The Notebook, Saat Hati Harus Memilih, Kesempurnaan ataukah Kenyamanan?

‘Feels like Home’…itulah yang selalu saya katakan bila ada pertanyaan mengenai pasangan yang saya inginkan. Seseorang yang bisa membuat saya nyaman untuk bercerita, berbagi pengalaman, dan berbagi suka duka. Nyaman, seperti berada di rumah. Ke manapun kita pergi, ke mana pun kita berpaling, kita akan tetap kembali kepadanya.

Rumah..apa pengertian rumah? Bagi saya, rumah adalah tempat yang nyaman untuk beristirahat, tumbuh, berkembang, dan melakukan apa yang kita suka dengan nyaman. Bisa dilihat juga pengertiannya berdasarkan Wikipedia (klik di sini). Home is where the heart is…Nyaman..itu intinya!

The Notebook, film yang diangkat dari novel best seller karya Nicholas Spark ini menggambarkan secara jelas bagaimana hati dihadapkan pada pilihan antara kesempurnaan dan ke’nyaman’an. Dua pemain utama dalam film favorit saya ini, Ryan Gosling dan Rachel McAdams, mampu membawa emosi penonton seakan merasakan sendiri apa yang dialami sang tokoh utama.

Here’s the synopsis..

***

Sepasang remaja mengawali cinta musim panas mereka yang berkembang ke dalam hubungan cinta yang intim. ALLIE HAMILTON, putri dari keluarga kaya yang sedang menghabiskan liburan musim panas di North Carolina. NOAH CALHOUN, cowok kampung yang bekerja di penggergajian, ia cerdas dan puitis. Noah jatuh cinta sejak pertama kali melihat Allie di pasar malam.

Selama liburan, Allie melewatkan hari-hari indah bersama Noah, melakukan hal-hal yang sama sekali baru baginya. Keduanya merasa seakan sudah saling mengenal sejak lama.

Lucunya, sebenarnya mereka tidak cocok dalam banyak hal. Bahkan mereka sangat berbeda dalam segala hal, loh! Selalu terjadi cekcok dan pertengkaran setiap harinya. Tetapi di samping perbedaan-perbedaan itu, mereka memiliki satu persamaan penting, mereka saling mencintai, tergila-gila satu sama lain!

Menjelang akhir musim panas itu, Noah mengajak Allie mengunjungi rumah tua di perkebunan Windsor. Bisa dibilang, rumah ini sudah sangat tidak layak untuk dihuni. Tanpa mempedulikan kerusakannya, dengan pe de, Noah mengatakan pada Allie bahwa kelak Ia akan membeli rumah ini dan memugarnya kembali menjadi rumah besar bercat putih dengan serambi luas di sekitarnya, serta ruang melukis di lantai atas yang menghadap langsung ke danau, sesuai impian Allie. Mereka melewatkan berjam-jam bersama di rumah tua itu, membicarakan segala impian mereka.

Namun sayang, dua sejoli ini terpisahkan oleh ANNE, ibunda Allie, yang sangat tidak menyetujui hubungan itu. Anne bukannya tidak menyukai Noah, tetapi karena menganggap cowok miskin itu tak pantas untuk putrinya. Orang tua Allie memutuskan segera kembali ke Charlestown.

Kepergian Allie membawa serta sebagian diri Noah dan seluruh sisa musim panas itu. Noah putus asa dan menyesal tak sempat menahan atau mengantarkan kepergian Allie, justru pertemuan terakhir mereka ditutup dengan pertengkaran.

Noah menulis surat untuk Allie selama 365 hari, setiap hari! Namun sayang, tak sekalipun Ia terima surat balasan. Kedua pasangan itu tak mengetahui bahwa surat Noah tidak pernah disampaikan oleh Anne kepada putrinya.

Akhirnya setelah setahun tanpa berita, Noah memutuskan untuk meninggalkan semua kenangan tentang Allie dan memulai hidup baru, sehingga ia menuliskan surat terakhirnya, surat ke-365.

Noah dan FIN, sahabatnya, memutuskan mengikuti wajib militer Perang Dunia II ke Afrika Utara danEropa. Sementara Allie menjadi relawan merawat tentara korban perang.

PD II memang memang memisahkan mereka, namun kenangan tetap menghantui keduanya.

Allie dibuat jatuh cinta oleh LON HOMMAND Jr, tentara yang pernah dirawatnya saat PD II berlangsung. Pria yang akhirnya meminangnya itu benar-benar figur sempurna pilihan orang tua Allie, pria sukses, lucu, cerdas, tampan, dan mempesona.

Saat Lon melamarnya di suatu pesta dansa, Allie menerima dengan sepenuh hati. Namun ia tak mengerti, mengapa di saat dia mengatakan ‘I do’ kepada Lon, wajah Noah hadir dalam benaknya?

Masalah timbul di tengah persiapan pernikahannya, saat Allie melihat foto Noah dengan rumah besar bercat putih hasil kerja kerasnya sendiri, di sebuah harian lokal. Allie merasa harus memastikan perasaannya sebelum mantap dengan keputusan pernikahannya. Ia pun meminta ijin Lon untuk menyendiri beberapa hari dengan alasan menghilangkan tekanan akibat persiapan pernikahan. Kenyataannya, perjalanan itu membawa kembali romantisme antara Allie dan Noah di Seabrook.

“Kenapa kau tak menyuratiku?” tanya Allie di tengah derasnya hujan di tepi danau Bices Creek. “Aku menunggumu selama tujuh tahun!”

Noah keheranan mendengar pertanyaan Allie. Tak terima dengan pertanyaan itu, dengan sedikit emosi Ia menjelaskan tentang 365 surat yang tak pernah berbalas.

http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2014/07/16/article-2693929-1FAD02B600000578-185_634x327.jpg

Kehadiran Anne di rumah Noah yang memberitakan akan pencarian Lon ke Seabrook membuyarkan berseminya cinta lama Allie pada pria kampung yang tampan itu. Anne berusaha meyakinkan putrinya mengenai keputusannya kembali bersama Noah ini harus dipikirkannya lagi secara matang.

Anne memberi gambaran pada Allie dengan mengajaknya melihat sosok pekerja galian yang tak lain adalah mantan kekasih Anne. Ia pun pernah memiliki cerita cinta yang tak berbeda dengan Allie dan Noah. Seandainya dulu Anne memilih bersama pria itu mungkin kehidupannya akan menyedihkan dan tidak semapan bersama ayah Allie.

Inilah keputusan besar yang harus diambil Allie pula. Ingin tetap bersama pria kampung ataukah bersama Lon yang sukses? Cara Anne memisahkan Allie dengan Noah adalah demi kebaikan putrinya itu.

Noah marah dengan keputusan Allie untuk kembali menemui calon suaminya yang sedang berada di kota kecil itu. Ia menuduh Allie bahwa keputusannya bukan berdasarkan hati tetapi karena keamanan, yaitu ‘uang’.

“Kamu bosan!” seru Noah kepada Allie. “Kamu tidak akan datang ke sini jika tidak ada sesuatu yang hilang! Tak bisakah kamu tinggal denganku?”

Allie tetap bertahan dengan keputusannya, karena merasa akan sia-sia. Ia dan Noah telah kembali cekcok seperti dulu. Tidak ada yang perlu dipertahankan. Ia pun merasa bersalah kepada Lon.

“Aku tidak takut,” kata Noah dengan nada tinggi. “Ini tidak akan mudah, akan sangat sulit, kita akan selalu bertengkar dan baikan, akan selalu begitu, tetapi aku ingin kita lakukan..karena aku menginginkanmu. Aku ingin dirimu seutuhnya, kamu dan aku selamanya.”

Kalimat yang diucapkan Noah dan untaian kalimat dalam surat-surat Noah yang dibawa Anne kepadanya membuat bimbang hati Allie. Bagaimanakah keputusan Allie? Apakah memilih Lon yang sempurna dan bisa menjamin hidupnya ataukah mengikuti kata hatinya, di mana ia merasa seperti di ‘rumah’, di mana ia merasa nyaman?

So, keputusan apa yang teman-teman pilih kalo berada di posisi Allie? Kenapa?

81 thoughts on “The Notebook, Saat Hati Harus Memilih, Kesempurnaan ataukah Kenyamanan?

  1. film lama tapi,masih layak untuk ditoton..
    ketika di perhadapkan dgn pilihan antara kesempurnaan dgn kenyamanan.

    synopsis nya keren..

  2. Perbedaan ada, untuk saling melengkapi. Tidak banyak dari kita yang mungkin sungguh mengerti bahwa perjalanan hidup setiap orang unik. Setiap orang dibekali keunggulan, dan umumnya mereka sibuk dengan keunggulan mereka. Tetapi mungkin banyak orang yang memilih untuk menepikan kelemahan mereka. Saya pikir salah satu tugas kita menjalani peziarahan hidup ini justru untuk memperbaiki kelemahan kita.
    Banyak orang memilih pasangan karena mengutamakan kecocokan. Hal yang tidak cocok dipandang sebagai bencana. Padahal, kalau mau merenung lagi, sangat mungkin bahwa perbedaan yang dihadirkan di hadapan kita itu adalah petunjuk dari Tuhan, tentang apa saja yang menjadi kelemahan kita dan apa yang harus kita benahi. Dengan demikian, Pasangan hidup itu siapa? Dia adalah seseorang, yang menjadi teman peziarahan. Teman seperjalanan dalam kehidupan.
    Siapa pun yang dipilih oleh si perempuan dalam film tersebut, menurut sudut pandang saya mungkin akan lebih pas kalau didasarkan pada pemahaman itu. Tapi ini film. Tujuan utamanya entertain. So….siapa pun laki-laki yang akhirnya terpilih, ok lah. Ide ceritanya Ok sih menurut saya. Salam. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *