Komunitas, Kebutuhan Diterima Oleh Lingkungan Sosial

written by Leonita Julian

Manusia pada umumnya membutuhkan rasa untuk berada dan diterima di suatu lingkaran social. Yap! Sudah banyak komunitas muncul dibentuk atas dasar kesamaan ketertarikan, pandangan, hobby, pekerjaan, atau aktivitas.

Pada era new wave seperti sekarang, di mana jamannya serba digital, semua melirik social media. Orang berlomba-lomba membeli Blackberry atau handphone bermodem supaya bisa mengakses facebook dan twitter!

Yang mereka lakukan adalah bersosialisasi, berusaha untuk tetap eksis dan diakui keberadaannya. Mereka akan cenderung berakrab-akrab dengan teman yang memiliki persamaan ketertarikan, pandangan, atau aktivitas, dan sudah hukum alam bila akhirnya terbentuk komunitas atau individu bergabung dalam komunitas tertentu. Seperti yang dijelaskan pada salah satu artikel Surfing The New Wave yang ditulis oleh Hermawan Kartajaya dan Waizly Darwin,  berjudul ‘Kehidupan Sosial Bagi Seluruh Masyarakat New Wave’. Di situ tertulis bahwa Teori motivasi dari Abraham Maslow mengkultuskan kebutuhan diterima di suatu lingkungan social ini sebagai salah satu kebutuhan manusia yang sangat penting, khususnya di era New Wave.

Sekarang jamannya social media, era web 2.0. So, you should get into it!

Social Media seperti facebook dan twitter memberi kesempatan untuk kita memperkenalkan diri “Inilah saya! Saya tertarik di bidang ini. Aktifitas saya seperti ini. Pemikiran saya seperti ini”. Bila sudah menemukan passion, lalu kenali komunitas!

Facebook memiliki fasilitas group, dan sudah ribuan komunitas yang membuat group atau page di facebook. Tinggal pilih, mana komunitas yang sesuai dengan passion kita, dan add mereka yang memiliki passion yang sama. Fasilitas pada facebook ini memudahkan user untuk join atau mengundang teman bergabung pada salah satu group atau komunitas. All you have to do is only click confirm or join the group.

Web 2.0 memudahkan orang untuk eksis dan mudah dikenal. Tentunya bergantung pada kejelian masing-masing individu. Untuk tetap berinteraksi dengan komunitas dan supaya dikenal, kita harus aktif dalam forum mereka, jangan hanya on line, tetapi juga off line.

Bila kita hadir pada pameran Indonesia Consumnity Expo di Parkir Timur Senayan, 21-22 Nopember 2009 lalu, kita akan melihat banyaknya komunitas terbentuk berawal dari on line. Mulai dari komunitas professional muda hingga pecinta UFO!

IYEC 09 (Indonesian Young Executives Community) misalnya. Komunitas yang terbentuk melalui facebook ini berisi professional muda atau mahasiswa yang tertarik akan leadership dan management issue, dengan visi mewujudkan professional muda sebagai kekuatan yang akan membawa Indonesia dikenal secara global. Kelebihan menjadi anggota dari komunitas dengan 2700 member ini adalah bisa saling tukar ilmu baik on line maupun off line, serta dukungan dan networking.

Ibu-ibu dan remaja putri pun tak ketinggalan. Melalui NCC, Natural Cooking Club, Ibu Fatmah Bahalwan, berhasil membawa komunitas kuliner ini mencapai lebih dari 7000 anggota dari seluruh Indonesia.Komunitas ini merupakan kumpulan jaringan pengusaha kue rumahan, yang telah mencetak pendapatan dari dapur rumah mereka sendiri. Sebagian besar bahkan memulainya di milis NCC dari nol sama sekali. Misi resminya adalah “Gerakan ekonomi dimulai dari dapur sendiri”.

Sementara itu blogger-blogger di berbagai daerah juga membentuk komunitas sendiri-sendiri sesuai lokasinya, dan melalui facebook mereka mengumpulkan member, lalu membawanya ke milis. Kopdar Jakarta misalnya, untuk menjadi member aktif, si calon member akan diinvite untuk bergabung pada milisnya, bila admin atau salah satu member telah mengetahui atau mengakui keberadaannya sebagai blogger.

Tujuan milis ini tentu mengharapkan tetap terjaganya komunikasi antar blogger, tidak hanya on line tetapi juga off line. Kelebihan mengikuti milis ini adalah memudahkan blogger untuk berbagi informasi, baik itu undangan event atau sekedar info seputar blog dan social life.

Dan yang paling fenomenal adalah penyebaran semangat #IndonesiaUnite.

Inilah yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2009 lalu, saat bom diledakkan di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, sejenak kita terhenyak dan mungkin berpikir ‘hancur sudah segala upaya memperbaiki nama Indonesia setelah peristiwa bom Bali I & II, harus kita mulai dari awal lagi’. Kita kecewa, marah, geram, gemas, bercampur jadi satu. Apalagi peristiwa ini membatalkan kunjungan klub bola Inggris, Manchaster United, yang sudah sangat dinantikan.

Saat itulah segala luapan emosi sebagian masyarakat Indonesia diungkapkan melalui social media, karena media inilah yang mampu menampung segala pendapat dan uneg-uneg kita. Tanpa koordinasi dan komando, para user Twitter dan Facebook Indonesia menyuarakan pendapat dan aspirasi yang sama.

Dalam satu hari, ribuan pengguna Twitter menyuarakan sebuah suara yang sama:

KAMI TIDAK TAKUT #Indonesiaunite

Bila teman-teman menjadi bagian dari kita yang memposting #indonesiaunite di topic status kita saat itu pasti bisa merasakan keajaibannya. Kita semua, aktivis #IndonesiaUnite tidak saling kenal, tetapi pandangan dan semangat yang sama membuat kita bergabung. Cinta, itulah yang menyatukan #IndonesiaUnite, yang membuat kita gotong-royong membuat trending topic tentang keindahan Indonesia dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.

Tujuannya adalah mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia tidak separah yang diberitakan. Pengaruhnya ternyata sangat besar dalam menyadarkan nasionalisme generasi muda Indonesia dan mengembalikan kepercayan Internasional pada saat itu. Tanpa perlu habiskan budget Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk promo, bukan?

Intinya, melalui komunitas, kita dapat mengaktualisasikan diri dan memuaskan passion serta kebutuhan kita. Bahkan komunitas pun bisa terbentuk tanpa disengaja hanya karena kesamaan suara, pandangan, dan psikologi individunya. ‘Trust’ pun mudah terbentuk di antara anggota komunitas.

Dan bagi para marketer, jeli-jelilah melihat komunitas yang bermunculan seperti jamur ini. Karena komunitas yang memiliki karakter sesuai dengan produk atau aktivitas anda, mungkin dapat menjadi endorser yang tepat. Atau, sebaliknya, perusahaan anda yang menciptakan komunitas itu untuk lebih berakrab dengan konsumen atau menciptakan keloyalan pada konsumen, karena kepercayaan akan lebih mudah didapat melalui komunitas. Jika keloyalan konsumen sudah dalam genggaman, mereka akan menjadi agen promo terbaik bagi perusahaan anda.

Tulisan ini juga ditujukan untuk menambah contoh nyata terbentuknya komunitas di era New Wave karena kebutuhan bersosialisasi, seperti yang telah dibahas sebelumnya pada artikel Surfing The New Wave Marketing, ‘Kehidupan Sosial Bagi Seluruh Masyarakat New Wave (klik di sini)’

29 thoughts on “Komunitas, Kebutuhan Diterima Oleh Lingkungan Sosial

  1. “Dan bagi para marketer, jeli-jelilah melihat komunitas yang bermunculan seperti jamur ini. Karena komunitas yang memiliki karakter sesuai dengan produk atau aktivitas anda, mungkin dapat menjadi endorser yang tepat.”

    Setuju banget ama pernyataan yang ini,komunitas = banyak user = peluang dapat buyer makin banyak he he he

  2. Hanya saja kadang Facebook pun dipakai kebablasan. Awalnya mungkin menarik melakukan sesuatu yang seperti Indonesia Unite atau Gerakan 1 juta pendukung Bibit Chandra. Lalu kemudian jadi latah, semua lalu melakukan hal serupa. Khawatirnya gerakan2 berikutnya yg seperti ini malah jadi basi, dan esensinya hilang. Atau mungkin perlu dicari pola gerakan baru?

    • Mencari pola gerakan baru? Bukannya itu tantangannya markom, bro?
      Kalo saya sih emang ga terlalu tertarik ngikutin gerakan semacam yg ngekor..
      Jadi di artikel itu maksudnya, kita bikin gerakan berbasis komunitas, tetapi tidak harus sama caranya..
      Intinya, apapun jenis gerakannya atau gebrakannya, kita harus jeli melihat psikologi dari target audiens yang kita tuju!
      Thank u Anil ^__^

  3. Pingback: Bloggers @ MarkPlus Conference 2010 | Deddy Andaka 's Blog

  4. Mirip Dengan Komunikasi Pastisipatori.. sifatnya adalah relitas pengembangan sosial media bisa melalui Media massa, atau mungkin media Konvergensi sepeti halnya internet. New wave memang muncul dengan era baru dalam segala bentuk kebutuhan pengguna internet. yang terbaru adalah google wave. yg belum lama di luncurkan oleh google guna memenuhi kebutuhan informasi.

    sangat sepakat dengan artikel di atas.

  5. Menurut saya; salah satu kecenderungan di mayapada skr dan mendatang adalah transparansi.
    Saya msh ingat thn 1996 ketika pertama saya membuat “personal homepage” (saat itu budaya blog belum ada) isinya banyak mengedepankan perihal personal saya, ttg hobby, ttg karya2 software saya, dsb. Saat itu seseorang dr Amrik menulis di guestbook saya dgn komen yg menilai saya terlalu terbuka ttg diri saya di web sementara (pd saat itu) di amrik org msh sangat hati2 membuka dirinya di internet.
    Tp belakangan ini, terutama semenjak booming-nya jejaring, dunia spt nya berubah. Menjadi semakin transparan. Meski saya nilai transparansi nya jadi kebablasan pd beberapa individu tertentu.
    Banyak hal gak penting terbit dalam blog, atau status update.
    Kadang suka geli sendiri kalau membaca status update yg kelewat ecek-ecek -tak mencerdaskan- seperti;
    “lagi di WC nich”

    :D

    Salam

    Widyo Rio
    http://mobinessia.com
    -micro blogging, photos sharing, messaging on your mobilephone-

    • hehe..jgn salah loohh..kalo tau seninya, kadang status yg ecek-ecek itu bisa jadi ‘menjual’!
      itu pernah saya terapin..bikin status yg ga penting..tp org justru teteup ngikutin..
      semuanya kembali ke karakter..kalo karakternya kuat n jeli..status ga cerdas bisa jadi cara cerdas menjaring massa..
      thank u for sharing Rio ^__^

  6. Yeap saya percaya, some people bisa memelintir hal2 yg ecek2 menjadi sumthing useful.
    Tp -spt pd contoh kasus yg saya angkat diatas- saya tetep belum nemu apa yg bisa dijual dgn status update ala “lg di wc nich” :D

    Thx 4 ur nice response as well ;)

  7. Nice post..
    Intinya sih gak jauh dr aktualisasi diri =)
    Seperti di piramida maslow itu..
    Self recognition juga kali ya..
    Ketika masuk ke suatu grup, seseorang pgn menunjukkan gw bangga masuk di grup ini..

    Eniwei udah masuk sini 2x tp baru skrg baca post nya =)
    Keep on postin’

  8. Pingback: MarkPlus Conference 2010 free ticket winners is out! by Dhe Blog

  9. hha,,,modem bisa bikin ak seharian ga’ tidur,jadinya berantakan dech,keasikan menjalin sosial dunia maya,,,ohya kak leoni,akmo tanya’ dunk??? gmn si bikin blog kayak gini,minimalis banget,,,?? ajarin ak dunkk,,,hhe

  10. Greetings from Carolina! I’m bored to death at work so
    I decided to browse your blog on my iphone during lunch break.
    I ove tthe info you provide here and can’t wait to take a look when I
    get home. I’m surprised at how fast your blog
    loaded on my phone .. I’m not even usingg WIFI, just 3G ..

    Anyhow, superb site!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *