Contoh Fashion Peduli Alam

Three Leaves Men’s collection

Saat penampilan dan outfit kita dipuji, pernahkah terpikir dari apa atau dari mana baju kita berasal, dan bagaimana mereka dibuat? Sebijaksana apa? Pernahkah terpikir bagaimana dampak lingkungan dari baju karya desainer yang kita pilih?

Pada postingan sebelumnya tentang Kurangnya Kesadaran Fashion Ramah Lingkungan, saya sudah menjelaskan dampak-dampak negatifnya sehelai kain yang kita kenakan terhadap lingkungan. Iya, bahan tertentu bisa menyebabkan global warming. Nah, kali ini membahas contoh designer dan pelaku fashion yang peduli lingkungan.

Saat ini fashion beretika telah banyak ditemukan di dunia, sejak dipelopori oleh  Anita Roddick dengan The Body Shop dan Safia Minney dengan People Tree. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Fashionable People, Sustainable Planet  yang menjadi motto Indonesia Fashion Week 2015 (IFW 2015) yang berlangsung 26 Februari hingga 1 Maret 2015 lalu, mengajak masyarakat untuk diharapkan tidak hanya memperhatikan fashion sebagai gaya hidup, tetapi juga peduli akan lingkungan.

Kampanye Green Movement pada Indonesia Fashion Week diharapkan bisa menjadi contoh bagi para pelaku fashion untuk lebih peduli lagi terhadap lingkungan hidup. Salah satu contoh paling mudah yang bisa kita lakukan adalah mulai menggunakan tas belanja pakai ulang setiap kali berbelanja.

Berikut adalah contoh desainer yang tidak hanya karyanya membuat takjub, tetapi juga peduli dan ramah lingkungan.

image credit: www.thetimes.co.uk

Stella McCartney

Siapa pemerhati fashion yang tak kenal namanya?

McCartney berada di garis depan desainer high end chic yang memiliki hati nurani. Ia berkomitmen tidak pernah menggunakan kulit atau bulu. Pada koleksi musim semi dan musim panas  2013, sepatu karyanya  memiliki sol biodegradable. Contoh lain dari komitmen mereka untuk planet ini, pakaian dalam yang mereka hasilkan terbuat dari katun organik dan logam daur ulang.

Bagian dari pernyataan misi perusahaan adalah  terus mempertimbangkan dampak terhadap planet ini saat mendesain pakaian,  membuka, dan produk-produk manufakturnya.

 

Three Leaves

 

Three Leaves didirikan pada tahun 2012 di Red Hook, Brooklyn, menyediakan pakaian organik khusus pria serta sepatu vegan, dengan cara yang bertanggung jawab secara sosial dan ramah lingkungan. Three Leaves bertujuan sebagai sumber untuk fashion etis tanpa kompromi.

Perusahaan ini hanya menyediakan barang-barang yang memenuhi kriteria yang ketat dari standar lingkungan, termasuk barang-barang disertifikasi oleh Oeko-Tex, Global Tekstil Standard Organik, bersertifikat organik oleh Soil Association, dan OE 100. Potongan-potongan yang dipilih dengan cermat terbuat dari katun organik, PET daur ulang ( botol plastik), dan rami, di samping berbagai bahan ramah lingkungan lainnya.

 

EDUN

EDUN Men’s Collections

 Dimulai oleh Ali Hewson dan  suaminya Bono,  frontman U2, yang memang aktif berkampanye untuk hak asasi manusia dan lingkungan hidup, mereka  menyediakan struktur bisnis jangka panjang kepada masyarakat  di Afrika. Edun Live Tee shirt 100%  dibuat di Afrika.

Loomstate

Loomstate Men’s private collections

Loomstate berfokus pada penggunaan bahan berkelanjutan seperti kain tencel, dan menggunakan teknik manufaktur yang mengakibatkan limbah seminimal mungkin. Salah satu line mereka, yang disebut 321, memiliki tema bahwa setiap  pakaian bisa dikenakan dengan lima cara yang berbeda, tentunya menghemat pembelian baju baru.

Loomstate juga berusaha untuk meningkatkan kesadaran tentang perlunya keberlanjutan. Perusahaan ini  membuat misi mendidik orang lain tentang bagaimana membantu melestarikan planet kita untuk generasi mendatang. Contoh dari langkah ini adalah Zero Waste Project mereka, yang menggabungkan desain para mahasiswa dengan Loomstate untuk membuat pakaian yang benar-benar nol-limbah.

 

Anne Avantie

Fashion adalah bahasa cinta dan Seni. Tidak bisa ditangkap oleh mereka yang tidak memiliki cinta dan seni.

Ada pesan moral yang ingin disampaikan melalui tema peragaan busana Anne Avantie “Pasar Klewer Riwayatmoe Kini “ di mana Pasar Klewer yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian Indonesia ini ludes terbakar pada tanggal 27 Desember 2014 yang lalu. Kerugian yang ditimbulkan oleh kecelakaan ini dikisarkan mencapai Rp 10 triliun.

Demi kenangan dan cintanya kepada pasar yang berdiri sejak tahun ’70-an itu, serta tentunya cintanya pada Indonesia, Anne mempersembahkan koleksi kebaya yang sebagian materialnya diambil dari sisa-sisa kain pasar Klewer yang terbakar. Anne  memilih potongan-potongan kain batik itu bersama para pemulung di puing-puing sisa kebakaran.

Melalui 20 karyanyaAnne Avantie mengolah sisa-sisa batik yang terbakar menjadi mozaik yang tertata apik sebagai simbol kepedulian. Potongan batik terbakar bukan rekayasa, tapi murni. Kain-kain itu disambungkan dengan cara menyulam dengan ‎benang  dari ujung-ujungnya yang terbakar. Ada sebagian kain yang dibakar sedikit supaya kesan hitamnya tampak. Saat diselamatkan, kain-kain batik tersebut wujudnya sudah tidak terlalu bagus. Bahkan beberapa juga lembab karena diguyur air demi memadakan  api.

Melalui tangan dingin Anne Avantie, batik-batik terbakar yang memiliki nilai history  tak lekang dimakan waktu, berubah menjadi karya dramatis, eksotis, glamor, seksi, dan romantis. Kreatif banget!

Pasar Klewer sendiri merupakan salah satu ikon batik di Indonesia. Sebagai seseorang yang memiliki banyak kenangan dengan tempat itu, Anne pun berharap jika pasar bisa didirikan kembali. Baginya, Pasar Klewer adalah budaya bangsa yang butuh seseorang yang mengasihi.

Keren kan, mereka?

Semoga dari mereka, kita terinspirasi untuk sadar akan perlunya menyelamatkan planet kita dimulai dengan aksi kecil kita yang peduli alam. Selamat menyelamatkan dunia  ^^

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *