Saat Bully Menjadi Hiburan Social Media

written by : Leonita Julian

“Tapi bully di twitter itu menghibur”

Begitu reply yang pernah saya dapat saat membahas stop bullying di twitter. Pernyataan yang mungkin sudah kita tebak, sekaligus bikin miris. Bully di twitter itu sudah jadi hiburan atau bahkan guilty pleasure. Bahkan di twitter terjadinya keroyokan. Kadang kita merasa bully bagian dari becandaan atau hukuman bagi yang berhak, tanpa memikirkan akibat panjangnya, seperti kurangnya percaya diri, trauma atau, bahkan kematian. Memang beda tipis antara bercanda, kritik,  dengan mem-bully, membuat kita sering khilaf hingga menjadi cyber bullying.

sumber: www.sidedooryk.com

 

Eh, apa sih cyber bullying?

Kalau menurut www.stopcyberbully-ing.org via Reader’s Digest, cyber bullying itu adalah ketika remaja mengalami penghinaan, ancaman, pelecehan, dan dipermalukan menggunakan internet, teknologi digital dan interaktif, atau telepon seluler.

Cyber  bullying itu termasuk bully non fisik, tetapi dampaknya terkadang lebih hebat daripada bully dengan kekerasan fisik. Alasannya? Kalau ledekan itu terjadinya di social media, tentu akan terbaca oleh semua orang yang berteman dengan atau mengenal korban, kemudian menyebar tanpa terkendali. Korban pun akan merasakan akibatnya, baik di online maupun offline. Istilahnya, malunya dua kali. Apalagi semua yang tertulis di internet akan tersimpan selamanya.

Salah satu contoh kasus cyber bullying adalah yang dialami Megan pada 2006 lalu di St.Louis, AS. Gadis berusia 13 tahun ini mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, setelah menjadi korban olok-olok  via internet yang dilakukan oleh temannya.

Ya, kita sering meremehkan bully, menganggap ini hanya bercanda, tanpa menyadari akibatnya berupa kematian teman yang kita bully karena tersiksa secara psikologis. Atau seseorang yang menjadi korban ancaman pihak tertentu karena sosoknya dibenci oleh banyak orang, di mana kebenciannya disebar melalui social media. Pada saat kita membully karena sikapnya yang buruk mungkin bahan bully-an itu jadi guilty pleasure bagi kita, tetapi pada saat nyawanya terancam, apakah kita masih menganggap itu bercanda?

Begitu terbuka dan demokratisnya social media, terkadang kita jadi egois karena merasa di social media bebas berpendapat. Merasa dapat mengungkapkan segala yang ingin kita ucapkan melalui tulisan, gambar, atau video, tanpa memperhatikan akibat panjangnya, dan lupa bahwa kita memiliki follower yang mungkin mudah terpengaruh tindakan kita. Kebaikan memang cepat tersebar di social media, tetapi kebencian atau keburukan di socmed juga tak kalah cepat mempengaruhi yang lain.

sumber: guardianlv.com

What goes around comes around. Pernah dengar kalimat ini?

Artinya, apapun yang kita lakukan di dunia ini kepada orang lain, baik atau buruk, akan berbalik ke diri kita. Mungkin kalimat ini dapat kita jadikan sebagai pengingat dalam setiap tindakan kita. Termasuk tindakan di social media.

Mungkin tidak tepat sama, atau mungkin juga tidak terjadi, tetapi ada baiknya kita menabung segala hal baik daripada menumpuk musuh,kan?

Kalau tujuan kita mengkritik orang lain, mungkin lebih baik kita kritik langsung ke pihak yang bersangkutan untuk perbaikan tanpa nada membully atau kata-kata yang kasar dan mempermalukan, ya. Siapa tahu suatu saat kita berbuat kesalahan, orang lain akan mengkritik kita untuk kebaikan, bukan dengan cara membully kita. Saya pun pernah mengalami, dan juga mungkin menjadi pelaku. Yuk belajar untuk tidak terbiasa mem-bully. Di social media memang tidak ada etika tertulis, tetapi mari kita mulai belajar menabung kebaikan di social media, niscaya kebaikan berbalik pada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *