Tentang Sopan Santun dari Dua Pengalaman yang Bertolakbelakang

Katakan lah saya kolot, tapi menurut saya, tata krama dasar itu sama untuk semua negara. Ungkapan terima kasih, permintaan maaf, sambutan, berpamitan, walaupun caranya berbeda, tetap saja wajib digunakan di mana-mana untuk komunikasi universal. Jangan sampai kehilangan esensi sebagai manusia sosial, atau saya bakal bilang di depan hidungnya kalau dia nggak punya aturan atau tata krama. Hehe.

Ada dua cerita simple bertolak belakang dengan bule yang saya temui di Indonesia, yang cukup menampar sebagai orang Indonesia.

Cerita pertama dengan bule di Konsulat USA saat saya mengajukan visa USA beberapa tahun lalu karena undangan dari..sebut saja.. klien gadget internasional di pusatnya, USA. Sudah jadi rahasia umum kalau cewek single itu bakal dipersulit untuk permintaan visa USA karena dikhawatirkan bakal mencari pasangan atau pekerjaan ilegal…katanya sih begitu, dan bukan rahasia lagi kalau visa USA memang sulit.

Pada saat menunggu, saya sempat ngobrol dengan seorang cewek yang bermaksud ke USA untuk menemui neneknya. Sudah tiga kali mencoba apply visa dan gagal. Itu adalah percobaan ke-4. Agak sulit baginya karena belum bekerja, tidak ada yang menjaminnya untuk kembali ke Indonesia. Antara khawatir dan berusaha pede karena membawa berkas lengkap, saya mengantri di loket yang dilayani bule dengan perawakan tinggi besar dan botak.

Pada saat giliran saya, petugas tidak melihat tiket pesawat, reservasi hotel, atau email jaminan dari klien USA yang saya bawa, dia hanya melihat surat keterangan bekerja dari perusahaan tempat saya bekerja, sebuah agency periklanan di mana saya jadi manajer Public Relations di situ. Dia melihat surat itu dengan ragu, mungkin karena perusahaan Indonesia. Kemudian dia meminta slip gaji saya.

“Apa ini?!” serunya.

Begitu saya serahkan slip gaji, dengan kasarnya dia membuangnya hingga slip gaji itu terbang ke luar loket.

Bukan soal ditolaknya apply visa saya saat itu yang bikin sakit hati, tetapi cara dia membuang slip gaji. Itu seakan injak 1,5 tahun hasil kerja saya sebagai manajer PR. Itu bukan diraih dengan mudah, euy. Merasa nggak dihargai banget, itu perasaan saya saat memungut slip gaji yang jatuh di lantai dengan dilihat banyak mata. Mungkin slip gajinya terlalu sederhana dan tidak meyakinkan bentuknya, sehingga tidak dipercaya bahwa perusahaan bisa menggaji sebesar itu, tetapi paling tidak….nggak perlu lah caranya dengan ‘membuang’, itu jatuhkan harga diri banget.

Sejak saat itu, USA yang awalnya jadi impian no 1 untuk negara tujuan traveling, akhirnya saya jadikan negara pilihan terakhir di list traveling. Pun ada orang yang saya cintai di sana dan meminta saya ke sana, saya nggak akan mengemis untuk kesana. Sudah pernah terjadi, btw. He

Cerita ke-2 baru saja terjadi minggu lalu.

Saya berpapasan dengan seorang bule ganteng berkacamata. Saya hendak keluar dari toko buah melalui pintu kacanya, sementara bule itu berada di luar pintu kaca, hendak masuk ke toko. Mas bule sepertinya menunggu saya keluar lebih dahulu,sementara sebaliknya, saya menunggu dia masuk terlebih dahulu, sembari menutup tas saya.
Kejadian sederhana yang membuat saya takjub pun terjadi..

Mas bule membuka lebar pintu kaca itu dan mempersilahkan saya keluar terlebih dahulu.

“Silahkan,” katanya dengan sopan.

“Terima kasih,” jawab saya sambil tersenyum.

OMG, saya merasa dihargai sekali sebagai orang Indonesia. Dia bekerja di Indonesia, dia menggunakan bahasa kita, dan memiliki sopan santun yang mungkin sudah jarang dimiliki orang Indonesia sekalipun! Ya saya haus cowok gentle seperti itu. Sudah jarang banget. Sekarang kebanyakan yang sok modern dan lupa tata krama :(

Dua cerita yang bertolak belakang banget, kan?!

Ya, semoga kita semua masih memiliki tata krama seperti mas bule yang santun tadi dan orang Indonesia masih dinilai ramah seperti yang tercantum di buku SD, bukan justru membuat enggan ke Indonesia. Dan untuk teman yang di luar negeri, kamu ambassador untuk Indonesia. Seperti apa dirimu di sana, itulah wajah Indonesia :)

Politeness cost nothing and gain everything. It brings out smile :)

Treat eveyone with politeness, even those who are rude to you. Not because they are nice, but because you are nice :)

 

 

One thought on “Tentang Sopan Santun dari Dua Pengalaman yang Bertolakbelakang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *