Kenapa Royalti Novel Destiny Didonasikan?

Alhamdulillah, setelah lama menunggu, akhirnya penerbit mengabarkan kalau novel saya sudah selesai tercetak! Yayy \o/

Rencananya, tanggal 24 Mei 2014 ini akan ada booktalk-nya di JCC, Istora Senayan, jam 16.30 WIB, di acara Jakarta Book Fair. Semacam launching gitu, deh.

Nah, yang mau saya jelasin di sini adalah…bahwa..dengan membeli novel ‘Destiny’ cetakan pertama ini, otomatis teman-teman ikut mendonasikan sebagian penjualannya untuk biaya pendidikan adik-adik yang kurang mampu secara finansial, baik pendidikan formal maupun informal. Yes, seluruh royalti penulisnya akan didonasikan ke mereka melalui gerakan dan yayasan yang digawangi oleh anak muda kreatif, yaitu @CoinaChance dan @SaveStreetChild. Saya kagum sama teman-teman yang konsisten mengelola dan bimbing anak-anak asuhnya :3

Kenapa saya memutuskan mendonasikan semua royalti saya di novel cetakan pertama ini?

Photo: Alhamdulillah :3Kabar hari ini, #DestinyTheNovel udah selesai dicetak @bentangpustaka \o/

 

Jadi gini…

1. Saya pernah jadi anak yang nggak bersyukur banget udah dibiayai sama ortu.

Jadi ceritanya, dulu saya kuliah S1 Akuntansi, tapi saya sama sekali nggak suka, nggak menikmati pelajarannya. Apalagi di tengah perjalanan, saya mendapat pekerjaan sebagai staf Humas salah satu BUMN, antara bekerja dan magang gitu. Di situ saya menemukan passion saya di dunia public relations. Trus, ujung-ujungnya saya bilang ke ortu pengen keluar dari kuliah, drop out dan pindah ke S1 Komunikasi. Ortu tentu saja marah, gak setuju. Mereka bilang, nggak banyak yang bisa masuk Universitas Airlangga Surabaya, baiknya diselesaikan saja, setelah itu, terserah.

Dengan setengah hati saya menyelesaikan hingga lulus S1, dengan mengorbankan 3 tahun pekerjaan di Humas, karena kalau dilanjutkan, saya nggak bakal konsen selesaikan skripsi. Setelah lulus, saya diterima di salah satu Bank Swasta, yang nggak sampai 3 bulan, Bank itu memutuskan merumahkan seluruh karyawan barunya, ada 10.000-an karyawan yang dirumahkan karena persoalan moneter. Jadi, saya yang sudah belain pindah-pindah kota kecil demi mengikuti karir di Bank, ternyata ikut kebagian yang sial.

Dengan ijazah S1 Ekonomi, saat itu susah balik ke dunia Public Relations. Sementara sudah marah dan kecewa banget karena ijazah S1 Ekonomi, Ibu pun ngomel terus karena dianggap saya lah yang memutuskan keluar karena ‘bosenan’ dan dihubung-hubungkan dengan persoalan percintaan. Haha. Iya sih memang bosen, tapi bukan karena itu sebenarnya. Sedang sial saja.

Saking suntuknya di rumah karena diomelin dan nggak punya penghasilan, saya putuskan jalan-jalan ke Tunjungan plaza, Surabaya. Sendirian. Kayak anak ilang yang galau gitu. Di situ saya melihat ada booth yayasan anak asuh. Berkali-kali saya melewati booth itu, antara ingin mampir dan ragu. Apa yang bikin bingung? Dari dulu saya pengen banget jadi orang tua asuh, tapi saat itu saya cuman punya uang Rp 100 ribu, dan biaya yang diperlukan untuk jadi orang tua asuh adalah Rp 75 ribu/bulan. Saya bimbang, kalau saya sumbangkan, berarti saya nggak punya uang jajan lagi.

Akhirnya ada satu titik di mana saya merasa tertampar. Hei, kalaupun saya nggak punya uang, saya masih ada keluarga yang bisa membantu, harusnya saya bersyukur. Kalau mereka?

Saya sekolah tinggi dibiayai orang tua, tapi sekolahnya setengah hati, sementara mereka yang niat banget pengen sekolah, malah kesusahan biaya, harus dengan bantuan orang tua asuh. So, tanpa pikir panjang lagi, saya donasikan lah sisa uang jajan itu, dan setelahnya…seminggu kemudian, saya dapat panggilan kerja yang bahkan saya tidak melamar saat itu :)

Dan soal sekolah komunikasi? Akhirnya saya bisa lanjutkan S2 Komunikasi :)

Kayaknya rejeki bakal dimudahkan kalau kita sudah bersyukur :)

2. Bersyukur selamat dari 3 kecelakaan!

Saya pernah jatuh tertabrak motor saat menyeberang, hingga jatuhnya terpental dengan kepala mengenai tanah duluan. Saya sempat pingsan karenanya. Yang saya tidak sadari, sepertinya ini bikin trauma saat berhadapan dengan stress yang berlebihan. Beberapa tahun kemudian (atau 2 tahun lalu) berturut-turut, 3 kali saya kecelakaan saat menyetir mobil pribadi. Sekali menyerempet mobil-mobil yang sedang parkir, sekali menabrak mobil yang menyeberang di depan, dan sekali nyaris saja ditabrak bus besar karena tahu-tahu mobil saya mengarah ke arah bus. Dan saat orang-orang protes marah-marah kepada saya, saya bengong, nggak tahu harus cerita apa, karena saya nggak ingat kejadiannya, ada mobil di depan pun saya memang nggak lihat. Seperti kehilangan memory. Pernah nonton film Butterfly Effect?

Begitulah kira-kira. Ada beberapa detik saya kehilangan moment, kehilangan memory. Dan setelahnya saya berhenti setir mobil. Haha. Tapi saya bersyukur, saya masih hidup. Why? Pasti ada alasannya.

3. Passion for good, Passion for goodness!

Selama 2 tahun kemarin saya banyak kecewa karena harapan yang terlalu tinggi kepada orang lain, kepada teman, hingga akhirnya banyak kecewa. Dan juga sial kayaknya, saya banyak dikhianati atau dikecewakan rekan yang salah mengartikan maksud saya. Oh ya, masalah orang komunikasi adalah komunikasi!

Sejak tahun kemarin, saya bahagia melebihi kebahagiaan yang sebelumnya, tapi dengan cara yang sederhana. Iya mengubah standar kebahagiaan. Saya memilih pekerjaan freelance karena passion, dipilih klien karena hasil passion, diam-diam memilih pasangan dengan passion tanpa perlu gembar-gembor dan menjadi keseruan cerita orang lain, bukan cerita kita, seperti yang lalu-lalu, hihi, dan berteman hanya dengan mereka yang benar-benar tulus. Intinya, selamanya dengan passion. Dan novel ini pun selesai karena passion. O ya, cita-cita saya ke Jakarta dulu tuh buat cari tahu caranya nerbitin novel, hingga akhirnya saya ngeblog dan lupa dengan rencana saya ini. Tapi dari blog ini saya mendapatkan segala yang pernah saya impikan. Termasuk salah satunya dipinang oleh penerbit yang melihat tulisan blog ini.  So, saya ingin bersyukur. Saya ingin passion ini bukan hanya untuk kebahagiaan saya, tapi juga kebahagiaan orang lain. Biar dobel bahagianya :)

4. Supaya pengorbanan pohon tidak sia-sia ^,*

5. Yaa..pengen aja >,<

Yes, semoga ‘Destiny’ bukan hanya mewujudkan destiny pengarangnya, tetapi juga destiny positif buat adik-adik tadi untuk meraih cita-citanya, sekaligus destiny positif untuk pembacanya dengan membaca ‘destiny’-nya sendiri (teman-teman akan tahu maksudnya setelah baca novelnya ^,*).

Kebaikan itu menular dan membesar seperti bola salju, teman!

Selamat membeli, selamat membaca, selamat berbuat kebaikan! Cheers!

One thought on “Kenapa Royalti Novel Destiny Didonasikan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *