Krisis, Turning Point Membranding Ulang Diri Kita

Written by : Leonita Julian

Crisis as a “turning point for better or worse,- as a crucial time. Or a situation that has reached a critical phase.”

(Merriam-Webster dalam ‘Cognitive- behavioral strategies in crisis intervention’ by Frank M. Datillio & Arthur Freeman)

Krisis adalah titik balik dalam kehidupan yang dampaknya memberikan pengaruh, baik ke arah negatif maupun positif, tergantung reaksi yang ditunjukkan oleh individu, kelompok masyarakat atau suatu bangsa. Krisis sering dinyatakan dengan ”zero hour” dalam arti tidak ada waktu untuk berdiam diri, kita harus melakukan tindakan tertentu di saat yang sangat genting yang harus direspon secara cepat dan tepat.

Orang, organisasi, atau bangsa yang optimis berhasil mengubah krisis menjadi peluang, dan sebaliknya, mereka yang pesimis tidak mampu mengelola krisis justru terperosok ke dalam kehancuran. Krisis jangan hanya dianggap sebagai suatu malapetaka melainkan juga momentum untuk perbaikan.

Inilah yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2009 lalu, saat bom diledakkan di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, sejenak kita terhenyak dan mungkin berpikir ‘hancur sudah segala upaya memperbaiki nama Indonesia setelah peristiwa bom Bali I & II, harus kita mulai dari awal lagi’. Kita kecewa, marah, geram, gemas, bercampur jadi satu. Apalagi peristiwa ini membatalkan kunjungan klub bola Inggris, Manchaster United, yang sudah sangat dinantikan.

Saat itulah segala luapan emosi sebagian masyarakat Indonesia diungkapkan melalui social media, karena media inilah yang mampu menampung segala pendapat dan uneg-uneg kita. Tanpa koordinasi dan komando, para user Twitter dan Facebook Indonesia menyuarakan pendapat dan aspirasi yang sama.

Dalam satu hari, ribuan pengguna Twitter menyuarakan sebuah suara yang sama:

KAMI TIDAK TAKUT #Indonesiaunite

Bisa dibilang inilah kelebihan twitter.Bila di facebook, topic yang kita sampaikan hanya dibaca oleh teman-teman kita yang dibatasi 5000 orang saja. Sementara topic yang kita bicarakan di twitter dapat terlihat oleh pengguna twitter di seluruh dunia melalui trending topics.

Topic #Indonesiaunite  menjadi trend pembicaraan nomer satu di Twitter pada tanggal 17, 18 dan 19 Juli 2009. Ini bukanlah pertandingan trending topic tetapi untuk membuat dunia mengetahui berita baik tentang Indonesia maka kita harus menempatkan trend pembicaraan #indonesiaunite menjadi yang teratas. Dalam waktu singkat pula ribuan penguna twitter Indonesia menambahkan elemen merah putih dalam avatar mereka.

Bila teman-teman menjadi bagian dari kita yang memposting #indonesiaunite di topic status kita saat itu pasti bisa merasakan keajaibannya. Cinta, itulah yang menyatukan kita, yang membuat kita gotong-royong membuat trending topic tentang keindahan Indonesia dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Tujuannya adalah mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia tidak separah yang diberitakan.

Masih ingatkah tentang peristiwa Serangan Umum 11 Maret 1949? Saat itu selama 6 jam,TNI dan sipil bersatu menyerang kota Yogyakarta yang diduduki oleh Belanda. Tujuannya agar dunia mengetahui bahwa Republik Indonesia masih ada dan masih kuat. Mengapa Yogyakarta? Karena saat itu Yogyakarta adalah Ibukota RI dan sedang banyak wartawan asing di kota ini, sehingga berita akan mudah tersiar ke seluruh dunia.

Lalu di tahun 2009 mengapa #indonesiaunite memilih social media? Karena media inilah yang mampu menghubungkan warga dunia. Jadi perjuangan untuk Indonesia akan mudah didengar dunia. Tidak perlu dengan demo atau angkat senjata.

Apa hubungannya dengan krisis?

Kita lihat dari sudut pandang positif. Peristiwa ledakan bom adalah tahap warning, terjadinya masalah. Pemberitaan di media seluruh dunia tentang kondisi buruk Indonesia saat itu adalah tahap akut. Bila bangsa kita tidak tanggap memperbaiki dan membersihkan namanya (tahap clean-up) maka yang terjadi adalah kehancuran.

Namun, sisi positif yang terjadi saat itu, bukannya kehancuran, tetapi justru perbaikan moral. Kita yang sebelumnya melupakan rasa nasionalisme, tiba-tiba diingatkan akan rasa tidak ingin kehilangan bangsa kita. Kita masih cinta dan bangga terhadap Indonesia.

Jadi, janganlah mempersoalkan ke mana nasionalisme kita sebelumnya, mengapa harus dimunculkan oleh bom? Hei, paling tidak kita sekarang sudah membranding ulang pemuda Indonesia, yang sebelumnya lebih membanggakan bangsa lain atau malu-malu untuk mengutarakan rasa nasionalismenya, kini justru berlomba-lomba membuktikan rasa itu. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Atau janganlah memperdebatkan kesalahan system dalam pengajaran pelajaran moral seperti PPkn atau kewarganegaraan. Karena menurut saya, pada saat kita menginjak bangku SMP semestinya kita sudah paham mana yang baik dan yang salah. Jadi semua kembali kepada diri kita sendiri. Tanyakan kenapa kita tidak nasionalis?

Saya hanya ingin urun rembug, bila anda adalah pengajar pendidikan moral, sebaiknya diberikan secara fun, artinya education plus entertainment. Karena murid yang anda didik saat ini adalah generasi Y dan generasi Platinum (baca postingan saya tentang Gen-Y.klik di sini). Generasi ini tidak bisa hanya diberondong pelajaran yang serius terus-menerus tetapi juga diselingi sedikit entertainment, supaya mudah diingat sampai kapanpun.

Sementara bagi teman-teman yang masih bingung perjuangan seperti apa yang bisa kita tunjukkan sebagai pendukung #indonesiaunite, saya menyarankan, lakukanlah kebaikan apapun demi moral bangsa, sekecil apapun, dimulai dari diri sendiri. Misalnya, tidak semakin membuat panik massa saat terjadi kejadian semacam bom, memasang bendera merah putih tanpa menunggu 17-an, mendukung produk dan usaha dalam negeri, dan tetap memberitakan hal baik tentang Indonesia kepada dunia. Dan pelajarilah pendidikan agama dan umum dengan baik dan benar.

Bila temen-teman mampu mengumpulkan massa, ajaklah mereka untuk melakukan hal sosial, seperti donor darah, penghijauan, gotong-royong membersihkan lingkungan, atau pengumpulan dana. Bagi teman-teman Muslim, janganlah hanya menafsirkan satu ayat tanpa menghubungkannya dengan ayat yang lain karena banyak terjadi salah tafsir. Intinya, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi cinta damai.

Silahkan menuntut pendidikan di luar negeri bila memang dirasa lebih berkualitas, atau wisata ke luar negeri, atau tetap memakai merek perancang dunia. Itu hak kita. Tetapi juga jangan lupakan bhakti kita kepada tanah air Indonesia. Cintailah juga produk dalam negeri. Sementara, pengetahuan yang didapat dari luar negeri bagilah untuk perbaikan bangsa kita juga.

IndonesiaUnite bukanlah komunitas kecil, tetapi semangat bersama, semangat di hati kita semua warga Indonesia yang masih cinta dan bangga kepada bangsanya. Jangan jadikan ini trend sesaat. Berjuanglah, pilih sendiri perjuanganmu!

Ingatlah selalu Sumpah Pemuda :

* PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.

* KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.

* KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

18 thoughts on “Krisis, Turning Point Membranding Ulang Diri Kita

  1. Yup,.. tidak penah ada kata terlambat bagi kita untuk menunjukkan kecintaan kita pada negeri ini n ikut terjun dlm sebuah gerakan yg mengusung bendera nasionalisme bagi tanah pertiwi. Emang sech klo dilihat apa yg kita lakukan masih sangatlah kecil dibanding apa yg dilakukan pahlawan2 kita terdahulu, but dengan kebersamaan kontribusi kecil itu dapat menjadi sebuah kontribusi besar bagi bangsa dan signifikan impactnya bagi pembangunan negeri ini. #indonesiaunite contoh kongkritnya,…

    Ngomongin about trending topics, kmrn km check ga nit klo Mbah surip jadi trending topics,.. hehe,..

    Oh,..ya tuh Gen-Y lom ada link-nya dipostingan ini,.. n buat nita n temen2 laen yg baca post ini,.. ada kesempatan buat contribute ke our country lho skg,.. don’t forget to vote pulau komodo jadi sati dari new 7 wonders yach,.. jgn sampe kisah Borobudur terulang lagi dech,..mo tau caranya,.. boleh ko maen ke blog ak,.. hehe

    Regards,..n sukses slalu dear,..:-)

  2. “Bagi teman-teman Muslim, janganlah hanya menafsirkan satu ayat tanpa menghubungkannya dengan ayat yang lain karena banyak terjadi salah tafsir. Intinya, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi cinta ” ,
    saya pernah denger yang hebat itu yang mendoktrin bahwa tindakan yang meraka lakukan itu benar dan yakin syahid sehingga masuk surga,dan proses untuk merekrut pelaku bom bunuh diri itu pun tersistematis dengan jelas,jadi bagi kita bisa cegah dari dalam keluarga dan lingkungan kita sendiri,jangan menuduh suatu golongan yang sedang melakukan kajian intensif agama sebagai akar dari timbulnya “teroris”
    NICE INPO GAn (KASKUS BANGET SIH )

    • wekeke..thank u Tri..
      yuup bener Tri..hebat tuh yg kasih doktrin..
      tp ak emang pernah baca sekilas satu ayat..bisa jadi berbeda artinya kalo ga dihubungkan ke ayat yg laen..so be careful..
      ya emang bentengnya dari orang terdekat dulu..
      kaskus? haha

  3. Hi Leoni,
    Aku baru baca 1 artikel punya kamu… jadi inget belum dukung pulau komodo… nanti mampir lagi yaa…
    salam kenal…

  4. Pingback: Low Budget, High Impact trough Social Media | Leonisecret

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *