Ketegangan di antara Nyepi dan Bintang Jatuh

IMG-20160309-WA0013-01

Penuh nilai spiritual, magical, bikin bahagia, kagum, merinding, tegang, bingung, sekaligus lucu. Itulah pengalaman pertama kegagapan menikmati malam Nyepi di Sanur, Bali. Ya, nggak pernah terbayangkan bakal menghabiskan hari raya Nyepi di Bali yang hening. Namun ternyata Nyepi di Bali memberi pengalaman tak terlupakan! Ini ceritanya…😉


Bali yang selama ini penuh keramaian hingga pagi, dikenal sebagai surga bagi wisatawan, tiba-tiba hening. Kesunyian ini dimulai sejak memasuki tanggal 9 Maret 2016. Saat itu sepulang dari menonton Festival Ogoh-ogoh di jalan Danau Tamblingan, depan Hyatt, Sanur, saya sempat mampir ke minimarket membeli obat karena sudah mulai kehilangan suara akibat batuk dan flu. Saya diantar oleh bli Tozan, panitia dari st. Graha Canti banjar Semawang, yang mengundang saya untuk acara Festival Ogoh-ogoh (bisa klik link untuk baca artikelnya).

le2TGndJHq5uB7tGssD7oa24Z0Tw2PayI9O99xaL6Ag

Begitu jam menunjukkan pukul 00.00 WITA, semua penerangan di jalan dan rumah-rumah di luar minimarket sudah dimatikan.

Minimarket ini pun tinggal menunggu satu dua pelanggan. Kami kembali ke Sukun Bali Cottage, tempat saya menginap, di antara suasana gelap dan sunyi.
Lalu lalang kendaraan yang menyertai aktivitas masyarakat sebagai komponen utama mesin industri pariwisata berhenti total sejak pukul 6 pagi tanggal 9 Maret 2016 hingga 6 pagi esok harinya. Namun umumnya sejak memasuki tanggal 9, warga sudah mematikan semua alat elektronik dan listrik, kecuali mereka yang beraktivitas kembali ke rumah masing-masing dan para pecalang yang lalu lalang menjaga keamanan.

Menyambut Tahun Baru Caka 1938, umat Hindu mengisinya dengan ritual Tapa Brata Penyepian. Selama 24 jam penuh, mereka pantang melakukan empat hal yang menjadi kebiasaan sehari-hari, yakni menyalakan api (termasuk juga lampu), bepergian, bekerja, dan bersenang-senang.

Selama 24 jam pula umat Hindu berdiam diri di rumahnya masing-masing setelah semalaman mengarak ogoh-ogoh yang disimbolkan sebagai buta kala atau makhluk jahat yang harus diperangi dalam jiwa.

Dan tanggal 9 Maret 2016 ini berlipat keistimewaannya untuk Bali. Selain memperingati hari raya Nyepi, hari itu juga bertepatan dengan fenomena Gerhana Matahari. Indonesia menjadi satu-satunya negara yang bisa menyaksikan Gerhana Matahari Total. Meski di Bali hanya bisa melihat gerhana matahari sebagian, tetap saja bikin penasaran karena terakhir kali terjadi tahun 1995, dan diperkirakan baru terjadi lagi tahun 2023.

IMG_20170924_080313

Pagi itu, sekitar pukul 7.30 WITA, kami, para penghuni Sukun Bali Cottage dan teman-teman media, yang semuanya belum mandi dan masih bau bantal, berkumpul di sekitar kolam renang untuk menyaksikan langsung gerhana matahari.

Karena tidak tertangkap lensa kamera kami, haha, akhirnya kamera dari rekan Kompas TV pun jadi andalan. Selama beberapa menit kamera yang sedang merekam timelapse proses gerhana matahari ini menjadi media untuk menyaksikan gerhana dengan jelas. Terima kasih, gaes, you’ve made my day 😘

IMG_20170924_080323

Karena tidak boleh keluar area hotel dan tidak boleh menyalakan TV, aktivitas kami masih seputar kolam renang, membaca, online, ngobrol, lihat jalan sepi, makan, dan tidur. Buat wisatawan yang tidak terbiasa dengan suasana dan aturan atau ritual Nyepi, sebenarnya kamar-kamar hotel di Bali tetap menyalakan listrik, khusus di dalam kamar tamu, jadi tidak menghalangi aktivitas online, tapi tak ada salahnya juga belajar membiasakan kehidupan yang serba terbatas seperti makna Nyepi, kan?

Pada hakikatnya, Nyepi merupakan tuntunan untuk mengheningkan pikiran dengan mengendalikan api nafsu indria atau keserakahan.

FB_IMG_1506225940308

O ya, di Sukun Bali Cottage ini kita bisa bersepeda mengelilingi cottage yang luasnya 4000 m².

FB_IMG_1506225958484

Yang menarik lagi, di antara modernisasi design hotel-hotel yang sekarang beramai-ramai cenderung memilih gaya simple, cottage ini justru mempertahankan eksterior dan interior yang Bali banget.

FB_IMG_1506225961913

Bisa dilihat mulai dari lobby dan interior pintu kamarnya yang penuh ukiran Bali.

20170405_162831

Begitu masuk kamar, kita akan disuguhi cantiknya bed berkelambu dan furniture serba kayu.

FB_IMG_1506225952372

Dan yang paling bikin kagum, langit-langitnya full berupa lukisan indah khas Ubud, yang menceritakan kehidupan Ubud, dan memang dipesan khusus dari pelukis Ubud, supaya berasa di Ubud yang memang jadi icon kedamaian Bali. Istimewanya lagi, tiap kamar memiliki lukisan yang temanya berbeda dengan kamar lainnya.

FB_IMG_1506225955572

Sementara itu modernisasi pada interior dan eksteriornya tampak pada peralatan elektronik dan bathroom lengkap dengan bath tub-nya, serta kolam renang.

FB_IMG_1506225967773 Nilai plus-nya lagi, karyawannya ramah-ramah, euy! 😊

 

Begitu matahari sudah kembali ke peraduannya, situasi Bali pun diliputi kegelapan. Suasana Nyepi baru benar-benar terasa, karena semua listrik di luar kamar dimatikan. Malam itu para pecalang berkeliling banjar. Jika ada rumah yang masih menyalakan lampu, pasti bakal ditegur.💪

Kami berkumpul di resto cottage untuk makan malam, bersama dengan pecalang-pecalang juga.

Nah,di sinilah kelucuan terjadi..

Karena gelapnya, kami hanya menggunakan cahaya dari hape untuk memilih makanan prasmanannya. Dari sore saya hanya membawa kamera foto dan meninggalkan hape di kamar, jadilah saya hanya mengandalkan cahaya dari hape sebelah, milik teman media. Mengambil makanan yang terlihat enak, meski remang-remang cahaya hape, tanpa melihat tulisan yang tertera di depannya.

FB_IMG_1469967035145

Kami makan malam sambil ngobrol, cerita sana sini, menikmati kegelapan. Sampai akhirnya ada teman yang datang dan menanyakan daging prasmanan di situ, mana yang halal mana yang haram bagi muslim. Di situlah saya merasa sedih…ternyata daging paling terlihat kenyal yang saya makan tadi ternyata daging babi, yang dilarang untuk muslim. Haha!😂😂😂

Rasanya…ya enak, sih. Tak apalah ya, namanya juga nggak tahu. Dimaafkan. Hihi.😁😝

Semakin malam, semakin terasa suasana Nyepi-nya. Begitu makan malam berakhir, kami sudah tak diijinkan menyalakan cahaya, baik itu dari senter atau hape, kecuali pecalang. Ngobrol pun dengan bisik-bisik.

Namun semua keterbatasan itu terbalas saat memandang ke atas. Langit Nyepi di Bali sangat sangat sangat indah!! Gugusan bintang terlihat begitu jelas dan dekat, seperti melihat langit berbintang dari gunung. Maklum, hari inilah saat kita bisa menikmati Bali tanpa distorsi suara, asap kendaraan, dan distorsi cahaya. Untunglah ada Nuri yang jago foto. Jadilah dia andalan memotret saya berlatar langit berhias milkyway ini. Indah, kan?! Makasih, Nuri 😍😘

IMG-20160309-WA0013-01

Dua kali saya melihat bintang jatuh melintas di langit! Lintasannya pun jelas banget! Kalau waktu di Bromo lintasannya kurang begitu jelas karena terlalu banyak bintang jatuh, di langit Sanur ini sangat jelas. Yang pertama hanya saya yang menyaksikan. Memang tidak begitu panjang, tetapi tetap jelas, dan masih sempat make a wish dalam hati. Nah, yang ke-2, kami semua menjadi saksi hidup karena memang lintasan bintang jatuhnya panjang.

“Bintang jatuh!” seru saya dan salah satu teman lainnya sambil menunjuk ke langit.

Kami pun sibuk make a wish. Wish yang kemungkinan bisa disesali di kemudian hari karena munculnya spontan. Bisa jadi suatu saat mikir ‘kok doanya itu sih, kok nggak kepikir doa ini’. Haha. Yaa, namanya juga dari hati, yang muncul ya yang lagi ada di hati.😁
Best shooting star ever!😍

Tegang! Itu juga yang sempat kami rasakan malam Nyepi.

Saat berkumpul dan ngobrol dengan para pecalang, salah seorang pecalang tiba-tiba menghentikan obrolan kami.
“Ssst!”
Ada apa? Ada apa?

Kami kebingungan, disangka karena terlalu berisik. Sambil berbisik, bli Tozan pun menjelaskan kepada saya dan Imel. Saat kami semua ngobrol tadi, ternyata ada suara cekikikan perempuan yang terus-menerus, tetapi begitu kami diam, dia pun diam. Belum lagi ada berita leak yang tertangkap.

Jeng jeng!😨😱
“Balik, yuk,” kata Imel yang mulai merinding.

Kami pun kembali ke kamar…berusaha tidur.😶

Ya, itulah akhir dari malam Nyepi kami, diakhiri dengan ketegangan. Haha.😂😂

IMG_20170925_094917

Pagi pertama tahun Saka di pantai Sanur. Ritual Ngembak Geni dilakukan bagi seluruh umat Hindu untuk saling memaafkan dan menyambut hari baru yang akan datang. 🙏 Aktivitasnya..sembahyangan, lalu mandi di pantai, bersama keluarga. 🙏

5 thoughts on “Ketegangan di antara Nyepi dan Bintang Jatuh

  1. Hadeuh… indahnya langit Bali saay itu ya.
    em Kak, emang bintang bisa jatuh dua kali dalam kurun waktu dekat?
    kirain… jangka waktunya juga panjang banget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *