Milky Way, Sunrise, dan Cinta dari Bromo

Bromo tak pernah kehabisan pesonanya. Sudah berkali-kali ke sana pun, tetap magical! Dan perjalanan kali ini bukan hanya menyaksikan magical-nya sunrise Bromo yang sudah tersohor, tetapi melihat langsung magical-nya ribuan bintang jatuh di langit Bromo! Foto dengan background milky way atau ribuan bintang jatuh itu salah satu bucket list saya :3

 

Bromo memang salah satu objek wisata yang sudah dikenal keindahannya, baik di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara. Bromo merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ya, keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia.

Gunung ini memang salah satu keajaiban dunia. Kita bisa menemukan kaldera yang sangat luas dengan lautan pasir seluas 5.250 hektar di ketinggian 2392 meter di atas permukaan air laut.

Pic by Griska Gunara

Selain terkenal dengan keindahan sunrise-nya, ternyata gunung Bromo juga memiliki daya tarik lain yaitu fenomena Milky Way. Biasanya fenomena alam yang magical ini bisa dinikmati saat cuaca cerah antara pukul 01.00 – 04.00 WIB dini hari di musim kemarau.
Fenomena ini tentu saja sangat dinanti oleh para wisatawan, khususnya penggemar fotografi yang berburu moment Milky Way. Di antaranya adalah saya dan teman-teman media, blogger, videografer, fotografer,instagrammer, dari trip bersama Indonesia Travel November 2015 lalu.

 

Beberapa dari kami, termasuk saya, sengaja tidak tidur karena harus berangkat pukul 01.00 WIB dini hari untuk hunting milky way, star trail, atau time lapse. Rombongan dibagi menjadi beberapa tim. Saya memilih tim dengan view point Bukit Kingkong, karena penanjakan 2 umumnya penuh sesak dengan wisatawan yang mengejar sunrise.

Tidak banyak wisatawan mengetahui keberadaan view point Bukit Kingkong. Umumnya mereka yang berwisata ke Bromo untuk mengejar sunrise, hanya terpikir penanjakan 1 sebagai tempat terbaik untuk melihat sunrise, sehingga wisatawan penanjakan 1 dan 2 menyemut, padahal masih ada beberapa view point yang bisa jadi alternatif. Selain Penanjakan 1 dan2, ada alternatif Bukit Kingkong dan Bukit Cinta,yang lebih rendah,tetapi tak kalah cantik pemandangannya.

Bukit Kingkong Bromo berlokasi sekitar 2,5 km dari Penanjakan 1 Bromo. Lebih rendah dari Penanjakan 1 yang memiliki ketinggian 2.600 meter di atas permukaan air laut. Akses ke Bukit Kingkong ini sebenarnya lebih mudah, karena hanya perlu berjalan 200 meter dari tempat parkiran Jeep, sementara Penanjakan 1 terkadang memerlukan jarak 700 meter dari parkiran jeep, saat view point utama itu penuh sesak dengan pengunjung di hari libur.

Sejak tahun 2012 pihak pengelola Taman Nasional memang membatasi kendaraan pribadi yang memasuki kawasan Bromo dan sekitarnya. Kendaraan pribadi hanya diperbolehkan hingga pintu masuk (portal). Setelahnya pengunjung dapat menyewa ojek atau jeep dengan tarif berbeda sesuai jumlah lokasi wisata yang akan dituju.

pic by Widhibek
Di Bukit Kingkong,2 tim kami jadi yang pertama sampai di sana, sehingga bebas memilih lokasi tepat memasang kamera lengkap dengan tripod atau slider-nya untuk timelapse sunrise. Saat itu masih sangat gelap. Cahaya hanya berasal dari senter dan lampu kamera. Namun, gelapnya sangat kontras saat kepala kami mendongak ke atas langit. Milky way dan bintang jatuh sangat jelas di sana. Indah banget!

Benar-benar hujan meteor! Bagaimana mau make a wish, ya? Ini bintang jatuhnya ribuan. Mau make a wish, eh sudah datang ribuan bintang jatuh lainnya. Bingung, kan?! Haha
Tapi yang jelas, satu bucket list foto saya sudah terkabul, foto dengan background milky way dan bintang jatuh! Terima kasih untuk mas Widhibek yang sudah mengabadikan dengan kerennya :3

Sekitar pukul 05.00 WIB, dari puncak bukit Kingkong ini, kami bisa melihat sunrise denan latar belakang Gunung Semeru yang mengeluarkan asap dari kejauhan . Indah!

pic by Griska Gunara

Lokasi menarik lainnya di Bromo adalah Pasir berbisik. Sebenarnya namanya berasal dari sebuah film dari sutradara Garin Nugroho, yang berjudul pasir berbisik. Alasan nama itu sendiri muncul karena ketika angin bertiup kencang, deru angin akan membawa butiran-butiran pasir bagaikan bisikan-bisikan. Mungkin bisikan keindahan Bromo, ya 🙂
Di lokasi ini kita bisa menyewa kuda, atau sekedar duduk-duduk santai dan berpose dengan background Bukit Telletubbies atau kuda-kuda yang melengkapi indahnya Bromo.

pic by Ridho Mukti

Biasanya, setelah usai mengabadikan sunrise di Bukit Kingkong atau Penanjakan, jika tidak ke Pasir Berbisik, wisatawan turun ke Bukit Cinta yang terletak sekitar 5 km dari Penanjakan 1. Bukit Cinta atau Love Hill merupakan salah satu tempat singgah yang sangat populer bagi para pengunjung yang baru kembali dari menyaksikan sunrise di Penanjakan atau Kingkong.

pic by Ridho Mukti

Pemandangan Bukit Cinta tak kalah indah. Dari sini kawah Bromo tampak makin dekat. Kami mampir sejenak di situ untuk sekedar mengambil beberapa foto. Di sana sempat bertemu dengan petugas pembersih sampah Bromo. Beberapa pria mengendarai motor trail sambil membawa kantung sampah. Motor trail ini memang memudahkan pekerjaan mereka yang harus mobile mengambil sampah naik turun bukit.

pic by Mikiringan

Konon nama Bukit cinta berasal dari wisatawan yang berkunjung ke bromo dan menemukan jodohnya di tempat tersebut. Setelah menikah, keduanya mengunjungi tempat yang dulu pernah mempertemukan kedua sejoli tersebut,dan mereka pun memberi nama bukit cinta. Hmmm
Mau ketemu jodoh juga?
Coba saja mampir ke Bukit Cinta 🙂

1 thought on “Milky Way, Sunrise, dan Cinta dari Bromo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *