Nostalgia Jaman SD di Pabrik Limun Oriental

20170513_143940

Apa yang terbayang kalau dengar kata ‘limun’? Kalau saya, sih, jadi ingat minuman favorit jaman SD dan bacaan favorit waktu SD, kisah Lima Sekawan atau Pasukan Mau Tahu, karangan Enid Blyton! Itulah kenapa kunjungan ke pabrik limun Oriental Pekalongan seperti trip nostalgia jaman SD.


Ya, di novel Lima Sekawan atau Pasukan Mau Tahu, tokoh-tokohnya selalu membawa minuman limun saat piknik.😆
Dahulu, di warung-warung sekolah SD, selalu menjual limun berbagai rasa. Favorit banget. Enak! Sayangnya begitu SMP, minuman ini sudah hilang dari peredaran, atau memang hanya dijual di SD-SD terdekat.

20170522_054318

Belum pernah merasakan limun?
Limun adalah minuman jadoel, minuman ringan bersoda, tetapi lebih ringan dari minuman ringan bersoda jaman sekarang yang biasa disebut ‘coke’ yang asalnya dari Amerika itu. Limun ini hasil racikan asam citrun dan kabondioksida.

Limun juga lebih menyegarkan daripada coke yang justru bisa bikin haus lagi. Bedanya, karena limun, seperti limun Oriental ini, menggunakan gula asli, jadi tidak terlalu manis, lebih menyegarkan, dan menghilangkan dahaga.

Ceritanya, 11-13 Mei 2017 lalu, saya melakukan trip Pesona Indonesia ke Pekalongan dan sekitarnya, bersama teman-teman blogger, media, dan Kementerian Pariwisata. Salah satu spot yang kami kunjungi  adalah pabrik limun Oriental.

Pabrik ini berjarak lima menit jalan kaki dari Museum Batik di kawasan Jatayu, di gang antara Batik TV dan Museum Batik. Tepatnya di belakang (seberang) benteng Pekalongan yang sekarang menjadi Lapas Pekalongan Kota.

20170522_054337

Di seberang lapas terdapat rumah dengan gaya Vintage ala Tionghoa-Belanda di mana di pagarnya terdapat Logo Nyonya berwarna biru yang menggenggam minuman, nah, di situ lah pabrik legendaris ini berada. Sementara tulisan ‘Oriental Cap Nyonya’ akan ditemukan di pintu rumahnya.

Pabrik limun Oriental ini didirikan sekitar tahun 1920 oleh pasangan Njoo Giok Lien bersama sang istri. Pabrik Limun ini sempat berjaya di tahun 1970, sebelum kalah bersaing karena masuknya minuman ringan bersoda dari Amerika.

20170522_054351

Setelah kami berkenalan dengan para pemiliknya, kami berjalan-jalan mengelilingi pabrik yang tak begitu besar ini. Kami juga sempat melihat demo pembersihan botol yang terdiri dari 3 proses menggunakan manual tangan manusia dan mesin sederhana.

20170513_165535

Kemudian salah satu karyawan yang sudah 30 tahun-an bekerja di pabrik ini pun menjelaskan proses pembuatannya.

20170522_060728

IMG_20170513_173338_854

Mesin sederhana yang digunakan memiliki keuntungan sekaligus kerugian. Kerugiannya, ya jadi kalah bersaing dengan brand minuman ringan bersoda dari Amerika tadi, kelebihannya….proses manualnya justru menarik untuk dilihat.😉

IMG_20170513_173338_853

IMG_20170513_173338_855

Selesai berkeliling pabrik, kami kembali ke lobby utama yang dekorasinya serba vintage, baik bangku, radio, maupun hiasan rumah lainnya. Di salah satu meja sudah disiapkan beberapa botol limun dan beberapa gelas lengkap dengan es batu. Ini dia yang ditunggu-tunggu. Cicip-cicip! Limun party! 😍😍

IMG_20170513_173338_852

Limun ini dahulu disebut banyu londo (air Belanda), karena dulu menjadi minuman kaum priyayi. Pada zaman kejayaannya, Limun Oriental memproduksi 9 varian rasa: nanas, Kopi moka, Jeruk, Framboze, Sirsak, Sitrun, Anggur, Leci, air soda. Tapi pada saat kami berkunjung hanya ada 5 rasa. Saya paling suka rasa moka! 👍😋

20170522_054318

Harganya Rp 7.000,- per botol, jika dibeli beserta botolnya untuk dibawa pulang. Jika minum di tempat hanya Rp 3.000,- saja. Beberapa teman pun membawa kemasan botol untuk oleh-oleh….atau sekedar sebagai souvenir.

Saat ini Limun Oriental hanya memproduksi minuman dalam jumlah yang terbatas karena kejayaan limun sudah memudar. Sayang sekali, padahal rasanya tidak kalah bersaing dibanding coke, bahkan lebih enak dan segar. Kalau teman-teman ingin bernostalgia atau penasaran, tuan rumah siap menyambut dengan senang hati dari pagi jam 08.00 WIB hingga siang atau sore. Asal jangan hari Jum’at dan hari besar libur. 😉

20170522_055847

📷koleksi Wira Nurmansyah

Entah apa yang ada di benak teman-teman saat limun party, tetapi imajinasi saya melayang ke kisah-kisah petualangan detektif cilik ala Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu, karya Enid Blyton. Seakan-akan sedang piknik dan bernostalgia menjadi salah satu tokohnya. 😄😄

4 thoughts on “Nostalgia Jaman SD di Pabrik Limun Oriental

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *