Serunya Festival Ogoh Ogoh dan Ritual Menjelang Nyepi

_20160326_140351

Saya lebih puas menikmati dengan mengenal budaya suatu daerah daripada hanya menikmati keindahan alamnya. Kalau pembaca memiliki passion yang sama, coba datang ke Bali menjelang hingga sesudah Nyepi. Di sana banyak rangkaian acara ritual untuk merayakan Nyepi, dan itu bukan hanya indah, tetapi juga magis! Seperti pengalaman perjalanan kali ini…😉

 

Satu hari sebelum Nyepi, dilakukan ritual Buta Yadnya (Bhuta Yajna), rangkaian upacara untuk menghalau kehadiran buta kala yang merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia. Dalam rangkaian ini terdapat tradisi pawai ogoh-ogoh yang dijadikan sebagai festival tahunan yang semarak dan menjadi daya tarik pariwisata.

20160309182437-01

Ogoh-ogoh merupakan boneka atau patung beraneka rupa yang menjadi simbolisasi unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di sekeliling kehidupan manusia.

 

Umumnya ogoh-ogoh dibuat dengan bahan dasar styrofoam, dibentuk 3 dimensi. Pembuatan ogoh-ogoh ini dapat berlangsung sejak berminggu-minggu sebelum Nyepi, bergantung pada ukuran, jenis bahan, jumlah SDM yang mengerjakan, dan kerumitan desain dari ogoh-ogoh tersebut.

_20160326_140412

Pawai ogoh-ogoh biasanya berlangsung serempak sehari menjelang Hari Raya Nyepi di setiap banjar di seluruh Bali.

Pawai ogoh-ogoh pada dasarnya bertujuan agar buta kala dan segala unsur negatif lainnya tidak mengganggu kehidupan umat manusia. Namun ternyata bukan hanya itu, pawai ini juga menuntut kreatifitas anak muda Bali, loh! 😊

oHVQS3yGt-M44LmrEBOzQ84N8WzLjdjh1kq0f9QDNWk

Tiap banjar akan berlomba membuat ogoh-ogoh mengungguli karya banjar lainnya dalam festival ogoh-ogoh. Pelaksanaan festival ini biasanya dikelola oleh Sekaa Teruna Teruni, semacam karang taruna, di masing-masing banjar. Nah, perjalanan saya di Bali kali ini atas undangan Sekaa Teruna Teruni banjar Semawang, st. Graha Canti.😊

20160731_162252

Kalau Festival Ogoh-ogoh merupakan rangkaian dari perayaan menjelang Nyepi, ada juga ritual sehari menjelang Nyepi yang dilaksanakan pagi hari sebelum festival ogoh-ogoh, yaitu upacara Meprani. Sebelumnya lagi ada upacara Melasti.

FB_IMG_1506226030815

Bersama teman-teman, saya sempat mengikuti upacara ini di pura bale banjar Semawang. Tentunya kembali mengenakan baju adat untuk sembahyangan, berupa kebaya putih, selendang lilit warna hijau di perut, dan jarik.

Pagi itu, 8 Maret 2016, pura bale Semawang dipenuhi warga Hindu Semawang yang duduk di lantai bale banjar menghadap bale besar, mengenakan atasan serba putih. Yang perempuan mengenakan kebaya brokat putih dengan lilitan selendang hijau dipadukan dengan songket Bali, sementara rambutnya tergelung rapi ke atas. Para pria mengenakan destar dan kemeja putih.

FB_IMG_1506225993188

Dharma Gita atau nyanyian puji-pujian kepada Sang Hyang Widhi sayup-sayup berkumandang, berpadu dengan wanginya dupa.
Sejumlah hasil bumi seperti buah-buahan, jajan, nasi serta lawar dipersembahkan dalam upacara itu.

Sejatinya upacara Meprani adalah ungkapan rasa syukur dan bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi dengan mempersembahkan banten serta hidangan (prani) untuk memohon kesejahteraan semua mahluk (sarwa prani) dan alam semesta.

FB_IMG_1506226002006

Banten prani ini dihaturkan oleh setiap keluarga banjar, ditempatkan langsung di hadapan krama yang menghaturkan prani. Banten prani kemudian di-astawa oleh jero mangku dan seluruh krama dengan cara ngayab.

FB_IMG_1506225998557

Saya sempat mencoba memanggul beberapa banten prani itu. Ada yang beratnya wajar, ada yang..oh my God😱..sangat berat hingga saya tak sanggup memanggul sendiri! Hebat, deh, ibu-ibu yang dengan mudahnya memanggul banten berat itu. Kuat banget!💪👍

MAKEUP_20170919215741_save

Setelah dilakukan meprani, semua krama beramahtamah dengan makan bersama menikmati hidangan yang ada di banten prani, sebagai simbol anugerah amerta Ida Sanghyang Widhi Wasa. Menurut saya, acara ini memiliki nilai sosial karena ada kebersamaan antar sesama warga, seperti juga ritual jelang Nyepi lainnya.

20160731_222102

Siang harinya, warga sudah bersiap untuk festival ogoh-ogoh. Sebagian memanggul ogoh-ogoh karya mereka menuju lokasi festival, sementara beberapa pemuda-pemudi dan anak-anak sedang dirias di bale banjar atau di Rumah Sanur. Saya sempat berkunjung ke Rumah Sanur yang ternyata juga lokasi kedai Kopi Kultur, workingspace.

Hc1wPbATOB4o39IithS6iJ5yslNwkCWXqEx9eID9Atc,cbPzZf490Ljc_mgjnS4E-174cs7kOObokIYRhAgf6tc

XrZ14Y9lEp2klf83ascnakx2b6F2YgNSJ45qeK8TunY,rfy96M1l5E4UuXb0VSRTDNSd7Zacvi7Ug8kt2wrm2GY

Yang merias hebat banget, euy, para penari jadi beda, makin cantik!

r9FUUoUHVEIvG7spzcAskVID9YaZQcf31frc4tWn64E,7DJgmS4JitlLkmba34pIg58DUpTVXza6946GS2BgGpM

Memperingati hari raya Nyepi tahun Çaka 1938, st.Graha Çanti memang menjadi tuan rumah penyelenggara tahun ini untuk mengadakan festival ogoh-ogoh se-Mel. Event yang berlangsung pada 8 Maret 2016 dan bertempat di Jalan Danau Tamblingan (depan hotel Hyatt Sanur), Denpasar Selatan, ini mengambil tema CALONARANG.

FB_IMG_1506226015298

Festival yang berlangsung mulai pukul 7 malam itu menampilkan 5 ogoh – ogoh utama lengkap dengan fragmen tari dan tabuhan khas bleganjur dari masing – masing banjar se-Mel (Batujimbar, Bengandang, Belanjong, Semawang,Tanjung), beserta ogoh – ogoh pengiring yang pesertanya anak-anak.

FB_IMG_1506226034581

Tribun penonton berkapasitas 900 orang pun penuh dengan dengan para wisatawan asing ataupun warga lokal. Saya sendiri duduk di panggung sebelah juri dan tamu undangan.

FB_IMG_1506226021543

Festival yang berhadiah total Rp 18 juta ini bukan saja menampilkan tari-tarian dan ogoh-ogoh saja, panitia pun menyediakan Door Prize yang diundi di pertengahan dan akhir acara, di antaranya berupa voucher dinner, voucher hotel, voucher discount.

A4ct_5pV2zTKZgprcFJm4v9c_AT6yAFSXjacl_hCUvM20160308210041-01 Ini adalah pertama kalinya bagi saya menonton festival Ogoh-ogoh. Kalau pawai sih sudah pernah, tetapi kalau yang dilombakan baru kali ini.

Festival dibuka dengan gamelan bali dan tari penyambutan, lalu diresmikan dengan pelepasan burung merpati oleh panitia dan kepala adat, beserta tamu kehormatan lainnya.

Wc9p0v7-udXm7Cz2pOH0C7hMqt-WDUt0wBZI05JBE5o

Tiap ogoh-ogoh itu memiliki makna dan cerita sendiri-sendiri seperti yang disampaikan oleh dalang. Kadang dalang menceritakannya secara serius, kadang juga sambil bercanda, apalagi bila ogoh-ogohnya mulai miring atau doyong. Haha.😂

qxNQuhw0-KtsNTUj0oFLyzu6A64-YaAV_MtNJJYWgac

Yang menarik dari lomba ogoh-ogoh ini buat saya, sih, utamanya kelucuan-kelucuan pesertanya. Saat tampil memamerkan ogoh-ogohnya, tiap tim dari masing-masing banjar harus menggoyang-goyangkan atau tepatnya mengoyak ogoh-ogohnya, untuk mempertunjukkan kekuatan ogoh-ogoh karya mereka.

le2TGndJHq5uB7tGssD7oa24Z0Tw2PayI9O99xaL6Ag

Nah, ada satu tim yang ogoh-ogohnya terlempar beberapa meter ke depan saat dikoyak, nyaris mengenai penonton, atau tepatnya mengenai para fotografer.

NmybnEGuCj5mDDOe2xkDCi2Oox2-8FhrTxs7Us02UT8

Setelah beberapa panitia membantu mengembalikan ogoh-ogoh ke bambunya, tim itu pun kembali mengaraknya, namun sambil santai sesekali ‘wefie’ karena sudah pasrah pasti kalah. Haha.😂😂😂

Ada pula tim yang bikin gemes. Tim ini adalah tim ogoh-ogoh pengiring, beranggotakan anak-anak kecil, entah masih TK atau SD. Yang pasti mungil-mungil banget dan bikin gemes. Selain lucu-lucu dengan pakaian yang lebih mirip tentara Jepang kecil karena gerakannya (haha), mereka juga semangat sekali memanggul ogoh-ogoh kecilnya, dengan gerakan kaki ala tentara. Saking semangatnya sampai hampir mengenai penonton. Gemeezzz!😍😍

FB_IMG_1506226041999

Selain menampilkan banyak ogoh-ogoh dari peserta, festival ini juga menampilkan fragment Tari “Niscaya Lingga, Nircaya Lingga” dari st. Graha Canti. Sesuai temanya, tentu ditampilkan pula Calonarang.
Calonarang adalah seorang janda penguasa ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya wabah penyakit.

3sWlVof5Scxqtr1eVgu_QRjbcMfI6mn8XQFietskRO4

Ia memiliki seorang putri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik namun tidak bisa mendapatkan suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calonarang marah dan membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda, yang ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga.

qjPfplwhNsAIPDTppk5GJS_TS8ReX05LhgqbsiLno_E

Hari berikutnya banjir besar pun melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Wabah penyakit pun menyebar kemana-mana.

vYadk_0iwPpn3zNuRTjkr5cctu9TJ5aNODwYoO03BlQ

Fragment tari ini dibawakan dengan apik oleh Taruna Taruni st.Graha Canti. Selama dua malam saya sempat menonton latihannya yang sampai tengah malam. Jadi pengen nari, euy :)😁

FB_IMG_1469966988360

Keseluruhan event ini seru, namun terlalu lama untuk festival ogoh-ogoh. Hampir 5 jam! Mungkin akan lebih bisa dinikmati seandainya hanya 3 jam. Jadi tidak ada kesempatan mengantuk atau terpaksa menahan hasrat ke toilet. Hihi.😂

60PsVQFy3l9tD60b8-brXJnBa_YsJAW2e6mZle6AaCs

Buat yang belum pernah nonton festival ogoh-ogoh, harus coba ke Bali menjelang Nyepi. Kunjungi banjar Semawang, Sanur, pasti berasa keseruannya dari Melasti, persiapan festival ogoh-ogoh, hingga festivalnya sendiri. Bukan berarti pas Nyepi tak seru. Wow, banyak cerita menarik justru! Gimana ceritanya, ikuti saja ceritanya di artikel berikutnya, ya 😉

One thought on “Serunya Festival Ogoh Ogoh dan Ritual Menjelang Nyepi

  1. Pingback: Ketegangan di antara Nyepi dan Bintang Jatuh | Leonisecret.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *