Surabaya Tak Seperti Yang Kamu Duga

20171012_093941

Pic by Jain_maris

Setelah sekian lama meninggalkan Surabaya dan akhirnya kembali ke Surabaya, barulah saya mengenal kekuatan kota ini. Bagi saya, Surabaya itu kota hebat yang memiliki kontradiksi yang unik. Sayangnya, kota ini sedikit underrated.

Note: this article was written by me and has been published on Pandumu.id

Surabaya hanya dikenal sebagai kota terbesar ke-2 setelah Jakarta. Dikenal sebagai kota dagang, kota bisnis, kota maritim, dan jauh dari sebutan kota pariwisata. Ada dua kata yang paling ikonik dari kota ini, dan itu yang sering disebutkan oleh mereka yang sempat mengunjungi ibukota Jawa Timur ini. Panas dan bonek! Bahkan pengucapan panasnya mungkin bukan sekedar panas tapi ‘paaaanaaasss’ atau ‘puanaaasss”. Ya, saking hot-nya!

Bahkan sekembalinya ke Surabaya setelah lama tinggal di Jakarta yang juga panas, kulit saya bisa merah-merah karena tak kuat dengan iklim Surabaya yang panas dan kering saat siang hari.

Kira-kira apa alasan saya meninggalkan Jakarta?
Jujur saja, karena kecewa dengan kota metropolitan atau provinsi ‘modern’ ini, yang ternyata mudah terprovokasi persoalan keyakinan. Sesuatu yang tak pernah terpikir di benak saya saat memutuskan tinggal dan menjadi warga DKI Jakarta. Sementara alasan saya tinggal di Jakarta adalah ke’bebas’annya. Dan persoalan ini yang justru menjadi kelebihan dan keunikan Surabaya.

Surabaya itu dikenal sebagai kota panas, tetapi tidak mudah ‘panas’ akan provokasi. Sudah beberapa kali terbukti ke’cuek’an warga kota ini terhadap provokator.😅

Yang pertama adalah saat kerusuhan ’98 di Jakarta dan kota lain yang dihuni banyak warga keturunan Tionghoa. Sementara Surabaya itu kota yang penuh dengan warga keturunan, tetapi tidak terusik kerusuhan. Warganya lebih tahu kekuatan diri sendiri dan saling memahami, bukan termakan provokator dari luar.

Begitupun saat peristiwa demo lilin/demo toleransi baru-baru ini. Provokator yang komentar negatif adanya dari luar, warga Surabaya-nya, sih, tenang-tenang saja.
Warganya memang bonek, bondo nekat, seperti sebutan suporter tim kesayangan kota ini, Persebaya. Kali ini bondo nekat berani menentang provokator.

Entah, warga Surabaya itu paling cuek provokasi atau paling keras kepala. Beda tipis, ya. Yang pasti warga Surabaya itu orangnya to the point, tidak suka basa-basi. Sepertinya hawa panas bikin warganya tidak suka basa basi. 😅

Saya masih ingat dengan jawaban kakak kelas saya di Universitas Airlangga Surabaya. Ia berasal dari Sumatera, namun ia memilih Surabaya sebagai pilihan pertama. Saya penasaran alasannya lebih memilih Surabaya dibanding Jakarta atau kota lainnya.
Karena Surabaya itu toleransinya paling bagus,” jawabnya.
Jawaban yang waktu itu masih menyisakan banyak tanya di benak saya, tetapi kini sudah terbukti kebenarannya. 😊

Tadi saya mengatakan soal ‘underrated’. Ya, Surabaya jarang dijadikan persinggahan untuk wisata. Belum mencoba pun kebanyakan sudah menyerah dengan kesibukan kota ini.
Bahkan tour & travel pun umumnya hanya mempromosikan tempat wisata yang itu-itu saja. Tentunya sudah banyak yang mengenal Tugu Pahlawan, Kebon Binatang Surabaya, atau Rumah Sampoerna, bukan?

Nah, kali ini saya ingin mengajak kamu mengenal lebih banyak soal Surabaya yang mungkin tidak terpikir oleh banyak orang. Semoga setelah membaca artikel ini, Surabaya bukan lagi sekedar persinggahan bisnis atau sekedar kota transit.

 

Kota Toleransi

20171020_094234

Pic by Yolanda Y

Tahukah kamu, bahwa di Surabaya ada dua tempat ibadah beda keyakinan yang saling berdampingan, dan bukan hanya sekedar simbol?
Ya, di Surabaya ada masjid besar yang juga dikenal sebagai tempat wisata, yaitu Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.
Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Agung Surabaya (MAS) ini bukan sekedar tempat ibadah atau berkumpulnya umat Islam, tetapi juga jadi tempat edukasi dan pendidikan kebudayaan, sekaligus menjadi simbol kemajuan teknologi warga Surabaya.
Masjid yang diresmikan oleh mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid pada 10 November 2000 ini dibangun di atas lahan seluas 11,2 ha dengan kapasitas 36 ribu jamaah, dan dibangun dengan perhitungan teknologi yang sangat matang.
Bukan hanya umat Islam yang menikmati keberadaan masjid ini. Coba kunjungi di pagi hari, pasti banyak kita temui warga yang melakukan jogging atau jalan kaki mengitari trotoar masjid. Atau di Minggu pagi, bisa kita temui pasar Minggu di seputar masjid.
Nah, yang menarik lagi, lokasi MAS bersebelahan dengan Gereja Katolik Paroki Sakramen Mahakudus. Sama-sama luas. Kalau tidak ingin capek berjalan mengelilingi sekitar masjid dan gereja, ada delman yang bisa disewa.

20171012_094549 Ini hasil foto yang saya ambil setelah jogging mengelilingi masjid. Kebetulan lokasinya dekat dengan tempat tinggal saya.
Dan, ya, ini bukan sekedar simbolisasi, tetapi menjadi salah satu bukti nyata kerukunan beragama di Surabaya. Kotanya boleh panas, tetapi tidak hatinya. 😊

 

Kota Tekhnologi

Tahun 2011 lalu saya dan teman-teman dari Jakarta sempat membuat komunitas sharing seputar IT dan socmed di Surabaya. Beberapa teman Surabaya sangat welcome, dan banyak lainnya yang sangat tertutup, seperti anti pihak luar. Acara blogger Surabaya, ya harus ijin dan mengajak dedengkot blogger Surabaya untuk menjadi panitia. Itu dulu. Surabaya dulu sangat sulit dimasuki. Sekarang, Surabaya sangat beda.

Selama ini Surabaya tidak pernah menjadi perhitungan sebagai sumber pelaku IT atau startup di Indonesia, apalagi silicon valey. Selama ini yang disebut sebagai wadah geeks di Indonesia adalah kota Jakarta, Bandung, atau Yogyakarta.

IMG_20171012_095405 Tetapi berita gembira saya dengar saat menghadiri Geekfest 2017 pada 21 Mei 2017 lalu di Surabaya. Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya mengatakan bahwa Surabaya bakal jadi tuan rumah Startup World Nation Summit 2018.

Wali kota fenomenal ini berhasil meyakinkan dewan panitia SWNS, dan mengalahkan pesaing utama Surabaya sebagai calon tuan rumah, yaitu kota Istanbul, Turki.

Siapa sangka kota yang tak pernah jadi perhitungan di bidang IT, kini diperhitungan secara internasional.
So, supaya tidak ketinggalan kemajuan tekhnologi, khususnya startup, mungkin Surabaya bisa jadi bucket list wisatamu di tahun 2018.

20171011_170622
Kota Instagramable

7 tahun lalu Surabaya masih lah kota yang panas, gersang, ruwet, semrawut. Dahulu Surabaya minim taman kota, sedikit taman hiburan, dan jarang festival rakyat berskala internasional.
Jarang ada yang memasukkan kota Surabaya dalam bucket list lokasi hunting foto atau lokasi wisata. Siapa sangka kota Pahlawan yang panas dan semrawut itu bisa jadi kota yang instagramable?
Tetapi coba lihat hasil hunting saya atau fotografer Surabaya lainnya berikut ini.

20171012_095647

Pic by ferry_ex

Jembatan Suramadu yang menghubungkan antara Pulau Jawa (Surabaya) dan Pulau Madura (Bangkalan) ini hingga kini masih menjadi jembatan terpanjang di Indonesia, dengan panjang mencapai 5,43 km.
Jembatan ini jadi salah satu favorit para fotografer.

20170910_072042

Tak jauh dari jembatan Suramadu terdapat jembatan Kenjeran. Jembatan yang menurut Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya masuk dalam daftar 10 jembatan terbaik di dunia ini, merupakan ikon baru wisata Surabaya, dengan salah satu keistimewaan air mancur menarinya. Aksi air mancur menari (Dancing & Musical Water Fountain) yang berwarna-warni ini diiringi oleh lagu-lagu Surabaya dan Jembatan Merah.

20170910_072108

Sayangnya hiburan rakyat Surabaya ini hanya dapat dinikmati setiap Malam Minggu setiap pukul 20.00 WIB hingga 21.00 WIB.

IMG_20170926_051506_483

Masih banyak taman dan hutan kota di Surabaya, lengkap dengan ilalangnya yang instagramable. Kenjeran Park salah satunya.

IMG_20170920_170911_580

IMG_20170905_062244_672

Di dalam Kenpark ini terdapat Pagoda Tian Ti (Langit-Bumi) atau disebut juga Sky World, merupakan duplikat bangunan sejenis di Beijing, Tiongkok.

IMG_20170915_165927_984

Selain pagoda, kota Pahlawan ini juga memiliki bangunan religi historikal, salah satunya Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria. Gereja yang dibangun pada 18 April 1899 ini berdiri megah dengan balutan batu bata klasik Eropa, dan pilar-pilar setinggi 12 meter. Menurut saya, inilah gereja paling klasik dan paling indah di Surabaya.

IMG_20170913_082737_422

 

Hutan bambu Keputih Surabaya ini memang instagramable. Selain banyak yang memanfaatkan untuk foto pre-wedding dan instagram, tempat ini juga nyaman untuk sekedar nongkrong…atau nge-date, karena tidak terlalu ramai.

IMG_20170728_202213_942

Surabaya juga punya Dufan versi lebih kecil. Namanya Suroboyo Carnival Park.

IMG_20170920_053855_646

Surabaya juga punya festival layang-layang berskala internasional, loh. Surabaya Internasional Kite Festival ini sudah berlangsung beberapa kali.

IMG_20170826_065601_283 Tahun ini digelar di Side Area Long Beach Timur Pakuwon City. Walaupun panas menyengat, festival ini sangat menghibur warga Surabaya.

IMG_yffdye

Selain peserta lomba dari dalam dan luar negeri, warga Surabaya dari anak kecil hingga dewasa pun ikutan bermain layang-layang dengan berbagai bentuk. Tak ayal acara ini menarik banyak fotografer untuk mengabadikan momennya.

Contoh-contoh tadi baru beberapa lokasi di Surabaya yang instagramable. Sebagai kota Pahlawan, kota perjuangan, tentu masih banyak lokasi historikal dan instagramable lainnya. Belum lagi kafe-kafenya yang tak kalah kerennya dengan kafe di Jakarta dan Bandung.

Pernahkah kamu bertemu seseorang yang terlihat galak dari luar, tetapi lincah, tegas, dan baik di dalamnya?

Itulah Surabaya yang underrated yang sekarang saya kenal. Surabaya yang meski hot, tetapi rapi dan layak huni. Surabaya baru yang mungkin tak disangka sangat istimewa. Surabaya berani yang selalu percaya diri.

6 thoughts on “Surabaya Tak Seperti Yang Kamu Duga

  1. Duh, aku iki penduduk surabaya timur tapi durung tau foto2an ndek hutan bambu keputih. Ketinggalan jaman aku iki hahaaa… Btw fotomu yg gereja + masjid itu very good, Leoni.

    • Haha banyak kok orang Surabaya yang blom tahu. Biasanya justru karena tinggal di sana, trus fokusnya Surabaya panas, pengennya ngafe/ngemall. Ada hutan bagus, kelewat pengamatan.
      Makasiih

  2. Keren niih tulisan yang bikin sudut pandang berbeda. Aku lahir dan besar di Surabaya banyak yg gk ngerti kalo ternyata banyak tempat menarik disini. Trutama buat poto2 hihihi. Makasih mba ulasannya :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *