Klungkung, Mengenang Kerajaan Terbesar

IMG_20171119_183104_055

Klungkung. Mungkin tak banyak yang mengenal kota kecil di Bali ini. Seringkali saat saya ditanya keberadaan keluarga saya, dan saya menjawab ‘Klungkung’, banyak yang bertanya di mana letak Klungkung? Tetapi tak disangka, dulu kala, Klungkung adalah pusat pemerintahan kerajaan-kerajaan di Bali dengan Kusamba sebagai kota pelabuhannya. Penguasa Bali dan Lombok. Bisa dibilang, kerajaan Klungkung adalah kerajaan terbesar ke-2 setelah Majapahit!


Sayangnya, pada 28 April 1908, terjadi perang Puputan Klungkung, yaitu perang penghabisan antara Kerajaan Klungkung melawan Belanda. Saat itu, semua anggota keluarga kerajaan bersatu maju berperang, dari Raja Klungkung I, Ida Dewa Agung Jambe, hingga rakyat biasa. Dalam Puputan Klungkung, sang raja tewas bersama seluruh keluarga, kerabat, prajurit dan rakyatnya. Benar-benar puputan, penghabisan, tiada yang bersisa. Ya, perang puputan itu adalah perang harga diri kerajaan, harga diri bangsa melawan kolonial Belanda, itulah yang membuatnya habis-habisan.

Sebelum Perang Puputan Klungkung terjadi, di Puri Agung Klungkung terdapat beberapa ruangan, di antaranya: Kerta Ghosa, Bale Kambang, dan Kori agung (Pamedal Agung).

20171127072856

Setelah perang puputan, dinasti Ksatria Dalem di Kerajaan Klungkung harus berakhir, yang tersisa hanya gerbang (kori agung) puri.

Beruntunglah, kerajaan Klungkung masih tersisa sedikit bangunannya, tidak seperti kerajaan Majapahit yang tak tersisa, sehingga masih dijaga sebagai cagar budaya Bali.

20171127_081031

Raja dalam sistem kerajaan di Bali tidak boleh tampil sembarangan di depan umum. Demikian pula puri tempat tinggal sang raja, dianggap sebagai bangunan yang pantas dihormati atau dikuduskan. Puri ini disebut Puri Dewa Agung, sebagai tempat persemayaman Dewa Agung, penguasa seluruh Bali dan Lombok di Klungkung. Dinamakan juga sebagai Puri Smarapura atau Puri Klungkung.

Sementara raja Puri Klungkung saat ini adalah Ir. Tjok. Gde Agung Semaraputra, dengan gelar Ida Dalem Semaraputra. Tugas Raja di era sekarang adalah untuk melestarikan adat, budaya, dan agama.

Bangunan Puri Agung Klungkung didasari oleh kepercayaan Hindu terhadap Dewa, dan dibangun dengan berdasarkan tentang konsep letak-letak dewa penjaga dari delapan arah mata angin. Bentuk bangunannya berundak atau bertingkat, bangunan berbentuk segi empat, atap bangunan berbentuk limas segi empat yang dibuat dari serabut ijuk. Terdapat hiasan dan ukiran pada setiap ruang dan bangunan, dengan hiasan patung dan naga pada tangga. Sebagian besar bangunan berkonsep terbuka atau tidak memiliki dinding.

Kori agung Puri Kerajaan Klungkung yang mengarah ke utara, memiliki makna dan filosofi khusus yang dikaitkan dengan hubungan antara Kerajaan Klungkung & Kerajaan Majapahit. Kori Agung dibuat menghadap ke arah utara karena arah pintu gerbang dari Keraton Majapahit juga menghadap ke arah utara.

2017-11-27-07-43-04-340

Pic by Nicko

Ada tiga bangunan dari komplek kerajaan Klungkung yang masih tersisa dan tidak sampai hancur setelah perang puputan, antara lain:

1. Bangunan Medal Agung (pintu gerbang utama kerajaan Klungkung).
2. Bale Kambang (bangunan yang dikelilingi kolam yang disebut Taman Gili).
3. Bale Kertha Gosa/Kerta Gosa

20171127_095730

Pic by Nicko

Bale Kertha Gosa tidak dibangun pada tahun 1686 bersamaan dengan pembangunan kerajaan Klungkung, namun  pada akhir abad ke 18, dan lokasinya berada di ujung timur laut kawasan kerajaan Klungkung.

Dahulu Bale Kertha Gosa difungsikan sebagai tempat diskusi mengenai situasi keamanan, keadilan, dan kemakmuran, sekaligus sebagai pengadilan di Bali.
Sementara itu, Bale Kambang dibangun dengan tujuan sebagai tempat peristirahatan dan pertapaan Raja Klungkung.

1200px-Klungkung-Palace-1

Bale Kambang memiliki arti simbolis dan filosofis bagi orang Hindu, yang dikaitkan dengan keberadaan gunung Mahameru yang letaknya dikelilingi oleh tujuh lautan dan pegunungan. Bangunan Bale Kambang yang dibangun di atas kolam, diibaratkan sebagai gunung Mahameru yang dikelilingi oleh tujuh lautan.

Pada bagian kedua balok yang membentang di bawah atap (ekspose) masing-masing duduk patung singa bersayap, dengan corak dan warna sedikit berbeda. Lebih unik lagi, bidang langit-langit bangunan bale kambang ini sepenuhnya bergambar gaya Kamasan-Klungkung dengan narasi (cerita) Ramayana dan Mahabharata.

20171127_101017

Bale Kambang ini kini sering dijadikan sebagai lokasi prewedding karena bangunannya yang indah khas Bali abad 17. Seperti yang terlihat di foto saya, di mana di belakang saya ada yang sedang prewed. 😅😅

20171127_094456

Di Kerta Gosa juga terdapat museum yang menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan kerajaan Klungkung dan benda-benda yang digunakan oleh pengadilan adat tradisional Bali pada jaman dulu. Harga tiket masuknya sebesar Rp 12.000,-, sudah termasuk menggunakan sarung dan selendang sebelum memasuki area Kerta Gosa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *