Serunya Karnaval Budaya di Kota Khatulistiwa

Kalau ditanya apa kelebihan Indonesia, saya selalu menjawab…bukan keindahan, walaupun itu sudah pasti, tapi keragaman budayanya. Setiap negara pasti punya keindahan, tapi yang membedakan adalah budayanya, dan kebudayaan Indonesia sangat lah beragam. Saya beruntung bisa jadi salah satu yang traveling menyaksikan langsung keragaman budaya dari berbagai daerah. Dan Agustus 2015 ini saya beruntung lagi, bisa rayakan puncak perayaan #RI70 di tanah Khatulistiwa, di mana satu impian saya pun terwujud!

Impian apa tuh?

Jadi, tanggal 15-18 Agustus 2015 lalu saya bersama teman-teman sempat traveling ke Kalimantan, ke pulau-pulau terdepan Indonesia, pulau Derawan, Kakaban, Sangalaki, dan Maratua. Keindahannya, hmmm, jangan ditanya deh, pantai Maratua dengan pasir putihnya yang lembut dan luas sejauh ini paling indah dari Pantai berpasir putih lainnya.

Derawan pun tak kalah, air lautnya jernih banget! Dari kamar, kita bisa melihat penyu dan ikan-ikan berenang di bawah kamar. Langit di sana pun biru jernih. Pengalamannya sudah pasti tak terlupakan, deh. Tapi ada yang kurang ketika waktunya beli oleh-oleh tiba. Waktu itu saya bilang, saya pengennya oleh-oleh yang ada budaya Dayak-dayaknya, padahal lagi di Tarakan. Haha.

Pose bareng perwakilan Kubu Raya

Eh, begitu pulang ke Jakarta, saya dihubungi bakal diajak jalan-jalan ke Pontianak, Kalimantan Barat! Dari Borneo kembali ke Borneo.

Kita bareng rombongan pengisi acara, salah satunya Ridho, Slank

Tentu saja saya mau jalan-jalan ke khatulistiwa untuk pertama kalinya. Kota di mana budaya Bugis, Banjar, Madura, Melayu, Tionghoa, dan tentu saja..Dayak..menyatu  :)

Perwakilan Sumatera Utara

Tepatnya tanggal 22 Agustus 2015 lalu, saya berkesempatan menyaksikan parade kebudayaan Nusantara bertajuk “Karnaval Khatulistiwa” di Pontianak, Kalimantan Barat. Pontianak menjadi daerah di luar Jakarta yang pertama menghelat puncak peringatan HUT RI.

Yang bikin event ini beda dari acara semacam di daerah lain seperti Jakarta, acara ini bukan hanya karnaval darat di jalan kota, tetapi juga karnaval air di sungai Kapuas, dan dilanjutkan dengan panggung hiburan rakyat malam harinya.

Perwakilan Papua

Kota Pontianak dipilih menjadi lokasi puncak peringatan Hari Kemerdekaan ke 70 RI, karena Karnaval Khatulistiwa konsepnya memadukan karnaval dengan air. Pontianak merefleksikan daerah di garis khatulistiwa yang dilintasi sungai-sungai besar dan berbatasan dengan negara tetangga. Karnaval dirancang dengan mempertemukan kekayaan darat yang bertautan dengan air. Pontianak dianggap sesuai karena tengah mengembangkan potensi wisata air. Konsep Karnaval Khatulistiwa ini menunjukkan bahwa Indonesia 75 persen wilayahnya adalah air.

Perwakilan Jatim

Total ada 3.133 orang peserta dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari 24 provinsi, ditambah dengan 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat. Instansi pemerintah juga dilibatkan.

*Sesaat sebelum salaman dengan Presiden :)

Karnaval darat dimulai sekitar pukul 14.00 WIB di lapangan Rumah Betang Panjang, rumah adat Kalimantan di Pontianak. Di bawah terik matahari kota bersinar ini (benar-benar bersinar), masyarakat Pontianak dan media setia menunggu hadirnya Presiden RI, Jokowi, yang membuka karnaval. Begitu Jokowi hadir, masyarakat berebut untuk bersalaman dengan Presiden. Saya yang berada di depan untuk mengambil foto pun sempat bersalaman :)

Tarian pelepasan

Diawali dengan tarian pelepasan khas Kalimantan, dan diikuti iringan suara marching band menggema dari anggota marching band korps band Akpol, Akmil, Waditra Prima Sangatta, serta siswa sekolah pilihan, Presiden bersama ibu negara menaiki salah satu mobil hias yang diiringi oleh masyarakat yang ramai berebut memanggil dan mengabadikan foto Jokowi dari bawah mobil hias.

Lebih heboh lagi saat masyarakat di bawah mobil hias berebut kaos-kaos yang dilemparkan oleh Presiden ke arah kerumunan.

Dalam arak-arakan yang bermula dari rumah Betang menuju alun-alun Kapuas dengan jarak sekitar 5 km itu bukan hanya terdiri dari kendaraan hias saja, tetapi juga pejalan kaki yang menggunakan kostum adat dayak, melayu, dan kostum pejuang 45. Setidaknya ada 500 penari dayak dan 50 kelompok seni Kalimantan Barat dalam karnaval ini.

*pakaian adat Dayak Kubu Raya

Sore harinya, dari anjungan Masjid Sultan Abdurrahman, bangunan tertua di Kalimantan Barat yang dibangun pada 1771, Presiden Jokowi kembali melepas karnaval air di sungai Kapuas yang diramaikan dengan konvoi perahu hias. Parade 1.500 kapal hias bandong, kapal klotok, hingga perahu kecil memenuhi Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang mencapai 1.143 kilometer.

Suasana Karnaval Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Suasana Karnaval Khatulistiwa di Pontianak, Kalimantan Barat. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sementara pada malam harinya digelar panggung hiburan rakyat yang dimeriahkan sejumlah musisi nasional seperti Slank, Ello, Saykoji, Nidji, artis lokal Kalimantan dan daerah lainnya.

Kalau banyak tulisan ‘Ayo Kerja’ pada mobil hias, itu bukan lah tanpa alasan. Pelaksanaan Karnaval Khatulistiwa ini memang berlandaskan pada tema peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI, yaitu “Ayo Kerja”.

Indonesia ingin menunjukkan pada dunia sebagai bangsa yang besar, plural, damai, sekaligus kreatif. Karnaval ini juga merupakan expo tentang Indonesia yang optimis yang berpedoman pada upaya mendorong seluas mungkin kreativitas masyarakat serta mengedepankan hiburan khas daerah.

Kota Pontianak sangat diuntungkan dengan kegiatan karnaval sungai dan darat ini, karena banyak wisatawan nusantara yang hadir di Kota Pontianak. Coba saja mencari penerbangan ke Pontianak di hari itu, susaaaah!

Harapan saya sih ke depannya kegiatan ini bisa dikemas lebih baik lagi, terutama festival Sungai Kapuas-nya yang pasti bisa menarik sebagai event pariwisata tahunan untuk wisatawan dalam negeri maupun manca negara, karena pemandangan di sekitar Kapuas dengan budaya masyarakatnya lah yang membuatnya beda dari karnaval sejenis di luar negeri. O ya, nonton panjat pinang di sekitar sungai Kapuas tuh seru banget, loh, jatuhnya ke air!

Gimana ceritanya? Simak di artikel berikutnya ya, gaes :)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *