Perempuan Wajib Ikuti Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan dari Prudential Indonesia Ini

Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan Prudential dari Indonesia

Perempuan era digital, tidak bisa ditawar lagi, wajib memiliki keahlian mengelola keuangan atau perencanaan keuangan! Kenapa begitu? Di artikel ini pembaca bisa menemukan alasan kuatnya, dan di sini saya juga share sebagian ilmu dari Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan, program sinergi Prudential Indonesia dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak, serta OJK, yang sempat saya ikuti.

Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan, Tantangan Bagi Prudential Indonesia

Perkembangan digital memperbesar peluang perempuan di sektor ekonomi, karena kini ibu rumah tangga pun bisa jadi penopang ekonomi keluarga dengan bekerja dari rumah. Posisinya bukan lagi hanya sekadar pengatur keuangan pribadi atau keluarga, tetapi lebih dari itu, bisa jadi kontributor besar perekonomian Indonesia!
Sayangnya, cita-cita kemandirian kaum perempuan Indonesia ini belum didukung oleh keahlian dalam mengelola keuangan.

Pelatihan Merencanakan dan Mengelola Keuangan dari Prudential Indonesia

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2019 (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan, indeks literasi keuangan perempuan masih lebih rendah dari laki-laki.

Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan dari Prudential Indonesia

Dalam Pers Conference Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan 2019 yang berlangsung di Gedung Kemen PPPA, 14 Nopember 2019 lalu, Sekretaris Kemen PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu, menuturkan bahwa di era informasi ini, upaya dan peluang perempuan di sektor ekonomi seharusnya lebih besar karena memungkinkan untuk bekerja di rumah dan berperan dalam ekonomi keluarga. Apalagi bagi perempuan di akar rumput yang jumlahnya cukup besar. Selain itu, peningkatan ekonomi bagi perempuan juga mendukung program penguatan keluarga.

Masalah-masalah dalam keluarga, seperti kekerasan terhadap perempuan atau anak pun diharapkan akan jauh berkurang karena suami dan istri setara, bersama-sama berperan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dalam keluarga.

“Stabilitas ekonomi keluarga dapat goyah jika mereka tidak memiliki kapasitas memadai dalam manajemen keuangan. Program ini juga sejalan dengan program Three Ends, yaitu untuk mengakhiri kesenjangan ekonomi kaum perempuan,” tambah Pribudiarta.

Sementara itu, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sondang Martha, membeberkan tiga tantangan dalam melakukan edukasi keuangan bagi perempuan.

Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan dari Prudential Indonesia

Tantangan yang dimaksud, adalah:
1. Perempuan beranggapan bahwa mereka tahu cara mengelola keuangan dengan baik, padahal sebenarnya mereka hanya tahu cara mengelola keuangan mereka secara standar.
2. Sebagian besar program pendidikan keuangan adalah kegiatan yang ‘berdiri sendiri’, atau sekali pertemuan saja, padahal perempuan membutuhkan program yang berkelanjutan.
3. Target program pelatihan umumnya masih terbatas dalam frekuensi dan cakupan.

Itulah mengapa PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) bersinergi dengan Kementerian PPPA dan OJK dalam menjalankan program Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan.

Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan kali ini dilakukan secara berkelanjutan untuk memberdayakan perempuan Indonesia dalam mengelola dan mewujudkan keuangan keluarga yang sehat.

Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan dari Prudential Indonesia

Presiden Direktur Prudential Indonesia, Jens Reisch, menuturkan bahwa kegiatan pelatihan ini sejalan dengan salah satu misi utama Prudential Indonesia, yaitu ‘We DO Good’ membangun masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia dengan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan kesejahteraan, dan kesehatan yang menyeluruh.

Sondang menambahkan bahwa hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ke-3 yang diadakan OJK pada 2019 menunjukkan hasil yang positif. Indeks literasi keuangan mencapai 38,03% dan indeks inklusi keuangan 76,19%. Ini menunjukkan ada peningkatan literasi 8,33% dan peningkatan inklusi keuangan 8,39%. Pencapaian itu tidak lepas dari kerja keras dan kolaborasi pemerintah, OJK, kementerian/lembaga, dan berbagai untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan secara berkelanjutan, salah satunya dengan Prudential Indonesia.

“Meskipun sudah ada peningkatan, literasi keuangan sangat dibutuhkan perempuan untuk menjaga keuangan keluarga tetap sehat,” tambah Sondang.

Pelatihan Merencanakan dan Mengelola Keuangan dari Prudential Indonesia

Dimulai sejak tahun 2009, Prudential telah memberikan pelatihan literasi keuangan kepada lebih dari 28.000 perempuan di 27 kota di Indonesia.  Prudential mengajak perempuan Indonesia untuk lebih paham mengenai keuangan agar dapat membantu pengaturan keuangan keluarga atau bahkan sampai mengatur keuangan usaha kecil atau home industry mereka.

“Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan pelatihan mengenai pengelolaan keuangan dasar secara komprehensif dari para fasilitator yang kompeten dan berpengalaman,” tutur Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia, Nini Sumohandoyo.

Pelatihan Literasi Keuangan yang juga saya ikuti kali ini dihadiri oleh para peserta perempuan dari berbagai organisasi, seperti ADI (Asosiasi Dosen Indonesia), IKI – Ikatan Konselor Indonesia, Tunas Wanita Indonesia, HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia)
HIMPAUDI (Himpunan Tenaga Pendidik Anak Usia Dini), IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), Dewan Pers, FGII (Federasi Guru Independen Indonesia), dan PDKI (Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia), ini difasilitatori oleh PRUvolunteers (karyawan Prudential Indonesia yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya). Aktivitas pelatihannya mengoptimalkan kemampuan perempuan dalam mengatur keuangan keluarga, utamanya dalam perencanaan keuangan, pemetaan risiko, hingga menjadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan dari Prudential Indonesia

Tips Merencanakan dan Mengelola Keuangan

Pertama, harus tahu dulu tujuan masa depan. Kalo tidak ada, bakal susah merencanakan keuangan,” kata Vera, fasilitator dari PRUvolunteers.

Berikut tips mengelola keuangan dari bu Vera:
*Harus tahu dulu situasi kita saat ini di mana (single, menikah, menikah dengan anak, anak masih kecil atau sudah besar)
*Pola penghasilan kita (biasa penghasilan rutin/tidak)
*Ada tanggungan/tidak
*Tujuan masa depan. Kita ini mengelola keuangan buat apa?
Untuk usaha, menabung, investasi, atau lainnya.
*Berapa jumlahnya/prosentasenya?
*Tinjau ulang pengeluaran Kita (besar pasak daripada tiang, pas-pasan, atau masih berlebihan)
Harus bisa membedakan kebutuhan (pendidikan anak, sandang, pangan, papan) dan keinginan (make up, traveling, tas)

Selanjutnya, menyusun anggaran.

Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan dari Prudential Indonesia

Resep keuangan yang sukses:
Kumpulkan, totalkan jumlah pendapatan, lalu bagi dalam prosentase:
*10% untuk biaya sosial (zakat, infaq, kondangan, besuk)
*20% untuk tabungan (termasuk di dalamnya investasi & proteksi)
*30% hutang (cicilan KPR/Kendaraan bermotor)
*40% untuk kebutuhan sehari-hari (bedakan kebutuhan dengan keinginan).
Kebutuhan tidak datang tiba-tiba, serta dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan hidup hari ini bila tidak dipenuhi.
Contoh: makan di rumah, motor, HP untuk usaha.
Keinginan umumnya datang tiba-tiba tanpa rencana, serta dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan hidup masa depan bila dipenuhi.
Contoh: rokok, makan di restaurant mewah, hape keluaran terbaru.

Hutang pun tidak semuanya harus dihindari. Ada hutang baik, yaitu hutang untuk sesuatu yang nilainya selalu meningkat.
Misalnya, hutang beli motor untuk catering atau disewakan untuk ojek, hutang beli rumah untuk kost/disewakan, handphone untuk bisnis online.

Pelatihan Merencanakan dan Mengelola Keuangan dari Prudential Indonesia

Hutang buruk = hutang konsumtif. Contoh: hutang untuk beli hape keluaran terbaru supaya tidak ketinggalan trend, hutang untuk nonton konser mahal.

Menurut bu Vera, tanah jika dikosongkan atau tidak dikaryakan, itu juga akan jadi tidak baik.

Pisahkan penghasilan, sebagian masuk ke rekening pasif (uang yang sengaja disimpan untuk tidak diambil, sebagai tabungan/keadaan darurat), dan rekening aktif (bisa diambil kapan pun untuk kebutuhan sehari-hari).

Pelatihan Merencanakan dan Mengelola Keuangan dari Prudential Indonesia

Waktu mendapatkan penghasilan, sisihkan untuk:
1. Bayar Hutang/cicilan (jika ada)
2. Bayar kewajiban (air, listrik, dan lainnya)
3. Tabung minimal 20%. Jika penghasilannya tidak rutin, sebaiknya prosentase tabungan dinaikkan, misalnya jadi 40%, untuk berjaga-jaga bila di bulan-bulan selanjutnya tidak ada/minim penghasilan, atau ada kebutuhan darurat.
4. Alokasi dana untuk asuransi sesuai kebutuhan (asuransi tradisional dahulu, baru unit link jika sudah memiliki asuransi tradisional)
5. Jika menerima uang kaget/arisan, alokasikan untuk simpanan atau tambahan modal usaha, atau until beli asuransi.

Pelatihan ini berlangsung cukup seru, selain feedback dari para peserta, fasilitator juga mampu mencairkan suasana. Bahkan peserta kompak mengikuti gerakan senam tangan yang dicontohkan oleh fasilitator. Apakah ibu-ibu itu sudah pernah melakukan gerakannya sebelumnya? That’s my question!

Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan dari Prudential Indonesia

So, gimana, sudah punya sedikit gambaran dalam mengelola keuangan? Semoga sudah sedikit menyadarkan ya. Seperti saya, jadi lebih aware sekarang, dan sadar akan keteledoran mengatur keuangan selama ini.

Kalau masih penasaran, coba ikutan pelatihannya, donk. Ikuti akun instagram resminya @id_prudential dan baca juga Literasi Keuangan untuk Perempuan Prudential supaya update informasinya. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *