.

Marah pun reda setelah teman-teman menjelaskan bahwa itu untuk membuat karakter lucu @leonisecret yang catchy, dan siap dibikin kaosnya, hihi. ‘Gebetan pun pasti akan ngerti lah kalau itu cuman becandaan’ begitu kira-kira alasan teman-teman saat itu. Saya pun akhirnya ikuti gamesnya. Kata ‘harapan’ sering jadi keyword di tweet, dan follower pun jadi mengenal saya sebagai ahli PHP. Padahal hanya bermula dari becandaan dini hari itu.

 

Berhasil, itulah yang bisa saya simpulkan. Mengapa?

“Aku jangan di-PHP-in ya” ini jadi template orang saat pertama kali chat dengan saya.

Sedikit-sedikit follower akan nyamber ‘hati-hati PHP nih’ tiap saya nge-tweet tentang becandaan gombalan tanpa mention.

Saat saya bercanda dengan lawan jenis sekedar menggombal mengikuti arus tweetnya, orang akan menuduh yang cowok nyepik, yang cewek PHP.

Saat offline membahas tentang PHP atau friendzone, dan saya tidak berkomentar, mereka

sudah menuduh ‘Ini ratu PHP-nya cuman senyum-senyum doank’.

‘Cie ratu PHP beraksi’ komentar teman saat saya ngobrol dengan teman cowok yang baru.

Sudah ada brand yang menggunakan sebagai buzzer untuk karakter cewek yang memberi harapan ke banyak cowok.

Karena tuduhan PHP ini sudah menyebar, saya pun mencantumkan ‘dituduh ahli PHP’ di bio twitter saya. Ternyata malah semakin banyak yang membully. haha

 

Karakter buatan  di social media ini tidak mengganggu, lucu, fun, asal tidak pengaruhi relationship, yaitu saat yang terdekat dengan kita sudah benar-benar percaya bahwa becandaan ini serius. Sudah mengganggu juga bila lama-lama PHP ini jadi alasan seseorang untuk menyalahkan karakter kita, entah becanda atau serius. Ujung-ujungnya jadi benar-benar serius dan mengganggu segala hubungan, saat orang jadi tidak menghargai kita atau memandang sebelah mata. Salah paham dan salah tanggap, karena semua becandaan kita dianggap serius dari hati.

The truth is, saya tidak pernah tahu dengan tepat, siapa saja cowok-cowok yang naksir dan PDKT karena jarang yang berani mengungkapkan, yang ada mereka sungkan, gimana mau PHP? Atau karena saya tidak yakin perasaannya setelah mengenal. Sebagian lainnya menganggap PHP karena memang saya perlakukan semuanya sebagai teman, perhatian sebagai teman, tanpa modus tertentu. Dan, saya penganut pacaran serius bukan sekedar fun, jadi yang becanda ya hanya sampai di kata-kata saja, dan itupun pasti saya pilih mereka yang tidak sensitif, jadi tahu bahwa itu sekedar becanda, tidak serius. Untuk yang mudah berharap, saya tidak berani becanda dengannya.

Tetapi ya…di twitter itu banyak sekali karakter, banyak yang suka becanda, banyak pula yang sensitif, jadi hati-hatilah menggunakan karakter kecuali sudah dipikirkan risikonya. Tidak lucu lagi bila sudah mempengaruhi kehidupan pribadi kita, bukan? Masih banyak orang judge a book by its cover.

Oke, that was fun, but sometimes I miss my own character ^^

 

 

 

 

 

9 thoughts on “Karakter Fiktif Social Media, Pemberi Harapan Palsu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *