Introspeksi Sebelum Sirik

written by : Leonita Julian

Donโ€™t judge a book by its cover! Jangan berprasangka dulu hanya berdasarkan penampilan luarnya..

Pernahkah kamu dapat prasangka buruk hanya karena dilihat berdasarkan penampilan, tanpa dikenal terlebih dahulu? Gimana rasanya? Nyesek ya? Tapi tak bisa berbuat banyak karena penampilan itu pemberian Tuhan. Kita cuma bisa buktikan bahwa kita tidak bisa dinilai hanya sekedar penampilan seperti yang dipikir orang, tapi bahwa kita memang punya sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, punya sesuatu yang bernilai, atau bahkan tak tergantikan.

Dulu saya menyangka gossip karena sirik tuh cuman ada di film atau sinetron. haha. Ternyata…setelah berada di dunia kerja, saya sering alami hal itu. Memang tak seperti teman-teman lain atau cerita di film/sinetron, yang saat di bangku sekolah sudah mulai saling sirik-sirikan. Saya dulu pendiam banget, cuman sibuk belajar demi ngejar ranking, juara kelas, atau beasiswa, jadi cuek banget sama gossip. Ga peduli dan emang ga gaul. I was a nerd.

Sebenarnya sifat cuek itu masih ada hingga kini. Kadang saya cuek saat tahu ada yang menggossipkan atau sirik, dengan berpikir bahwa tanpa mereka saya masih bisa survive, dan mereka yang sirik pun tidak membuat saya lebih baik. Tetapi ada kalanya sedih, kesal, kalau sudah keseringan terjadi.

Lucunya, Tuhan kasih saya kelebihan yaitu petunjuk! Petunjuk ini sangat menguntungkan saat saya penasaran akan sesuatu, dan jadi tahu siapa yang benar-benar teman dan siapa yang hanya berpura-pura baik. Tetapi jadi mengerikan karena selalu dapat petunjuk detail apa yang orang bicarakan tentang kita dan kadang mengetahui dengan mata kepala sendiri bahwa orang yang membicarakan kita itu adalah teman sendiri.

Gimana cara Tuhan kasih petunjuk?

Jadi gini….

Suatu saat saya mendapat telephon dari seorang teman. Ternyata…dia tak sengaja pencet nomor telephon saya, dan…walhasil saya jadi mendengarkan semua percakapan gossip tentang saya yang sedang dibicarakan beberapa teman cowok saya. haha

Ada juga yang saya dapat karena keteledoran orang yang lupa sign out saat pinjam gadget saya, sehingga bisa membaca percakapannya dengan seseorang yang menjelek-jelekkan nama saya. huhu

Atau secara tak sengaja membaca pembicaraan group BBM seseorang yang menyebut nama saya di screen Blackberry-nya yang ditinggal dalam keadaan terbuka. Ada nama kita disebut-sebut otomatis jadi kepo donk ya. Hihi. Menyedihkannya, karena obrolannya sangat fitnah, dan tidak satupun anggota group itu yang saya kenal. Jadi mereka membicarakan berdasarkan reka-reka.

Yah..seperti itulah beberapa cara Tuhan memberi petunjuknya, ada saja caranya..dan masih banyak cara lain.

Yang menyedihkan adalah bahwa komentar-komentar itu kebanyakan berdasarkan penampilan luar. Misalnya bagaimana saya disambut, bagaimana saya bisa diundang ini itu, bagaimana saya bisa dapat jabatan, yang semuanya itu sebelumnya tidak saya dapatkan semudah sekarang. Jadi semuanya ada proses, ada usaha keras, sebelum akhirnya tinggal mengambil hasilnya. Misalnya bila ada teman yang mengajak saya jadi salah satu rombongan group trip/seminar/workshop, ya karena selain saya punya kemampuan public relations/promosi, ya di sana pun saya tidak enak-enakan sekedar trip, tapi karena profesi saya sebagai speaker atau pengajar. Dan untuk capai semua itu ada proses yang tidak mudah.

source: eserzone.com

source: eserzone.com

Saya pernah melemparkan satu tweet:

“@leonisecret kalo cantik digossipin bisa ini itu krn penampilan doank, kalo pinter dibilang kurang ini itu. kalo punya dua2nya? mau apa?”

Teman saya, Dea, menjawab : “Kalau punya dua- duanya, the 1st rule still applies. People tend to fail to see the brain factor gara2 faktor pertama”

Ya, sayangnya begitu, kebanyakan orang masih tidak menerima kenyataan bahwa penampilan dan otak bisa seimbang bagusnya.

Saya rasa kejadian sirik-sirikan semacam ini bisa terjadi pada siapapun, mungkin juga teman-teman alami, kebetulan itu yang saya alami. Atau mungkin saja kita sendiri jadi orang yang mengkritik atau sirik?

So, daripada mengkritik seseorang sebelum kita betul-betul mengenalnya, lebih baik introspeksi kenapa kita tidak bisa seperti dia. Selalu ada bothside of the story. Bagaimana seandainya kita jadi dirinya? Silahkan share cerita yang dialami teman-teman di sini.. ^-^

6 thoughts on “Introspeksi Sebelum Sirik

  1. wah setuju sekali tuh dengan kata introspeksi diri. wah kalau jadi korban di gossipin sih sudah sering.. kalau saya sih cuekin aja. anggap saja ibadah, minimal mereka jadi ada bahan pembicaraan. karena orang pinter ga ngomongin orang tapi ide.. ๐Ÿ™‚

  2. banyak yang mengalami seperti ini, entahlah motivasi apa sehingga orang2 keasyikan menjudge orang lain tanpa tahu sebab sepenuhnya tentang apa yang dimaksud. Mungkin juga, dengan seperti ini adalah satu-satunya jalan Tuhan menegur kita. Intinya, kita tetap enjoy saja tentang pendapat orang2 tentang kita. jangan terlalu membalas perlakuan hal yang sama terhadap mereka

Leave a Reply to warm Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *