Dilema Orang Tua Millenial dan Generasi Z

Featured

carly-rae

pic by yth.org

Saya percaya persoalan terbesar bangsa (Indonesia) itu sebenarnya masih seputar masalah mendasar, seputar karakter, moral, sensitivitas keagamaan kesukuan, pemerataan kesejahteraan, pendidikan, regenerasi, dan semacamnya. Kalau yang paling dasar bisa dibereskan, baru lah persoalan rumit lainnya dapat diminimalisir. Duh..bahasa gue~😄

Tidak biasanya saya speechless mendengar cerita atau curahan hati dari seseorang.

Continue reading

Generasi Labil

Yang salah jadi tampak benar, yang benar jadi berasa salah. Kekuatan massa jadi senjata yang kadang hilangkan essensi dari masalah, hanya karena ikut-ikutan. Pendapat terbanyak menjadi Tuhan. Minoritas pastinya kurang menawan. Hey, tidak semua berita yang tersebar di internet itu telah terbukti kebenarannya. Tidak semua kalimat yang di-tweet oleh teman itu pasti benar atau serius adanya. Cek dan ricek itu perlu!

Continue reading

Kita Lebih Beruntung Dari Mereka

Mestinya kita malu kalau masih mengeluh, mestinya kita sungkan kalau masih merasa kurang. Buka mata, buka telinga. Lihat sekitar kita. Masih banyak yang lebih tidak beruntung dari kita.

Kenapa saya yakin, teman-teman lebih beruntung? Karena dengan membaca blog ini, berarti teman-teman masih punya kelebihan duit untuk membayar tagihan internet provider, masih bisa membayar pulsa telepon, atau paling tidak masih bisa menyisakan sedikit uang untuk browsing di warnet.

Sementara, di luar sana, banyak warga yang belum melek internet karena tidak memiliki sisa uang. Jangankan sisa, untuk biaya hidup sehari-hari saja tidak cukup, apalagi untuk sekolah dan internet.

Hari ini saya melihat dua kenyataan, entah apa emosi yang ada bila saya yang mengalami. Yang satu anak-anak kecil yang menderita kanker (C3), tetapi mereka masih bisa bernyanyi dengan riang, yang satu para warga yang menjadi korban kebakaran Palmerah. Sekitar 50 rumah hancur terbakar. Then I said, Oh God, lucky me! I’m not one of them!

Meski sangat pas-pasan secara materi, saya masih bisa browsing internet, masih bisa gaul, bahkan masih bisa membiayai pendidikan S2 saya.

Percayakah kamu, bahwa Tuhan melihat amal baik kita? Saya salah satu yang pernah merasakan keajaibannya.

Beberapa tahun yang lalu, saya keluar kerja karena perusahaan di mana saya bekerja sedang tidak sehat sehingga harus merumahkan karyawannya. Ada saat saya hanya memiliki sedikit uang. Uang sejumlah Rp 100.000,- . Hanya itu yang saya miliki selama 1 bulan. Of course karena saya tidak memiliki penghasilan lagi, kan..

Hari Jum’at, saya jalan-jalan ke mall hanya berbekal uang seratus ribu itu. Tentu saya tidak berniat membeli barang, just windows shopping menghilangkan penat. Then, saya melihat ada kios kecil yang menawarkan pendaftaran untuk menjadi Orang Tua Asuh. Man, ini keinginan saya dari dulu, menyekolahkan anak fakir miskin!

Saya bingung, bolak balik mengitari lokasi kios itu. Yang terpikir, bila sayamendaftar Ortu Asuh, saya tidak punya uang lagi. Tapi, di sisi lain, kalau saya minim materi, pasti masih ada orang tua, saudara, atau teman yang akan membantu, bagaimana kalau mereka? Belum tentu!

Akhirnya saya putuskan untuk mendaftar sebagai Orang Tua Asuh. Uang saya memang habis. Tetapi apa yang terjadi? Tidak sampai seminggu saya mendapat telepon dari Manager sebuah Bank Swasta yang menawari saya pekerjaan. Bahkan saya sudah lupa kapan saya kirim CV-nya. Tuhan tahu apa yang kita lakukan, teman.

Ada lagi cerita nyata dari tetangga saya. Beliau sedang bangkrut. Sangat bangkrut, harta bendanya pun terpaksa dijual untuk menutupi hutang-hutangnya. Tetapi, beliau masih ingat untuk beramal, sisa uang yang ada beliau sumbangkan ke masjid.

Apa yang terjadi? Seminggu kemudian beliau memenangkan undian rumah 1 M!!!

Kita masih sangat beruntung bisa facebook-an, twitter-an, ngobrol di kaskus,melihat video di youtube, ngerumpi di YM dan BBM. So, saya mengajak teman-teman, janganlah merasa berat untuk beramal, karena amal adalah tabungan untuk ke surga. Dan kita tidak akan mengira balasan apa yang kita terima dari Tuhan.

Hari ini saya mengajak teman-teman untuk bersama-sama IndonesiaUnite menyumbangkan sebagian harta kita untuk para korban kebakaran Rawa Bebek (lihat status FB IndonesiaUnite! klik di sini) atau menyumbang dana atau tenaga kita untuk adik-adik kita penderita kanker di C3 (klik di sini).

Lakukan apa yang kita bisa. Bersama-sama, sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Kalau kita melakukan kebaikan, maka kebaikan yang akan mencarikan jalan untuk kita.

Kita mungkin lebih miskin harta dari beberapa yang lain, tapi kita bangga kalau lebih kaya hati. Ingat, kita masih jauh lebih beruntung dari korban-korban yang saya sebutkan tadi. Bersyukurlah!

Think twice, there’s just another day for you, and it’s called Paradise!