Bencana itu Sudah Diprediksi, Kecelakaan itu Memang Terjadi (1)

written by : Leonita Julian

Di antara reruntuhan mereka masih dapat bercanda,

Di antara puing-puing, anak-anak kecil itu masih tetap bermain,

Jiwa pedagang membuat mereka berjuang,

Penderitaan membuat mereka saling bergandengan tangan.

Sebelum tiba di Padang, saya berpikir bahwa sumbangan dari Jakarta dan kota-kota lain di luar Padang-Pariaman sangatlah banyak. Eh, sesampainya di Ranah Minang, barulah saya tahu keadaan sebenarnya. bantuan memang banyak, tetapi yang sampai ke tangan korban gempa hanya sedikit! Bahkan ada korban gempa yang hanya menerima bantuan segenggam beras! How come?!

Rabu, 7 Oktober 2009, Ranah Minang menyambut saya. Kesan pertama adalah..panaass!! Belum tahu bahwa yang akan terjadi selanjutnya lebih panas lagi! hehe

Keberadaan saya di sini adalah untuk koordinasi distribusi bantuan untuk korban gempa Sumatera Barat 7,6 RS yang terjadi pada tanggal 30 September 2009 (G 30 S PPI – Gempa 30 September Padang Pariaman Indonesia).

Yes! Saya mewakili Aksi Sosial IndonesiaUnite yang mengirimkan bantuan senilai lebih dari Rp 35 juta, berupa air mineral (1925 dus, kemasan 1 dan 1,5 lt), bahan makanan, baju layak pakai, perlengkapan bayi, selimut, dll. Semua bantuan ini kita kumpulkan dari teman-teman pendukung semangat IndonesiaUnite yang aktif di twitter dan facebook. Medco Foundation, RAPI Sumbar, dan Global Rescue turut membantu pendistribusiannya.

Kalau banyak teman-teman yang bertanya, kenapa di status twitter saya tulis ‘kecelakaan!’ dan ‘stress’ (hehe..), ini jawabannya..

Ada 3 truk yang mengangkut bantuan IndonesiaUnite. Truk pertama mengangkut 700 air mineral, sempat terlambat sehari karena ada badai di Lampung. Spare 2 hari menunggu barang bantuan yang tertunda badai ini, lumayan juga untuk melihat kondisi Padang pasca gempa.

Hari pertama, 7 Oktober 2009, saya sempat mengamati proses evakuasi terakhir di Hotel Ambacang. Beruntung kenal Didoy,teman dari Trans TV, jadi bisa melihat langsung tanpa halangan police line. Tetapi bau amis dan debu di Ambacang malam itu membuat saya menjaga jarak dari puing-puing Ambacang.

Aneh, hotel Ambacang hancur, tetapi gedung-gedung di sampingnya utuh. Salah seorang warga mengatakan, saat terjadi gempa, hotel ini seperti dikoyak kanan kiri, atas bawah. “Paling banyak maksiatnya, mbak”. Heehh..mungkin tidak salah..tapi mungkin juga salah kaprah. Kalau secara logika saya sebagai orang awam,  saya kok melihat, nih hotel hancur karena konstruksi bangunannya, selain juga karena faktor alam tentunya. Hotel ini bekas pertokoan tua 2 lantai, yang diubah menjadi hotel lebih dari 3 lantai. sementara faktor alam semestinya membuat bangunan di Padang tidak boleh lebih dari 3 lantai, tentu saja hancurnya melebihi bangunan-bangunan di sampingnya.

Selesai dari Ambacang, perjalanan saya dan teman dari Pronews FM Padang, terhenti di salah satu jalan protokol karena banyak polisi dan massa yang berkerumun di depan salah satu toko. Oh, ternyata bangunan toko itu roboh miring, dan malam itu kembali bergerak ke samping, membuat warga panik! Hei, ini hari ke 7 pasca gempa..

Di lokasi itu kita bertemu dengan teman-teman relawan. Mereka sengaja tidak memasang nama komunitas di tendanya, karena khawatir warga yang ingin menyumbang tidak mau melalui bantuan mereka bila terdapat nama komunitasnya, dianggap tidak terbuka untuk umum. Yah, relawan kan berada di sini untuk membantu semua korban secara global, bukan sekedar untuk membawa nama Yayasan mereka.

Saya juga sempat bertemu dengan teman-teman dari konjen USA di Medan, yang hadir di studio Pronews FM Padang untuk interview.

Salut buat Mr Stanley, yang bangga menggunakan bahasa Indonesia! Beliau hanya mau diwawancara dan menjawab pertanyaan dengan bahasa Indonesia, loh! what a great PR you are..

Hari berikutnya, saya berkunjung ke kantor Pusdalops (Pusat Kendali Operasi Penanggulangan Bencana) Sumbar, bertemu dengan Pak Ade, Kepala Pusdalops, yang menceritakan kejadian hari H, memutarkan video saat gempa terjadi, dan menunjukkan presentasi Gubernur tentang gempa yang dibuat olehnya.

Dalam presentasi itu digambarkan peta Asia, lengkap dengan titik-titik merah yang merupakan daerah potensi gempa.

Ya! gempa itu sudah diprediksi sebelumnya, dan memang diprediksi tidak akan terjadi tsunami.

Ssstt..katanya Jakarta aman? belum tentu juga lah..Tetapi yang jelas tidak aman banjir dan macet..wkwk.

Yang menarik, ternyata ada satu wilayah di Padang Pariaman yang terkena longsor besar saat terjadi gempa, tetapi tidak satupun warganya yang menjadi kornban! bagaimana bisa?

Karena semua warga lari menuju danau dan loncat ke danau itu sehingga nyawa terselamatkan!

ooh..I wonder if I jump to the lake..Gosh..sama juga bo’ong..hehe.

Oh ya, kembali ke truk bantuan. Alhamdulillah, truk pertama berhasil sampai di Padang dengan selamat. Sebanyak 700 dus air mineral langsung kita bagikan untuk didistribusikan oleh posko-posko peduli bencana RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Padang dan Pariaman, dengan menggunakan kendaraan-kendaraan mereka, juga untuk dapur umum yang dibuat khusus pasca gempa.

Truk ke-2 datang hari berikutnya, tetapi tidak utuh? maksudnya? Ini yang bikin saya shock!

Ingin tahu cerita selanjutnya? apa yang terjadi dengan truk itu? Silahkan ikuti postingan berikutnya ya..(klik di sini)

36 thoughts on “Bencana itu Sudah Diprediksi, Kecelakaan itu Memang Terjadi (1)

  1. Pingback: Tweets that mention Bencana itu Sudah Diprediksi, Kecelakaan itu Memang Terjadi | Leonisecret -- Topsy.com

  2. halo…halooo, maish ingat saya kan? 😀 . eh, aku mau tau donk cerita langsung darimu, bersediakah untuk ketemuan? mau ngobrol…eng wawancara , hihihihihi 😀

  3. Pingback: Kecelakaan dan Diskriminasi itu.. | Leonisecret

  4. Pingback: Sebotol Air Mineral itu Jadi Rebutan | Leonisecret

  5. teruslah berbuat kebaikan disetiap ada kesempatan, Tuhan memberkati orang yg mau menolong sesamanya, Tolong donk kapan2 saya diajak utk jadi sukarelawan jika ada kesempatan yg diberikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *