Nyaris Setiap Hari Menyaksikan Pelecehan

Sakit fisik masih bisa dimaafkan, tetapi penderitaan batin dan pelecehan martabat, tidak ada gantinya dan sulit dimaafkan. Kepercayaan diri pun tidak pulih hanya dalam hitungan hari, bulan, tetapi bisa bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. Namun pelecehan terus saja terjadi. Bahkan nyaris tiap hari saya menyaksikan sendiri pelecehan itu.

Artikel ini saya buat karena sudah terlalu lelah dengan apa yang saya lihat atau alami sendiri setiap harinya.


“Tau ga sih, cewek yang (maaf) diperkosa itu benernya ngerasain gairah, lagiii..,” kalimat yang diucapkan ex supervisor saya kepada temannya 2 tahun lalu mungkin akan teringat seumur hidup. Benar-benar pelecehan perempuan! Apalagi diucapkannya dengan lantang di depan saya yang perempuan. Ga sopan banget.

Seandainya ia merasakan trauma berkepanjangan, bahkan seumur hidup, yang dialami oleh para korban pelecehan sexual, pasti ia akan menyesali ucapannya. Bagaimana bila itu terjadi pada keluarganya sendiri? Pasti ia akan mengutuk ucapannya.

Apapun yang dilakukan dengan terpaksa, pasti tidak ada gairah di dalamnya! Yang ada hanyalah perasaan sakit batin dan fisik. Sakit fisik masih bisa dimaafkan, tetapi penderitaan batin dan pelecehan martabat, apalagi kehilangan keperawanan, tidak ada gantinya dan sulit dimaafkan. Untuk mengembalikan kepercayaan pun tidak cukup dalam hitungan hari, bulan, tetapi bisa bertahun-tahun, atau bahkan seumur hidup.

Saya sering menangkap basah para tukang ojek beramai-ramai mengintip rok cewek-cewek dengan tampang menarik yang naik ke jembatan penyebarangan. Lebih parah lagi mereka melakukannya dengan vulgar. Teriak-teriak puas kalau keinginannya mengintip tercapai. Ngelihatnya bikin dongkol banget ~_~.

Saya menyadarinya saat nyaris menjadi korban. Waktu itu saya menuruni tangga penyeberangan di wilayah Sudirman. Saya lihat dibawah ada beberapa tukang ojek yang tiba-tiba mengambil posisi mengintip yang tepat. Melihat gelagat mencurigakan, dengan segera saya pindah posisi dan menutupi rok dengan tas laptop yang besar. Mereka pun menyadari bahwa upayanya gagal. Namun, sayangnya tidak terlihat penyesalan di tampang dan ucapan mereka. Justru menutupi malu karena kegagalannya dengan tawa melecehkan. Semakin saya terlihat marah, semakin mereka menikmati.

Hari-hari berikutnya saya melihat kejadian yang sama berulang kali ke cewek-cewek cantik yang melewati jembatan. Mereka melakukannya di depan perempuan-perempuan lainnya. Miris banget, dan bikin trauma.

Dulu, saat saya masih tinggal di Jakarta Barat, Hampir setiap malam saya jalan ke rumah sepulang kerja atau saat keluar rumah membeli makan, saya terpaksa menghadapi pelecehan terus-menerus. Perjalanan selalu melewati warung tempat nongkrong bapak-bapak dan pemuda kampung. Setiap saya lewat, selalu digoda, bahkan ada yang selalu teriak-teriak melecehkan, semacam orang (maaf) nafsu, padahal busana saya saat itu sama sekali tidak seksi, bahkan saya pun tidak berias! Saking jengkelnya, saya pernah marah ke seorang bapak di situ, karena saya merasa tidak pernah mengganggunya atau keluarganya, tetapi dia selalu mengganggu kenyamanan saya di lingkungan rumah saya sendiri. Bagaimana kalau putrinya mengalami hal yang sama seperti saya? Pasti dia akan marah ke pria yang mengganggu putrinya, bukan?


Saya juga tidak respect ke cowok-cowok yang selalu menganggap bahwa hal yang wajar bila seorang cowok bisa multitasking memikirkan lebih dari satu cewek dalam otaknya, karena itu sudah bawaan cowok dari lahir. Jangan salah, kalau mau perempuan pun bisa, sekali lagi..kalau mau. Tetapi itu tetaplah tidak wajar dan bukan pula bawaan yang perlu dibanggakan!

Pria berkuasa..I hope so..saya sendiri tidak mendukung presiden perempuan kalau memang tidak mampu..tetapi kuasa pria juga tidak bisa semena-mena.

Kami dibesarkan oleh Ibu. Seingat saya, berapa kali berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarga, bisa dihitung dengan jari. Kebetulan rumah kami tepat di depan masjid. Tiap hari Jum’at menjelang Jum’at-an, saya selalu mengintip dari balik jendela rumah. Saya selalu mengamati para pria yang mengenakan peci dan baju koko menuju masjid. Terlihat berkharisma dan berwibawa. Ya, saya rindu sosok ayah karena sejak SD sangat jarang bertemu ayah. Saya ingin menjadikan salah satu dari mereka sebagai ayah.


Ibu adalah wanita Jawa. Baginya, seorang suami tetaplah kepala keluarga, meski tidak menafkahi. Saya kagum dengan Ibu yang bisa sebegitu kuatnya menanggung semua biaya keluarga, dan tetap memposisikan diri sebagai istri. Sementara saya mungkin saja akan mengambil keputusan yang berbeda bila berada di posisinya. Entahlah.

Sekarang saya jadi paham kenapa Ibu dulu sering meluapkan emosi pada saya. Dulu saya protes, sangat protes secara childist, sekarang saya memaafkan, karena tidak semua perempuan bisa kuat berada di posisinya. Itu pula yang membuat saya berkembang menjadi super girl.

Namun ada satu alasan lagi yang membuat saya punya karakter super girl. Tak lain dan tak bukan, karena saya sendiri adalah korban pelecehan yang mungkin traumanya saya bawa seumur hidup. Hidup saya rasanya sempat berhenti beberapa bulan karena trauma itu. Sangat tidak percaya diri. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa ketakutan terbesar saya sudah saya lewati. So, apalagi yang harus saya takutkan? Sejak saat itu justru ingin membuktikan bahwa saya bukan cewek yang lemah. Meski tak bisa dihindari, kadang trauma itu tetap datang.



Melalui tulisan ini, saya berharap, bagi korban pelecehan yang lain, jangan jadikan pelecehan yang kita alami mematikan kepercayaan diri kita. Jadikan sebagai kekuatan untuk pembuktian bahwa kita lebih kuat dari mereka yang melecehkan. Saya tahu rasanya di awal pasti kita merasa kotor dan merasa jadi orang yang paling tidak beruntung. Bahkan banyak dari para korban yang putus asa, jadi sangat tidak percaya diri, atau justru melampiaskan kemarahan dengan mengkomersilkan diri karena merasa sudah kotor. No, kita tidak kotor, kita masih punya kesempatan untuk beruntung dan bangkit.

Bagi pria yang merasa berkuasa…silahkan..Saya seorang perempuan yang selalu berharap pria yang akan menjadi imam saya. Pria yang akan menjadi pemimpin saya. Tetapi sayangnya apa yang saya lihat di kehidupan nyata tidak semulus itu. Buktikan saja bahwa pria memang pantas menjadi imam, tanpa perlu menunjukkan kuasa dengan pelecehan terhadap perempuan, tetapi dengan penghormatan dan penghargaan, karena seorang pria pun berasal dari rahim seorang perempuan.

14 thoughts on “Nyaris Setiap Hari Menyaksikan Pelecehan

  1. Salam kenal juragan Leonisecret , Begitu banyak untuk memberikan setiap orang kesempatan yang sangat mempesona untuk membaca artikel dan posting posting dari blog ini, Terima kasih. Posting posting anda sangat menarik, saya menyempatkan waktu untuk mengunjungi situs web Anda tidak kurang dari 3 kali per minggu untuk melihat rahasia rahasia terbaru Anda. Dan tentu saja, aku selalu terkejut dengan pikiran yang luar biasa Anda berikan.

  2. saya mempunyai dua orang adik yang semuanya perempuan. :'(
    semoga mereka tidak mengalami hal ini..
    tulisan yg menyentuh mbak..
    *puk-puk mbak leoni*

  3. sebenarnya siul-siulin cewek lewat aja udah termasuk pelecehan seksual. terus terang saya ini orang yg agak galak soal itu. pernah ada orang siul-siul dan manggil-manggil, ya saya datengin aja. terus tu orang diem. saya galakin “mas, kalau yg disiulin itu istri atau anaknya mas gimana?”. terus doi langsung diem aja . kalau kayak gitu emang mesti ditegur sih.

    resikonya, dibilang sombong atau galak.

  4. Orang tidak akan merasakan sakit bila tidak mengalaminya sendiri…Saya sendiri amat tidak suka bila melihat atau mendengar seseorang yang melecehkan seksualitas seorang wanita…Mungkin ini akibat trauma pribadi dan trauma di keluargaku…My sister meninggal karena BANGS** yg perkosa dan bunuh dia…

  5. i’m sorry to hear about ur harassement and i can’t say that i don’t feel u cos i also went through the same thing though probably is not as hard but still as painful.

    Yes, i went through it and i pull myself together. Now i’m even more confident of myself then ever before. I’m so proud that u could overcome ur pain and even share it in ur blog. I wish u the best in life, miss :)

  6. saya sangat setuju dengan tulisan anda sis.. saya sendiri jengkel dengan orang-orang yang suka siul2 jika ada wanita lewat, apa mereka tidak pernah berpikir bagaimana kalau istri,saudara perempuan, atau bahkan ibu mereka yang mengalami hal seperti itu..
    semoga saya tidak pernah melakukan hal2 yg dianggap melecehkan tersebut..
    keep posting, keep inspiring and keep writing..
    oiya, salam kenal juga sekalian untuk anda, supergirl

  7. Memang untuk masalah pelecehan di artikel kamu ini saya ga merasakan, tapi merasakan memiliki single parent ibu saja dan ayah yang tidak menafkahi. Dan juga saya anak tunggal, begitupun dengan anda mbak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *