Wajar di Social Media?

“Berapa lama Bapak main twitter? Baru kan? Saya yakin orang yang baru menggunakan twitter pasti (kelihatan) bodoh”

Serta-merta saya mengernyitkan dahi mendengar komentar pedas pengguna twitter yang hadir di studio TV One. Ini adalah acara Debat yang membahas tweet Farhat Abbas tanggal 9 Januari 2012 lalu. Tweet Farhat Abbas memang dipermasalahkan karena mengkritik Ahok, wakil Gubernur DKI Jakarta, dengan menyebutkan ‘Cina’.

“Ahok sana sini protes plat pribadi B 2 DKI dijual polisi ke orang umum katanya! Dasar Ahok plat aja diributin! Apapun platnya tetap Cina”. Begitulah isi tweet di akun twitter Farhat Abbas yang menyebabkannya dilaporkan oleh Anto Medan, tokoh Muslim Tionghoa.

‘Ouch!’

Saya tahu maksud ‘bodoh’ yang disampaikan hadirin kepada Anto Medan tadi adalah gagap dan kaget dengan budaya twitter yang ‘nyablak’. Apa saja yang dipikirkan ditulis tanpa perhatikan etika. Mau marah, memperolok, nyindir, kritik, atau perang kata-kata, semuanya ada. Di media ini budayanya obrolan arisan, ngerumpi, ngegossip.

Di twitter, kasar itu wajar, saya pun kadang tak bisa menahan diri bercanda kasar di media sosial itu, yang mungkin tak mungkin dilakukan saat bertemu offline. Tetapi ada yang menjadi kekhawatiran saya, debat di TV tadi benar-benar tidak sopan. Semua orang menggunakan kata kasar karena emosi, saling ngotot pertahankan pendapatnya, saling bersahutan tanpa memberikan kesempatan yang sedang berbicara. Termasuk kalimat tadi diucapkan dengan tanpa etika, setengah emosi. Pendapatnya membela Farhat dengan mengatakan bahwa kata-kata ‘Cina’ di situ wajar kalau digunakan di twitter, karena bisa saja maksudnya bercanda, bukan serius bermaksud rasis, dan di twitter banyak yang bercanda semacam.

Kenyataannya, di linimasa banyak yang mengecam Farhat. Mengapa? Karena ia menyatakan dirinya calon presiden termuda. Tentunya warga linimasa tak sudi dan tak rela tokoh public atau calon presidennya orang yang perkataannya berdasar emosi tanpa memikirkan akibatnya.

Namun, di luar faktor Farhat, ada beberapa kekhawatiran saya. Debat yang terjadi di TV itu memperlihatkan cara debat orang-orang dewasa dan terhormat yang menyeramkan, seperti gontok-gontokan, sama-sama saling susah nahan emosi, kasar, gunakan ancaman, pamer jabatan, dan susah di-stop kalau sudah berpendapat, kadang hingga mengatakan orang lain ‘bodoh’. Anw, saya paling tidak suka bila ada yang memperolok orang lain dengan kata-kata bodoh, tolol, goblok, atau semacamnya, seakan-akan dia sudah pasti lebih pandai dari orang yang diolok, padahal belum tentu.

Lalu tentang kata-kata kasar di twitter yang sudah membudaya. Kita memprotes tweet Farhat, sementara kadang tweet kita sendiri juga kasar tanpa etika saat mengkritik orang lain atau menertawakan galau dan penderitaan teman kita sendiri. Tak sedikit pula sarkas yang berkedok ‘candaan’. Kita lupa, saat diri kita yang diperlakukan seperti itu, pasti sakit dan kecewa juga. Seharusnya sopan-santun tetap harus ada baik di dunia nyata ataupun maya, bukan? Tetapi pasti kehilanganan keseruannya.

Apa yang kita protes kadang tanpa kita sadari sama dengan yang kita lakukan sehari-hari. Isn’t it ironic?

Sepertinya masing-masing perlu berkaca dan introspeksi..

 

 

 

1 thought on “Wajar di Social Media?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *