Sisi Lain Sentani, Surga di Papua

photo by Barry Kusuma

Tahu, nggak, kalau ada telaga berbentuk hati di Papua?
Tepatnya di Sentani. Iya, seperti yang tampak pada foto di atas, bentuknya seperti tanda cinta! Ajaib, kan?! Namanya telaga Emfotte. Sering disebut Telaga Hati atau Telaga Cinta. Kadang disebut juga Heart of the lake. Romantis banget, yak :)

Itulah salah satu keajaiban bumi Papua yang saya dan teman-teman traveler temui selama trip Festival Danau Sentani 2015. Pengalaman selama festival berlangsung bisa dibaca di artikel sebelumnya. Kali ini saya mau bahas sisi lain trip Danau Sentani.

photo by Barry Kusuma

O ya, sebelum menemukan telaga Emfotte, di hari pertama di Sentani, Papua ini, kami sempat mengunjungi lokasi festival di Khalkote sejenak.

Festival ini berlangsung tanggal 19-23 Juni 2015, tetapi pembukaannya secara resmi baru dilakukan di hari ke-2, karena menunggu kehadiran Menteri Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif, Arief Yahya, yang masih dalam perjalanan kembali ke Indonesia setelah kunjungan di China.

Kembali ke telaga Hati…

Wajar sih kalau tak pernah dengar tentang telaga Emfotte ini, karena memang masih jarang yang tahu keberadaannya. Lokasinya di belakang danau Sentani, atau 2 jam dari Khalkote, lokasi Festival Danau Sentani.

Landscape Papua memang sadis indahnya ya. Selama perjalanan menuju telaga Emfotte, kami disuguhi pemandangan yang beda banget dengan pulau tempat saya tinggal. Khususnya Jakarta. Haha. Penuh bukit-bukit hijau yang masih perawan. Aih~

Masih sedikit tanda penunjuk jalan lokasi telaga, sehingga kadang harus bertanya pada penduduk setempat. Jalannya pun tidak terlalu besar, dan bukan jalan aspal.

Minimnya penunjuk jalan inilah yang sempat membuat rombongan kami terpisah. Satu dari tiga mobil sempat tersasar selama 2 jam! Yang bikin lama, karena begitu tersesat di jalur sempit seperti hutan, mobil terperosok dan sulit terangkat. Lebih parah lagi, di sana tak ada signal, sehingga rombongan di 2 mobil lainnya sulit menghubungi untuk memberi guide atau memberi pertolongan lainnya. Haduuuh >,<

Saya sendiri berada di salah satu mobil yang lancar menuju telaga Emfotte. Jadi foto-foto di sini adalah momen selama menunggu 2 jam di atas bukit sekitar telaga Emfotte.

Subhanallah! Bukan cuman telaga ‘cinta’nya saja yang indah, savana yang mengitarinya pun Instagramable banget!
Selain itu, di sana kami benar-benar mendapat pengalaman berbeda yang Papua banget.

Beberapa kali kami dapati burung-burung berwarna-warni terbang tinggi di atas bentangan hijaunya savana yang tak pernah saya lihat di Jawa atau pulau lainnya. Suara burung seperti gagak pun sempat saya dengar di antara pepohonan hutan dekat bukit savana itu. What an amazing view!
Wajah Papua yang pasti bikin rindu <3

O ya, tentang mobil rombongan yang terperosok tadi, akhirnya berhasil kami jemput setelah sukses mencari signal! Dan kami pun sempat kembali ke telaga Emfotte untuk mengambil foto view telaga. Foto paling atas diambil oleh teman fotografer, Barry Kusuma, via drone. Btw, Barry ikut rombongan yang tersesat tadi :)

Dari Emfotte, kami menuju pantai Putali, untuk menyeberang ke Pulau Abar sebelum senja. Tak disangka selama menunggu perahu boat, kami disuguhi pemandangan indah pantai Putali. Tenaang sekali suasana di situ, seperti terlihat pada foto. Di sini memang tempat bertambatnya perahu-perahu kecil yang digunakan untuk menyeberang.

Tak lama, perahu kami pun datang. Satu rombongan cukup menggunakan satu perahu boat kecil. Beberapa kali kami teriak karena basah terpecik air danau. Haha

Seperti yang sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya, pulau Abar ini dikhususkan untuk kerajinan gerabah. Di sana kami sempat menyaksikan langsung pembuatan gerabah yang masih menggunakan cara tradisional.

Dari kampung Abar, kami kembali menyeberang untuk kembali ke hotel Alison tempat kami menginap hari pertama di Sentani.

Sepanjang perjalanan seharian ini, saya selalu bertemu dengan warga Papua yang bibir dan mulutnya merah-merah karena mengunyah pinang & sirih.

Jangan heran kalau di sana banyak sekali penjual pinang, sirih, lengkap dengan kapurnya, karena itulah snack mereka. Dari orang tua, remaja, hingga anak-anak kecil pun mengunyahnya. Katanya sih, bisa menguatkan gigi.

Sebelum sampai hotel, kami sempat mampir di RM Yougwa.
Setelah di trip Papua yang pertama gagal makan makanan khas Papua, akhirnya, di sini saya bisa mencoba papeda!

Kalau ditanya bagaimana rasanya, ya saya jawab…rasa makanan pokok sagu yang hambar. Seperti nasi gitu deh, harus ditambah lauk pauk supaya enak :)

Sayangnya makanan pokok ini mulai tergantikan nasi.

Hari ke-2 kami di Sentani, 20 Juni 2015, dimulai dengan menyaksikan peresmian Festival Danau Sentani 2015 oleh Menparekraf, Arief Yahya, yang sempat kami temui di restauran hotel sebelum berangkat ke lokasi festival. Untuk penjelasan tentang festival sudah saya bahas di artikel sebelumnya.

Saya paling suka Isolo Canoe, tarian perang di atas perahu. Seru banget! Dan juga kagum dengan keramahan para penari dari 21 pulau dan 24 kampung sekitar Sentani ini. Mereka mudah banget diajak foto bareng :)

Di sini saya dan kak Swastika, yang ikut rombongan juga, sempat meet up dengan Jensen, blogger Papua yang eksis. Hehe. Dulu, banget, kita kopdar di Jakarta. Glad to finally met him after 5 years, at his lovely Papua! :)

Saya sempat terpisah dengan rombongan di festival ini dan tertinggal perahu. Haha. Jadinya saya gunakan waktu menunggunya untuk cari-cari info di booth-booth pameran kerajinan khas Papua.

“Ada 750 species burung di Papua, terbesar di dunia,” kata Alex Waisimon dari salah satu booth tour bird watching di acara Festival Danau Sentani.
Wow, saya baru tahu itu, kemana aja?

Di Papua Home Care Watching ini selain bird watching jg bisa trekking, atau nikmati white sand beach. Trekking & bird watching distrik Nimboran ini ternyata belum nge-trend di wisatawan lokal, kebanyakan turis asing.

Anw, di Papua ini juga lagi demam batu akik ternyata, sehingga boothnya paling ramai. Hehehe

Ini adalah hasil foto-foto di pulau Asei Besar (penjelasan ada di artikel sebelumnya). Di sana rumah danaunya sederhana tapi Instagramable banget karena dinding etniknya. Btw, I got my wings! I’m officially an angel! haha

Sebelum kembali beristirahat di hotel, kali ini di Swissbell hotel, kami sempat mampir ke Skyline. Lokasi nongkrong dengan city view. Dari atas skyline ini, kita bisa melihat pemandangan indah seluruh kota Jayapura, loh! Bahkan hotel kami pun terlihat jelas, karena lokasinya yang di tepi danau.

Hari ke-3, kami mengunjungi kampung wisata Tablanusu. Begitu masuk ke kampungnya, saya mendapati pemandangan kampung dengan danau kecil yang indah banget! Rapiii..hijau..airnya tenang, warganya ramah. Itu saja sudah istimewa bagi saya.

 

Eh, ternyata ada lagi keistimewaan lainnya. Pantai ini ternyata jalanannya bukan berupa pasir seperti pantai pada umumnya, tetapi berupa kerikil. Full kerikil!
Pemandangan kampungnya yang rapi dan hijau sejuk bikin saya terkagum-kagum <3

Di sini saya sempat bertemu Chef Charles Toto dari Papua Jungle Chef yang lagi shooting interview TV bareng teman-teman dari beritasatu.

Saya sempat mencicipi sandwich sagu tuna ala chef Charles. Enak! Misi Papua Jungle Chef ini memang membawa kualitas makanan bintang lima dengan bahan-bahan khas Papua. Keren, kan :)

Kalau mau berwisata tenang dan damai, kayaknya kampung Tablanusu ini tepat banget, deh. Hijau di mana-mana. Lebih tenang lagi karena signal ponsel yang masih susah di sini. Hihi. Cukup untuk berlibur, tanpa gangguan.

Embedded image permalink

Sebelum kembali ke hotel, kami sempat  ke bukit McArthur. Dari situ, kita bisa melihat view Danau Sentani, kota Sentani, lengkap dengan landasan pesawat bandara Sentani.

Sebenarnya pemandangan dari dekat tugu McArthur sudah cukup bagus, tetapi lebih luas lagi pandangannya bila kita mau trekking naik sedikit lagi, walaupun saya salah kostum, nggak nyangka bakal trekking. Ahaha. Dari sana pemandangannya lengkap dengan view gunung Cycloops, asal batu akik yang khas Papua itu.

Hari terakhir kami di Sentani, Papua, sempat diisi dengan trip singkat melihat pantai-pantai, dan Papua New Guinea dari kejauhan, hingga akhirnya berhenti di butik Batik Port Numbay Papua. Coraknya simple, umumnya berupa gambar cendrawasih, tetapi lebih colorful dibanding batik daerah lain di Indonesia.


Kami juga sempat meliat proses pembuatannya yang masih sederhana banget.

Perjalanan selanjutnya adalah Museum Loka Budaya Universitas Cendrawasih. Koleksi benda-benda budaya yang dimiliki oleh museum Loka Budaya ini dari semua jenis dan etnis Papua dengan jumlah 1885 benda etnografi yang terdiri dari peralatan dapur, peralatan bercocok tanam, berburu, peralatan menangkap ikan, busana dan perhiasan tubuh, peralatan perang, alat bayar, benda-benda syakral, dan hasil karya seni lainnya.

Ada koleksi pakaian topeng (Jipae) juga. Ini kostum untuk mengusir arwah dari desa. Arwah yang dipanggil akan masuk ke orang yang mengenakan Jipae, yang kemudian akan dilempari batu oleh anak-anak kecil.

Embedded image permalink

 “Biasanya yang banyak motret Jipae, bisa kemasukan rohnya,” kata pak Agus, salah satu guide kami, tepat saat saya sedang memotret Jipae ini. Adeuuh >,<

Trip Papua kami diakhiri dengan shopping di pasar seni Hamadi. Di sini tersedia macam-macam karya seni khas Papua, khususnya Sentani. Saya sih borong banyak gelang dan kalung, buat..ootd. Haha

pic by Wira Nurmansyah

Gitu deh, pengalaman serunya jalan-jalan di surga Sentani, Papua.
Gimana, pengen, nggak? Penasaran sama telaga ‘cinta’?
Pokoknya jangan lupa kalau ke Sentani pas Festival Danau Sentani berlangsung, yak. Jadi lengkap dapat semua keseruannya, bukan hanya keindahannya, tapi juga budayanya :)

17 thoughts on “Sisi Lain Sentani, Surga di Papua

    • Akses ke sana sih naik pesawat turun bandara Sentani. Untuk perjalanan selama di sana harus charter mobil biar mudah. Ada angkot sih, tapi di daerah tertentu yang juga perlu speed boat atau perahu untuk menyeberang antar danau.
      Soal biaya…hmmm…biaya tiket pesawat, sewa mobil (x berapa hari), hotel, makan, dan biaya sewa speedboat kecil kalau ingin keliling danau, murah sih kalau yang ini, dari 10000 sampai 200 rb tergantung perjalanan.

  1. Makasih udah datang di papua khusunya jayapura & sentani..
    Ajak lagi temen”nya untuk datang kesini, biar mereka juga merasakan alam papua..
    Jangan bosan” ya untuk datang kembali… :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *