Keteguhan Merawat Budaya dan Gotong-royong ala Bali

_20160731_162337

Bagi saya, Bali itu bukan pantainya atau party 24 jamnya yang bikin kangen, tetapi kekuatan budayanya. Itu yang membuat saya selalu kemBali. Uniknya, Bali ini bisa jadi wilayah yang paling banyak dimasuki pengaruh luar, karena wisatawan mancanegaranya masih yang terbanyak di Indonesia. Di sisi lain, kegigihan Bali merawat dan melestarikan budayanya dalam keseharian patut diacungi jempol, mengingat daerah lain sudah banyak yang mengeliminir ritual atau tradisinya karena modernisasi. Masyarakat Bali dapat menyaring dan memilah pengaruh-pengaruh luar yang datang silih berganti, sehingga tidak mengikis tradisi, justru sebaliknya, banyak pendatang ingin mempelajari tradisinya.😉

Budaya Bali dan filosofi-filosofinya selalu bikin penasaran, itulah kenapa Bali yang teralkuturasi dengan budaya Jawa banyak menginspirasi novel pertama saya yang berjudul Destiny. Sedikit banyak, saya mempelajari  pandangan masyarakat Bali dari kakek yang asli Bali, yang bakal dengan senang hati menceramahi tentang filosofi hidup di Bali, hihi, dan tante yang kebetulan seorang Pemangku (semacam pendeta untuk umat Kristen, atau ulama untuk umat Islam).😊

Bagi warga Bali, kebudayaan tak bertumbuh tanpa tanah. Selain menjadi simbol kesabaran paling absolut (karena tanah dinjak-injak, dikotori, dan semacamnya, tetapi tetap diam serta tetap membawa kesejahteraan bagi yang menjaganya), tanah juga menunjukkan awalan dari kehidupan.

FB_IMG_1469966917939

Salah satu bentuk penghormatan terhadap tanah diwujudkan melalui persembahan banten saiban, ritual merawat tanah ala Bali. Mulai dari ngaturang banten saiban tiap hari, saban Kajeng Kliwon, Tawur Kasanga menjelang Nyepi, Panca Bali Krama tiap sepuluh tahun, Eka Dasa Rudra tiap seratus tahun, dan angrebu bumi saban seribu tahun.

Berbagai perlambangan dalam upacara keagamaan di Bali umumnya mencerminkan keteguhan spiritual. Perlambangan ini sebagai media pemujaan, meditasi, dan penyampaian rasa syukur pada Tuhan. Misalnya persembahan banten untuk penghormatan pada tanah, pada hakikatnya karena penyampaian rasa syukur kepada Tuhan, menyucikan tanah, sekaligus merawat tanahnya. Di sini hubungan antara manusia, lingkungan, dengan Tuhannya sangat harmonis.

Saya suka mengikuti acara ritual adat Bali. Setelah menjadi pemangku, secara otomatis aktivitas tante saya banyak dihabiskan untuk melayani umat dan berbakti kepada junjungannya, baik di Pura ataupun di rumah. Jadi selama bersama keluarga di Klungkung, akan banyak kesempatan untuk mengenal tradisinya, termasuk yang paling dasar, yaitu membuat canang 😁

_20160731_165856

Tentunya saya tidak mengikuti ritual-ritual itu secara penuh, hanya sekedar mengenal dan mengabadikan momennya. Tetapi sungguh, ritual-ritualnya begitu indah untuk diabadikan, selain juga karena suka mengenakan pakaian adat Bali. Hihi.😁

Sayangnya kebanyakan waktu saya di Bali adalah untuk travel sambil bekerja, bukan bersama keluarga. 😁

_20160731_165843

Salah satu fun trip sekaligus spiritual trip yang berkesan bagi saya adalah saat menyaksikan rangkaian perayaan Nyepi tahun Çaka 1938, termasuk Festival Ogoh-ogoh, di Banjar Sawangan, Sanur, Bali, Maret 2016 lalu. Selama beberapa hari saya di sana, membuktikan langsung kehidupan adat warga Bali dan keteguhan spiritualnya.

Magical, bikin kagum, merinding, tegang, bingung, sekaligus lucu. Itulah pengalaman pertama kegagapan menikmati malam Nyepi di Sanur, Bali. Ya, nggak pernah terbayangkan bakal menghabiskan hari raya Nyepi di Bali yang hening. Namun ternyata Nyepi pertama di Bali memberi pengalaman tak terlupakan! Dan di sini saya melihat keteguhan masyarakat Bali dalam merawat mahakarya budayanya dan bahwa jiwa gotong-royong masih ada di Indonesia 😊

20160309182437-01

Pawai ogoh-ogoh biasanya berlangsung serempak sehari menjelang Hari Raya Nyepi di setiap banjar di seluruh Bali. Tiap banjar akan berlomba membuat ogoh-ogoh mengungguli karya banjar lainnya dalam festival ogoh-ogoh. Pelaksanaan festival ini biasanya dikelola oleh Sekaa Teruna Teruni, semacam karang taruna, di masing-masing banjar. Nah, perjalanan saya kali ini atas undangan bli Tozan dari Sekaa Teruna Teruni banjar Semawang, st. Graha Canti.😊

Saya berangkat menuju Bali tanggal 6 Maret 2016 demi mengabadikan upacara Melasti yang berlangsung sore harinya.

Ritual Melasti ini adalah kegiatan penyucian diri menjelang Hari Raya Nyepi tahun baru Saka, yang ditandai iring-iringan warga berpakaian adat membawa “Pratime” menuju berbagai pantai.

_20160731_165553

Menjelang Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu memang menjalani sejumlah ritual khas yang hakikatnya sebagai upaya penyucian diri dan lingkungan sekitar. Pada 2-4 hari sebelum Nyepi, masyarakat menyucikan diri dan perangkat peribadahan di pura melalui Upacara Melasti.

Ritual Melasti tidak hanya di pantai Segara saja, tetapi berlangsung di beberapa pantai di kawasan Bali dengan jadwal yang berbeda-beda. Kegiatan penyucian ini melibatkan ratusan warga dari puluhan banjar atau dusun dalam satu desa adat, sehingga semarak dan menarik perhatian wisatawan.

Ritual penyucian meliputi dua hal, yakni “bhuana agung” atau alam semesta dan “bhuana alit” yang diterjemahkan sebagai jiwa raga. Selesai ritual menyelupkan kaki ke pantai, mereka secara tertib berjalan beriringan meninggalkan pantai menuju pura banjar disertai dengan tetabuhan. Iring-iringan inilah yang menarik untuk difoto.😍

FB_IMG_1469966931001

Kalau Festival Ogoh-ogoh merupakan rangkaian dari perayaan menjelang Nyepi, ada juga ritual yang dilaksanakan pagi hari sebelum festival ogoh-ogoh, yaitu upacara Meprani.

Bersama teman-teman, saya sempat mengikuti upacara ini di pura bale banjar Semawang, dengan mengenakan baju adat untuk sembahyangan, berupa kebaya putih, selendang lilit warna hijau di perut, dan jarik.

_20160731_162252

Sejatinya upacara Meprani adalah ungkapan rasa syukur dan bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi dengan mempersembahkan banten serta hidangan (prani) untuk memohon kesejahteraan semua mahluk (sarwa prani) dan alam semesta.

Banten prani ini dihaturkan oleh setiap keluarga banjar, ditempatkan langsung di hadapan krama yang menghaturkan prani. Banten prani kemudian di-astawa oleh jero mangku dan seluruh krama dengan cara ngayab.

Saya sempat mencoba memanggul beberapa banten prani itu. Ada yang beratnya wajar, ada yang..oh my God..sangat berat hingga saya tak sanggup memanggul sendiri! Hebat, deh, ibu-ibu yang dengan mudahnya memanggul banten berat itu. Kuat banget!😱

_20160731_222102

Setelah dilakukan meprani, semua krama beramahtamah dengan makan bersama menikmati hidangan yang ada di banten prani, sebagai simbol anugerah amerta Ida Sanghyang Widhi Wasa. Menurut saya, acara ini memiliki nilai sosial karena ada kebersamaan antar sesama warga, seperti juga ritual jelang Nyepi lainnya.

Satu hari sebelum Nyepi, dilakukan ritual Buta Yadnya (Bhuta Yajna), rangkaian upacara untuk menghalau kehadiran buta kala yang merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia. Dalam rangkaian ini terdapat tradisi pawai ogoh-ogoh yang dijadikan sebagai festival tahunan yang semarak dan menjadi daya tarik pariwisata.

20160309175512-01

Umumnya ogoh-ogoh dibuat dengan bahan dasar styrofoam atau kertas semen, dibentuk 3 dimensi, dilengkapi dengan batang bambu sebagai dasarnya. Pembuatan ogoh-ogoh ini butuh kegigihan, kesabaran, dan keikhlasan, karena bisa berlangsung sejak berminggu-minggu sebelum Nyepi, loh, bergantung pada ukuran, jenis bahan, jumlah SDM yang mengerjakan, dan kerumitan desain dari ogoh-ogoh tersebut. Dan begitu festival selesai, ogoh-ogoh yang pembuatannya cukup rumit dan lama ini harus dibakar di pantai dalam suatu upacara ritual. Gimana nggak perlu keikhlasan, coba? 😁

_20160801_011931

Saat tampil memamerkan ogoh-ogohnya, tiap tim dari masing-masing banjar yang terdiri dari beberapa pemuda, harus menggoyang-goyangkan atau tepatnya mengoyak ogoh-ogohnya, untuk mempertunjukkan kekuatan ogoh-ogoh karya mereka. Jadi dari awal strategi pembuatan hingga akhir dipamerkan, membutuhkan gotong-royong para pemuda banjar.

20160308201153-02

O ya, sudah disebutkan tadi bahwa batang bambu digunakan sebagai landasan (untuk mengangkat ogoh-ogoh). Bambu ini salah satu jenis tanaman yang paling banyak digunakan masyarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari. Hampir di setiap upacara keagamaan, bambu pasti digunakan, baik daun maupun batangnya. Bagi masyarakat Bali, bambu ternyata memiliki filosofi yang sangat mendalam, loh.

Sifat baik dan keunggulannya menjadi spirit dan semboyan hidup bagi masyarakat Bali. Bambu memang tanaman yang serba guna. Semasa kecilnya tegak, tetapi saat tua akan menunduk. Ini lambang sebuah filosofi untuk tetap humble dan selalu menjaga sopan santun.

Bambu juga semakin lama semakin kuat, baik batang maupun akarnya. Tidak membutuhkan pemeliharaan yang rumit dan bisa tumbuh di mana saja, serta hampir setiap bagiannya berguna. See, dari bambu saja kita bisa belajar filosofinya.

Seharusnya ini filosofi untuk Indonesia juga. 😉

20160308215006-02

Seusai festival ogoh-ogoh, Bali yang selama ini penuh keramaian hingga pagi, dikenal sebagai surga bagi wisatawan, tiba-tiba hening, sunyi senyap. Kesunyian ini dimulai sejak memasuki tanggal 9 Maret 2016.

Karena tidak boleh keluar area hotel dan tidak boleh menyalakan TV, aktivitas kami hanya seputar kolam renang, membaca, online, ngobrol, lihat jalan sepi, makan, dan tidur. Buat wisatawan yang tidak terbiasa dengan suasana dan aturan atau ritual Nyepi, sebenarnya kamar-kamar hotel di Bali tetap menyalakan listrik, khusus di dalam kamar tamu, jadi tidak menghalangi aktivitas online, tapi tak ada salahnya juga belajar membiasakan hidup sederhana yang serba terbatas seperti makna Nyepi, kan?

FB_IMG_1469966954858

Menyambut Tahun Baru Caka 1938, umat Hindu mengisinya dengan ritual Tapa Brata Penyepian. Selama 24 jam penuh, kegigihan dan kesabaran umat Hindu Bali dilatih. Pun wisatawan Bali. Umat Hindu pantang melakukan empat hal yang menjadi kebiasaan sehari-hari, yakni menyalakan api (termasuk juga lampu), bepergian, bekerja, dan bersenang-senang.  Pada hakikatnya, Nyepi merupakan tuntunan untuk mengheningkan pikiran dengan mengendalikan api nafsu indria atau keserakahan.

Semakin malam, semakin terasa suasana Nyepi-nya. Begitu makan malam berakhir, kami sudah tak diijinkan menyalakan cahaya, baik itu dari senter atau hape, kecuali pecalang. Ngobrol pun dengan bisik-bisik. Pecalang ini terdiri dari bapak-bapak dan pemuda dari banjar Semawang yang bertugas keliling untuk mengamankan banjar, termasuk juga memperingatkan bagi yang melanggar peraturan adat saat Nyepi, seperti menyalakan lampu.

Nah, di sinilah kelucuan terjadi..

FB_IMG_1469967035145

Karena gelapnya, kami hanya menggunakan cahaya dari hape untuk memilih makanan prasmanan resort tempat kami menginap. Dari sore saya hanya membawa kamera foto dan meninggalkan hape di kamar, jadilah cuma mengandalkan cahaya dari hape sebelah, milik teman. Mengambil makanan yang terlihat enak, meski remang-remang cahaya hape, tanpa melihat tulisan yang tertera di depannya.

Kami makan malam sambil ngobrol, cerita sana sini, menikmati kegelapan. Sampai akhirnya ada teman yang datang dan menanyakan jenis-jenis daging prasmanan di situ. Di situlah saya merasa sedih…daging paling terlihat kenyal yang saya makan tadi ternyata daging babi. Haha, ternyata di depan tiap mangkuk daging, ada tulisannya yang terlewat oleh pandangan saya! Kalau ditanya.. Enak, nggak? Lumayan, sih 😂😂😂

Itulah kegagapan menghadapi Nyepi pertama saya. 😁

IMG-20160309-WA0013-01

Di antara kelucuan salah makan dan ketegangan cerita leak yang katanya lewat (!), semua keterbatasan malam itu terbalas saat memandang ke atas. Langit Nyepi di Bali sangat sangat sangat indah!!

Gugusan bintang atau milky way terlihat begitu jelas dan dekat, seperti melihat langit berbintang dari gunung. Maklum, hari inilah saat kita bisa menikmati Bali tanpa distorsi suara, asap kendaraan, dan distorsi cahaya. Bahkan dua kali saya melihat bintang jatuh melintas di langit yang lintasannya begitu jelas! Make a wish!! 😍

_20160801_173942

Pada rangkaian perayaan Nyepi inilah saya melihat langsung penerapan sistem gotong-royong di Bali. Dari persiapan acara, pembuatan ogoh-ogoh, persiapan upacara, berjalannya upacara, pengisi acara festival, keamanan desa, melibatkan semua warga banjar.

Semua berjalan rapi dan lancar, mungkin karena rasa kebersamaan dan rasa memiliki, sehingga menimbulkan tanggung jawab pada masing-masing warganya untuk ikut menyukseskan, baik untuk junjungannya, diri sendiri, keluarga, banjarnya, maupun untuk tontonan para wisatawan.

Dua malam sebelum Festival Ogoh-ogoh, saya sempat menyaksikan bagaimana para pemuda-pemudi banjar Semawang berlatih tari hingga larut malam demi suksesnya festival. Sesuatu yang sudah jarang saya saksikan di tempat lain. Bahkan karang taruna-pun belum pernah saya alami.👍
FB_IMG_1469966988360

Sebenarnya bisa saja membayar pekerja untuk mempersiapkan acara, bisa jadi lebih hemat, namun ikatan kemasyarakatan ditempatkan pada prioritas yang lebih tinggi dibanding dengan materi. Satu kelebihan lain dalam gotong royong semacam ini adalah adanya kesempatan untuk bersoasialisasi dengan sesama warga, saling bertukar kabar, dan kesempatan untuk menjaga keakraban.

Bahkan banyak di antara Sekaa Teruna Teruni banjar Semawang ini yang bekerja atau sekolah di luar pulau dan pulang khusus untuk merayakan Nyepi bersama keluarga, sekaligus membantu banjarnya gotong-royong menyukseskan rangkaian acara menyambut Nyepi.😊👍

Secara tidak langsung sistem gotong-royong di Bali ini mengajarkan konsep Tri Hita Karana, bahwa keseimbangan hidup akan tercapai dengan membina hubungan baik dengan sesama manusia.

Dasar religi melalui kontrol sosial desa dan banjar tampaknya bisa menjadi pijakan jati diri warga Bali. Ini yang bisa melandasi keteguhan menghadapi godaan polusi kebudayaan.

 

*Oleh-oleh video footage rangkaian Perayaan Nyepi & Festival Ogoh-ogoh 2016 di Semawang, Sanur, Bali.

Ya, di Bali saya seperti melihat Indonesia yang saya rindukan. Indonesia yang masih mengenal gotong-royong untuk satu tujuan. Indonesia yang damai, teguh pendirian, gigih, harmonis, dan dinamis.

Sebagai orang awam, hanya bisa berharap semoga Bali tidak terlalu permisif dengan polusi kebudayaan, tetap teguh mengikuti jejak mahakarya budayanya yang merupakan kekayaan utama Bali, serta menjaga kekukuhan pikiran dan hati atas kebaikan dan kejujuran, karena itulah karakter dan jati diri yang saya suka dari masyarakat Bali.😊

 

11 thoughts on “Keteguhan Merawat Budaya dan Gotong-royong ala Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *