The Hardest Part of Ending is Starting Again

// October 2nd, 2011 // my own

Jangan sibuk mencari dan mencintai sosok yang sempurna, terlebih yang sempurna untuk kita di mata orang lain, lebih baik cintai dia yang bersyukur dan menghargai cinta yang ia dapat, karena dia akan menghargai kita dan berpikir 1000x untuk menyakiti.



Bukan hal mudah menjalani hubungan berdasarkan crowd sourcing. Yeah, there I said. Saya akui, saya pernah menjalani suatu hubungan karena suara kebanyakan orang yang menginginkan kita bersatu, karena rekomendasi banyak pihak. Tetapi seorang perempuan, akhirnya luluh juga dengan kharisma. Sayangnya mungkin perasaan itu terlambat datangnya. Tetapi bukan salah perempuan donk kalau cinta tidak datang begitu saja dan harus menunggu waktu? Tidak gentle kalau seorang pria menyalahkan perasaan ini. Resiko mencintai seseorang adalah tidak berbalas. Tetapi resiko berhubungan adalah berani memegang komitmen, janji, apapun itu. Kalau tidak bisa, berarti ada ingkar di dalamnya. And not worth to fight for


Anw, hubungan itu sayangnya gagal dan maaf bila harus mengecewakan banyak pihak yang sudah sangat support kisah ini. Ini bukan sesuatu yang direncanakan. Ini di luar kontrol. Saya berharap punya kekuatan untuk bertahan. Sayangnya, yang ada hanya mengisi waktu dengan saling menyakiti, serta menunggu dan menunggu datangnya akhir.

Banyak kata yang belum diungkap, tetapi saya ingin berucap..seluruh hidup saya sudah terbiasa mendengar kebohongan, saya lelah, sekarang saya berhak untuk dihargai dan mendengar kejujuran, bukan kebohongan yang berkelanjutan. All I want to do is trade this life for something new. Holding on to what I haven’t got! – meminjam lyric ‘Waiting for The End’, Linkin Park.


Trying to figure out what it’s like moving on. So now I’m picking up the pieces. Dan percayalah, menghadapi ini bukanlah hal yang mudah. The hardest part of ending is starting again.

28 September 2011 adalah hari baru untuk saya. Memulai suatu hubungan dengan pro dan kontra. Yang lucu, entah kenapa crowd sourcing di setiap awal relationship tidak bisa saya hindari. Tanggal 27 September 2011, timeline twitter ramai dengan ucapan ‘selamat’ atau gossip yang beragam, sebelum resminya tiba.

Menjawab semua pertanyaan, saya berhak memilih, dan mungkin kali ini saya memilih sesuatu yang saya rindukan, kesederhanaan, dan kembali ke fitrah. Saya bisa memiliki yang saya citakan, materi, karir, dan lainnya. Tetapi hal yang hilang dan saya rindukan adalah ‘penghargaan yang tulus’ bukan kompetisi, kesombongan, atau ego. Sesuatu yang spontan. Percayalah, saya tidak bodoh, saya bisa melihat potensi. Saya percaya dia bisa menjadi imam bagi saya. Saya ingin mencintainya dengan sederhana. Saya memberinya kesempatan untuk membahagiakan. Bila terjadinya pada cycle yang sama, itu hanya suatu kebetulan, bukan kesengajaan.


Terima kasih untuk setahun kesedihan dan kebahagiaan bersama. Terima kasih untuk segala pelajaran kehidupannya. Terima kasih atas segala bantuannya. Terima kasih atas segala cintanya. Just, be humble. Dan…hargailah perempuan, seperti mereka menghargai kamu. Take Care you there

One Response to “The Hardest Part of Ending is Starting Again”

  1. astho says:

    hei, ada suara wanita…

Leave a Reply