Mana Yang Asli? Social Media atau Real Life?

written by Leonita Julian

“All of me online”, di berbagai social media, di antara beragam pemikiran dan karakter manusia. Itulah fenomena yang terjadi saat ini. Setiap orang memiliki email, username, social network profile, dan password messenger login ganda. Banyak pula yang memiliki akun alter ego (akun alias). Mungkin orang lain atau bahkan pemiliknya sendiri bingung, karakter mana yang lebih mewakili pemiliknya, karakternya di online yang lebih ekspresif atau di offline yang kurang ekspresif? Mungkinkah karakter di online adalah karakter asli yang akhirnya muncul melalui rangkaian teks? Atau bisa jadi karakter mayanya lebih menjual daripada karakter aslinya?

Bila di awal 2010 banyak celebrity dan blogger yang dipilih sebagai endorser/ambassador brand, di pertengahan 2010 mulai banyak brand yang lebih melirik twitter celebrity. Fyi, tidak semua celebrity dan blogger memiliki kemampuan/karakter sebagai influencer. Mereka yang memiliki karakter kuat dan cerdas menciptakan konten di social medianya lah yang dapat bertahan dan menjadi online celebrity.

Brand pun kini mulai melirik komunitas-komunitas atau akun-akun misterius, unik, dan kocak di twitter, mereka memiliki ratusan ribu massa dan engage karena kecerdasan kontennya yang sangat simple dan ‘ngena’ untuk twitter user yang umumnya berjiwa muda. Contohnya @soalBowBow, @poconggg, @anjinggombal, @soalCINTA, @terselubung, dan lainnya. Tentunya di sana brand harus berbicara dan menyampaikan pesan secara implisit sesuai karakter akun yang diendorsenya.

Size Does Matter

2009 lalu, mencapai trending topics di twitter masih menjadi hal yang sangat istimewa, misalnya saat hashtag #IndonesiaUnite mencapai world wide trending topics selama 3 hari. Saat itu, Indonesia mulai menyadari pentingnya twitter.

2010, berkali-kali twitter user Indonesia membuat trending topics, dari topik nasionalisme hingga topik super iseng! User Indonesia sudah menyadari bahwa jumlah user twitter Indonesia yang cukup besar merupakan senjata, ditambah dengan karakter yang kompak. Size Does Matter!

Ini terbukti saat terjadi ‘perang’ argument antara pengguna twitter Indonesia dengan Malaysia setelah pertandingan sepak bola Final pertama piala AFF antara Timnas Indonesia dengan Malaysia. Saat itu terjadi tragedy ‘laser’ yang digunakan supporter Malaysia untuk mengganggu konsentrasi penjaga gawang Indonesia. Hashtag #Malaysiacheatlaser yang memprotes tindakan supporter Malaysia ini menjadi worldwide trending topic di twitter. Apakah twitter user Malaysia tinggal diam? Tentu saja tidak. Mereka berusaha menandingi dengan menggunakan hashtag sendiri, tetapi trending topic tetap dimenangkan pihak Indonesia karena, tentunya, jumlah twitter user Indonesia yang jauh lebih besar.

Sayangnya, sehari kemudian muncul hashtag #HateMalaysia di mana pengguna twitter Indonesia terkesan dendam dengan supporter Malaysia. Untunglah, karakter ‘ngikut’ orang Indonesia masih bisa dikendalikan. Para twitter influencer mengambil inisiatif memulai menggunakan hashtag #LoveIndonesia untuk meredam hashtag #HateMalaysia, dan dalam beberapa jam pun #LoveIndonesia mengungguli #HateMalaysia. Bagaimanapun, Love lebih elegan daripada Hate, bukan?

Lain cerita lagi dengan akun @poconggg. Akun yang ‘semestinya’ seram ini justru menjadi favorit karena kontennya yang lucu dan menarik, sehingga dengan mudah beberapa kali menjadi top retweet mengalahkan Justin Bieber atau jadi worldwide trending topics. Misalnya saat akun ini memposting: “My name is Conggg, and I’m not a Terrorist” dan banyak follower meretweetnya karena kontennya yang lucu, sehingga ‘Conggg’ menjadi trending topics. Karakter akun ini bukannya seram, tetapi justru… menggemaskan? Haha. Dan ini yang jadi kunci suksesnya.

Apakah twitter user Indonesia suka iseng? Buktinya akun twitter yang aneh-aneh pasti cepat jadi hits. Contohnya akun baru @MentionKe. Akun yang isi postingannya berupa pertanyaan-pertanyaan super iseng, kadang kasar, dan banyak membuat followernya frontal memention akun temannya sebagai jawaban dari pertanyaannya ini berhasil menembus angka 100.000 follower hanya dalam 13 hari!

Social Media Marketer

Pada 2010 bermunculan posisi Social media Manager, Social Media Expert, Social Media Strategist, Social Media Planner, dan semacamnya, yang banyak dihandle oleh para onliners, yang kadang..ternyata tugasnya hanya maintenance akun brand atau media online coverage. Tahun ini perusahaan harus lebih serius masuk ranah online dan bersiap untuk jangka panjang, bukan hanya untuk awareness, tetapi engagement dan tuntutan sales.

Perusahaan mulai menyadari bahwa Social Media Marketer sangatlah berbeda dari marketing konvensional. Tidak bisa memaksakan advertising konvensional pada channel ini, engagement dilakukan melalui customer relationship jangka panjang.

Posisi Social Media Leader sekarang lebih kompleks dan perlu dilibatkan lebih jauh dalam strategi corporate and marketing communication. Menyadari pentingnya posisi ini sebagai gate, baik itu customer conversation ataupun brand innovation, maka dibutuhkan keahlian khusus. Perusahaan/brand/agency sepatutnya memilih social media leader dengan ekspektasi bahwa ia akan mengatur strategi untuk keseluruhan brand perusahaan. Strategic, branding, big picture thinking, dan kemampuan untuk mengeksekusi adalah keharusan. Di posisi ini seharusnya dibutuhkan ahli strategi komunikasi, yang mampu memberikan atau menggali insight tentang karakter audience/market untuk mendapatkan strategi engagement yang tepat.

Pada 2010 masih banyak brand yang tidak serius masuk ke ranah online. Mereka tidak menggali insight audience social media terlebih dahulu, justru memaksakan advertising konvensional ke media online. Brand harus memahami bahwa karakter audience tiap jenis social network berbeda. Karakter pengguna facebook tidak bisa disamakan dengan karakter pengguna twitter, koprol, atau foursquare, jadi tidak dapat disamakan treatmentnya.

Lalu apakah video akan menguasai 2011? Paling tidak, user social media mulai menyadari efektifnya video untuk promo viral, misalnya kepopuleran dadakan yang terjadi pada Duo Keong Racun atau munculnya idola remaja baru seperti Justin Bieber.

Tekhnologi internet juga makin mengubah sistem pendidikan formal. Makin banyak pengajar yang menggunakan social media untuk menyampaikan pesan dan ilmunya. Waktu dan tempat sudah tidak menjadi halangan. Contohnya, mulai banyak pengajar yang menyampaikan materi kuliah atau tugas melalui akun twitter dan facebooknya. Social media sudah menjadi media untuk transformasi nilai-nilai nonformal dan penyebaran ilmu formal.

Social Media War

Rasanya akan terjadi perang social media di tahun 2011. Facebook terus-menerus melakukan perubahan. Revamp foto, group, dan event, bersiap untuk Google Me! Privacy menjadi hot issue untuk facebook, selain juga IPO. Prinsip social network untuk sharing sebanyak-banyaknya informasi, kontak, atau koneksi bersama teman-teman akan menjadi masalah bagi sebagian user. Tentu saja, bagi mereka yang sangat menjaga privacynya, ini akan jadi dilemma, karena ‘sharing’ berlawanan dengan ‘privacy’. Apapun yang mereka lakukan di facebook akan terbaca oleh temannya.

Dengan makin banyaknya aplikasi share di facebook, tentu ada pilihan bagi mereka yang sangat menjaga privacy, yaitu ‘lock akun’ atau ‘leave facebook’! Facebook share segala informasi, dan post di status updatenya, sementara Google akan membaca dan merekamnya. Jadi, bila kita tidak ingin semua orang mengetahuinya, so..jangan posting di social media!

2011 adalah tahun bagi location based service. Facebook pun menyiapkan ‘facebook Places’. Di lain sisi, foursquare mungkinlah satu jenis social network yang aneh. Kita heran kenapa foursquare bisa bertahan hanya dengan aplikasi check in. Tetapi sekaligus tanpa sadar kita terus-menerus melakukan check in saat berada di resto, mall, sekolah, kampus, kantor, bahkan..toilet! Kita berusaha menghadiri suatu acara atau curang lakukan jump, hanya untuk mengejar badge! Passwordnya: EXIST!

Saya rasa facebook menyediakan semua aplikasi yang dibutuhkan. Tetapi semua yang diciptakan tetap tidak membunuh email, tidak membunuh foto sharing (flickr), juga tidak membunuh youtube! Seperti juga Google yang masih terus-menerus gagal dengan social networknya. Hmmm…why?

So, apakah Social Commerce akan jadi trend pada 2011? Let’s see

11 thoughts on “Mana Yang Asli? Social Media atau Real Life?

  1. Pingback: Tweets that mention Mana Yang Asli? Social Media atau Real Life? | Leonisecret -- Topsy.com

  2. wahhh… mampir perdana kemari langsung dapet info menarik… artikel yang lengkap dan cerdas, jadi berpikir seribu kali neh kalo mo bikin status di fb ato ngetweet… thanx infonya 🙂

  3. Tulisannya luar biasa mba… Komplit! Biasanya orang yang bisa menulis sedetail ini adalah mereka yang smart…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *